HUT KE-50 MAPURJAYA: DARI MEMORI LELUHUR MENUJU FESTIVAL BUDAYA MIMIKA TIMUR

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 20 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

HUT KE-50 MAPURJAYA: DARI MEMORI LELUHUR MENUJU FESTIVAL BUDAYA MIMIKA TIMUR

Tribun-nusantara.web.id. MIMIKA, PAPUA TENGAH — Peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-50 Mapurjaya menjadi momentum penting untuk merawat sejarah, menghidupkan kembali budaya leluhur, sekaligus memperkuat identitas masyarakat di Distrik Mimika Timur, Kabupaten Mimika, Papua Tengah.

Peringatan yang berlangsung di Kantor Distrik Mimika Timur, Rabu (19/8/2026), berlangsung meriah dengan melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan, mulai dari perlombaan, pertunjukan lagu dan tarian, penyampaian sejarah Mapurjaya, hingga pameran kerajinan lokal berupa ukiran dan anyaman.

Kepala Distrik Mimika Timur, Raymond Tanser, mengatakan HUT ke-50 Mapurjaya bukan sekadar perayaan tahunan, melainkan ruang untuk mengingat kembali perjalanan sejarah serta menjaga warisan budaya yang telah diwariskan para leluhur kepada generasi penerus.

“Antusiasme masyarakat yang hadir cukup lumayan. Ada pertandingan, lomba-lomba, kemudian ada beberapa lagu yang dibawakan masyarakat tentang alur cerita dari mulanya terbangunnya Distrik Mimika Timur, khususnya Mapurjaya,” ujar Raymond.

-TIFA, SUARA LELUHUR YANG TETAP HIDUP

Salah satu rangkaian budaya yang mendapat perhatian khusus adalah pukul tifa. Bagi masyarakat setempat, tifa bukan sekadar alat musik tradisional, tetapi memiliki nilai sejarah dan sakral yang berkaitan erat dengan hubungan masyarakat dengan leluhur.

Raymond menyebut tradisi tersebut menjadi bagian penting dalam menggambarkan perjalanan sejarah masyarakat dari generasi ke generasi.

“Yang paling sakral itu pukul tifa. Mereka punya moyang dari Tuga sampai ke Distrik Mimika Timur. Itu yang kami utamakan karena memiliki nilai sakral bagi masyarakat,” jelasnya.

Tradisi tersebut berlangsung sejak sore hingga pagi hari dan menjadi salah satu simbol kuat bahwa kebudayaan lokal masih hidup di tengah perubahan zaman.

-MASYARAKAT MENJADI PEMILIK UTAMA PERAYAAN

Pemerintah Distrik Mimika Timur juga memberikan ruang besar bagi masyarakat untuk menampilkan potensi lokal. Makanan tradisional, kerajinan tangan, ukiran, anyaman, hingga kesenian menjadi bagian dari perayaan.

Raymond menegaskan bahwa masyarakat bukan sekadar peserta, melainkan pemilik utama HUT Mapurjaya.

“Untuk HUT Mapurjaya ini, kami utamakan makanan dari masyarakat. Termasuk juga ada pemberian dana untuk tarian,” katanya.

Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat yang telah hadir dan berpartisipasi dalam rangkaian kegiatan, termasuk dukungan Bupati Mimika Johannes Rettob dan Wakil Bupati Mimika Emanuel Kemong.

“Saya beri apresiasi kepada masyarakat yang hadir mendukung kami dalam melaksanakan HUT Mapurjaya. Karena HUT ini juga untuk mereka. Hari ulang tahun ini juga mereka yang punya,” ujarnya.

-DORONG HUT MAPURJAYA MENJADI FESTIVAL BUDAYA

Lebih jauh, Raymond mengungkapkan visi agar peringatan HUT Mapurjaya tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial. Ia mendorong agar mulai 2027, HUT Mapurjaya dikembangkan menjadi festival budaya berskala lebih besar.

Pemerintah distrik, kata dia, siap berkoordinasi dengan panitia dan pemerintah daerah untuk memperkuat dukungan anggaran serta melibatkan lebih banyak unsur masyarakat.

“Kalau bisa, HUT Mapurjaya bukan hanya seperti biasa. Kami siap untuk mendukung 2027. Kami akan koordinasi dengan tim HUT Mapurjaya untuk menambah anggaran,” kata Raymond.

Festival tersebut diharapkan melibatkan sanggar seni, organisasi perangkat daerah (OPD), lembaga swadaya masyarakat (LSM), komunitas budaya, tokoh adat, pemuda, perempuan, serta masyarakat dari kampung-kampung di wilayah Mimika Timur.

-MEMBUKA PINTU WISATAWAN DUNIA

Raymond melihat pengembangan Mapurjaya sebagai festival budaya juga memiliki peluang besar untuk mendorong sektor pariwisata berbasis masyarakat.

Tradisi, musik tifa, tarian, makanan lokal, ukiran, anyaman, serta cerita sejarah masyarakat dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan domestik maupun mancanegara.

“Ini sebagai festival budaya. Kita menarik turis-turis dari mancanegara datang ke Distrik Mimika Timur untuk melihat tradisi-tradisi yang akan dibuat oleh masyarakat masing-masing kampung,” pungkasnya.

HUT ke-50 Mapurjaya dengan demikian bukan hanya tentang merayakan usia, tetapi tentang menjaga ingatan. Ketika bunyi tifa kembali bergema, sejarah leluhur kembali diceritakan, dan karya masyarakat tampil di ruang publik, Mapurjaya menunjukkan bahwa identitas budaya tidak boleh hilang ditelan zaman.

Dari Mimika Timur, suara budaya itu diharapkan terus bergema—dari kampung-kampung di Papua Tengah hingga dikenal di panggung Indonesia dan dunia.

Penulis:M.G.FAKAUBUN

Editor:HALIMA REHATTA