JAGA IBU PERTIWI, JAGA SUMBER LAHIRNYA PARA PEMIMPINOhoi Larat Tegakkan Kembali SASI untuk Selamatkan Gunung dan Warisan Leluhur
Tribun-nusantara.web.id. OHOI LARAT, 1 September 2026 – Di tengah ancaman eksploitasi alam dan semakin derasnya kepentingan ekonomi yang mengincar tanah-tanah adat, masyarakat Ohoi Larat kembali menyuarakan sebuah pesan moral yang kuat:
“Menjaga Ibu Pertiwi yang telah melahirkan para pemimpin.”
Pesan tersebut bukan sekadar seruan menjaga hutan dan gunung. Lebih dari itu, masyarakat Ohoi Larat mengingatkan bahwa alam adalah bagian dari sejarah, identitas, sumber kehidupan, serta tempat lahirnya generasi-generasi terbaik yang pernah mengabdi kepada daerah dan bangsa.
Melalui pesan moral bertajuk:
“Dari Tanah Ini, Kita Tumbuh. Dari Hutan Ini, Kita Berdaulat.”
masyarakat kembali menegaskan komitmen untuk menjaga Gunung dan kawasan hutan Larat melalui nilai luhur SASI, sebuah warisan adat yang menjadi benteng perlindungan alam dan kehidupan.
?? GUNUNG INI BUKAN SEKADAR BATU DAN POHON
Saudara-saudara sekalian, warga Ohoi Larat.
Lihatlah gunung dan hutan di belakang kita.
Ini bukan sekadar tumpukan batu, tanah, dan pepohonan.
Ini adalah gudang rezeki.
Ini adalah sekolah kehidupan.
Ini adalah warisan leluhur yang telah menjaga kehidupan masyarakat dari generasi ke generasi.
Tanah yang terlihat tandus dan terjal ini ternyata menyimpan rahim kehidupan yang subur. Dari hasil hutan, kebun, tanah, dan keringat masyarakat yang mengalir di lereng-lerengnya, lahirlah putra-putri terbaik yang pernah mengharumkan nama daerah.
Dari tanah dan hutan ini, telah lahir tokoh-tokoh yang pernah mengemban amanah besar, di antaranya:
1 orang Bupati yang pernah memimpin daerah;
3 orang Sekretaris Daerah (Sekda) yang menggerakkan roda pemerintahan;
1 anggota DPD RI yang menyuarakan aspirasi masyarakat di tingkat nasional;
1 anggota DPRD Maluku Tenggara;
1 anggota DPRD Kota Tual yang memperjuangkan kepentingan rakyat.
Mereka bukan lahir dari ruang kosong.
Mereka adalah bagian dari perjalanan panjang sebuah tanah.
Mereka adalah buah dari pohon kehidupan yang tumbuh dari tanah leluhur.
Jika gunung ini rusak, dirampas, atau dijual, maka sesungguhnya kita sedang mempertaruhkan masa depan generasi berikutnya.
? SASI: BENTENG TERAKHIR MENJAGA KEHIDUPAN
Oleh karena itu, dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab terhadap leluhur serta anak cucu, masyarakat Ohoi Larat kembali menegakkan SASI.
SASI bukan sekadar larangan.
SASI adalah bentuk penghormatan kepada alam.
SASI adalah perjanjian moral antara manusia, leluhur, dan lingkungan.
SASI adalah pengingat bahwa manusia tidak memiliki hak untuk mengambil semuanya dari alam tanpa memikirkan kehidupan generasi berikutnya.
1?? SASI ADALAH BENTUK RASA SYUKUR
Menetapkan SASI di kawasan ini bukan untuk mengekang masyarakat.
SASI adalah cara masyarakat mengucapkan terima kasih kepada alam.
Alam telah memberikan kehidupan.
Alam telah memberikan pangan.
Alam telah memberikan air.
Alam telah memberikan hasil hutan.
Dan dari alam inilah, anak-anak Ohoi Larat tumbuh, belajar, merantau, menempuh pendidikan, hingga akhirnya menjadi pemimpin yang mengabdi kepada masyarakat dan negara.
Menjaga hutan berarti menjaga sekolah kehidupan bagi generasi berikutnya.
