Intelektual Mepago Dukung Frans Pigome Pimpin Freeport: “Sosok yang Pahami Psikologi Sosial Pemilik Hak Ulayat”

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 23 Oktober 2025

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Intelektual Mepago Dukung Frans Pigome Pimpin Freeport: “Sosok yang Pahami Psikologi Sosial Pemilik Hak Ulayat”

NABIRE, Papua Tengah, TribunNusantara.web.id | Intelektual Mepago, Yusuf Kobepa, SH., MH., menilai bahwa Frans Pigome, SE., layak memimpin PT Freeport Indonesia sebagai Presiden Direktur berikutnya. Menurutnya, Frans bukan sekadar figur teknokrat, tetapi sosok yang memahami kompleksitas sosial, budaya, dan psikologi masyarakat adat di sekitar wilayah tambang Timika, Papua Tengah.

“Menjadi pemimpin di Freeport tidak hanya soal kemampuan manajerial, tetapi juga kepekaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan hak ulayat masyarakat tujuh suku,” kata Yusuf dalam pernyataannya di Nabire, Kamis, 23 Oktober 2025.

Ia menyebut, masyarakat Papua kini semakin memahami arah kebijakan Presiden yang dinilai pro-rakyat dan mendukung aspirasi warga di tanah Papua, termasuk masyarakat adat di sekitar areal konsesi pertambangan PT Freeport Indonesia.

Yusuf menegaskan, Frans Pigome, yang kini menjabat sebagai Vice President PT Freeport Indonesia, merupakan figur yang paling tepat melanjutkan kepemimpinan perusahaan raksasa tambang itu.

“Beliau tidak hanya memiliki kompetensi teknis, tetapi juga kemampuan memahami dinamika sosial di akar rumput — sesuatu yang sangat penting dalam menjaga harmoni antara perusahaan dan masyarakat adat,” ujarnya.

Menurut Yusuf, harapan besar kini tertuju kepada Presiden Republik Indonesia untuk mempertimbangkan sosok yang mampu menjembatani kepentingan nasional, dunia usaha, dan kesejahteraan masyarakat lokal.

“Kami percaya, keputusan Presiden nantinya akan berpihak kepada rakyat dan menjadi keputusan yang berkeadilan bagi masyarakat Papua,” tambahnya.

Lebih lanjut, ia menyebut bahwa kepemimpinan Frans Pigome akan menjadi simbol sinergi antara kecerdasan intelektual, empati sosial, dan kearifan lokal Papua.

“Ini bukan sekadar jabatan strategis, melainkan kesempatan untuk membuktikan bahwa putra terbaik Papua mampu memimpin dan memberi kontribusi nyata bagi bangsa,” tutup Yusuf Kobepa.
 

Sumber: Yusuf Kobepa, SH., MH.
Editor: Jeri P. Degei