HIMA KOSGORO 1957 Kritik Keras Musda IX KNPI Maluku Tenggara: “Jangan Jadikan Musda Ajang Cari Uang, Tinggalkan Pola Lama yang Membunuh Organisasi”
HIMA KOSGORO 1957 Kritik Keras Musda IX KNPI Maluku Tenggara: “Jangan Jadikan Musda Ajang Cari Uang, Tinggalkan Pola Lama yang Membunuh Organisasi”
Langgur Tribunnusantara-web.id — Himpunan Mahasiswa (HIMA) KOSGORO 1957 Maluku Tenggara melontarkan kritik keras terhadap pelaksanaan Musyawarah Daerah (Musda) IX KNPI Maluku Tenggara yang dinilai berjalan lamban dan jauh dari semangat pembaruan organisasi pemuda.
Ketua HIMA KOSGORO 1957, Yakomina Afitu, bersama Sekretaris Laras Domakubun, menyatakan kekecewaan karena hingga dua hari setelah pembukaan resmi oleh Bupati Maluku Tenggara, tahapan sidang Musda belum juga berjalan tanpa adanya penjelasan yang terang kepada peserta.
“Sebagai peserta Musda, kami sangat menyayangkan proses yang terjadi. Panitia maupun pengurus KNPI di tingkat kabupaten dan provinsi seolah tidak memahami tata kelola organisasi. Tidak heran jika selama ini KNPI di Maluku Tenggara mengalami mati suri karena praktik-praktik yang tidak sehat selalu dipelihara dalam setiap Musda,” tegas Yakomina.
Ia menyoroti adanya kebiasaan lama yang menurutnya menjadikan Musda bukan sebagai ruang adu gagasan, melainkan tempat bagi sebagian oknum untuk mencari keuntungan pribadi.
“Kalau tujuan datang hanya untuk mencari uang, lebih baik pergi bekerja. Jangan jadikan Musda KNPI sebagai tempat mencari keuntungan pribadi. Pola lama seperti ini harus dihentikan karena justru membuat organisasi semakin kehilangan marwah dan kepercayaan pemuda,” ujarnya.17/06/2026
Menurut HIMA KOSGORO 1957, KNPI sebagai organisasi besar yang lahir dari sejarah panjang gerakan kepemudaan nasional tidak boleh dirusak oleh sikap pragmatis dan oportunis segelintir oknum.
Mereka menegaskan bahwa Musda IX seharusnya menjadi momentum strategis untuk melahirkan gagasan baru, memperkuat ruang diskusi, dan mendorong keterlibatan pemuda dalam pembangunan Maluku Tenggara.
“Konflik antar pemuda yang sering terjadi salah satunya karena ruang pembelajaran dan diskusi sudah tidak lagi sehat. Pemuda tidak diberdayakan, minat dan bakat kurang mendapatkan perhatian, termasuk kegiatan olahraga yang minim dukungan. Organisasi kepemudaan akhirnya hanya menjadi papan nama tanpa program nyata,” katanya.
HIMA KOSGORO juga menyesalkan adanya pihak-pihak yang dinilai menghambat proses Musda, padahal Bupati Maluku Tenggara telah membuka secara resmi kegiatan tersebut dan menyatakan dukungan terhadap upaya membenahi KNPI.
Mereka mengingatkan panitia dan pengurus KNPI, baik di tingkat kabupaten maupun provinsi, untuk bertanggung jawab menjalankan tugas organisasi.
“Kalau tidak mampu menjalankan tugas organisasi, lebih baik mengundurkan diri. Masih banyak pemuda yang memiliki integritas dan kapasitas untuk membawa KNPI ke arah yang lebih baik. Jangan sampai ketidakpahaman terhadap mekanisme organisasi semakin merusak citra KNPI di mata pemuda Maluku Tenggara,” tegas Yakomina.
Sebagai penutup, HIMA KOSGORO 1957 meminta seluruh elemen pemuda menjadikan Musda IX sebagai titik balik kebangkitan KNPI, bukan sekadar agenda seremonial yang dipenuhi kepentingan sesaat.
“Belajarlah dari organisasi-organisasi lokal di tingkat kabupaten maupun ohoi yang hari ini mampu menunjukkan aktivitas dan pengabdian nyata kepada masyarakat. KNPI harus kembali menjadi rumah besar pemuda, bukan arena konflik dan kepentingan pribadi,” tutupnya.
Editor : Bruce Elang








































Komentar via Facebook