Siapa tahu, dari tanah ini akan kembali lahir Bupati, Sekda, anggota parlemen, tokoh nasional, bahkan pemimpin besar Indonesia di masa depan.
2?? JANGAN MENGKHIANATI WARISAN LELUHUR
Para leluhur tidak mewariskan tanah dan gunung untuk dihancurkan.
Mereka menjaga tanah ini dengan keringat, pengorbanan, dan perjuangan.
Mereka memahami bahwa tanah bukan sekadar barang dagangan.
Tanah adalah identitas.
Gunung adalah penjaga kehidupan.
Hutan adalah sumber masa depan.
Menjual tanah leluhur tanpa memikirkan generasi mendatang sama dengan mempertaruhkan sejarah demi keuntungan sesaat.
Jangan sampai kita menjadi generasi yang menikmati uang hari ini, tetapi meninggalkan kehancuran bagi anak cucu esok hari.
Mari buktikan bahwa kita adalah generasi yang tahu membalas budi kepada tanah tumpah darah sendiri.
3?? JANGAN GADAI MASA DEPAN DEMI UANG SESAAAT
Menjual tanah mungkin menghasilkan uang dengan cepat.
Tetapi uang bisa habis.
Gunung yang rusak sulit dikembalikan.
Hutan yang ditebang membutuhkan waktu puluhan bahkan ratusan tahun untuk pulih.
Sementara tanah dan gunung yang dijaga akan terus memberikan kehidupan.
Umbi-umbian.
Air.
Kayu.
Tanaman obat.
Hasil hutan.
Sumber pangan.
Dan ruang hidup bagi generasi mendatang.
Jangan tukarkan masa depan anak cucu dengan keuntungan sesaat.
Gunung ini adalah investasi jangka panjang.
Gunung ini bukan warisan untuk dijual.
Gunung ini adalah amanah untuk dijaga.
4?? INTEGRITAS PEMIMPIN DIMULAI DARI CARA MENJAGA ALAM
Ohoi Larat telah melahirkan para pemimpin.
Namun pertanyaannya:
Apakah generasi berikutnya masih akan memiliki tanah dan hutan yang sama untuk melahirkan pemimpin-pemimpin baru?
Integritas seorang pemimpin tidak hanya diuji ketika mengelola uang negara.
Integritas juga diuji melalui cara seseorang menjaga amanah.
Dan alam adalah salah satu amanah terbesar yang diberikan Tuhan kepada manusia.
Jika kita ingin melahirkan pemimpin yang jujur, berwibawa, dan peduli kepada rakyat, maka pendidikan pertama harus dimulai dari rumah dan tanah sendiri.
Mulailah dengan jujur menjaga alam.
Mulailah dengan berani menolak penghancuran lingkungan.
Mulailah dengan mengatakan:
“Gunung ini bukan untuk dijual. Gunung ini untuk kehidupan.”
? SERUAN SATU SUARA: IKRAR SASI OHOI LARAT
KAMI, PUTRA-PUTRI OHOI LARAT, BERSUMPAH DEMI ALLAH DAN DEMI TANAH LELUHUR:
1. Kami tidak akan menjual dan mengorbankan kawasan yang menjadi bagian dari kehidupan dan warisan leluhur kami.
2. Kami akan menjaga gunung ini sebagai taman kehidupan, bukan ladang kehancuran.
3. Kami akan mendukung penuh pelaksanaan SASI demi keberkahan dan masa depan generasi mendatang.
4. Kami akan menjaga alam sebagai warisan suci yang harus diteruskan kepada anak cucu.
Karena kami sadar:
“Di sinilah asal-usul kejayaan kami.”
“Di sinilah leluhur kami membangun kehidupan.”
“Di sinilah para pemimpin kami tumbuh.”
“Dan di sinilah masa depan kami dipertaruhkan.”
? PESAN UNTUK INDONESIA DAN DUNIA
Apa yang terjadi di Ohoi Larat bukan hanya persoalan sebuah gunung.
Ini adalah persoalan masa depan.
Di tengah perubahan iklim, kerusakan hutan, eksploitasi sumber daya alam, dan semakin menyempitnya ruang hidup masyarakat adat, suara dari Ohoi Larat menjadi pengingat bagi semua:
Tidak ada pembangunan yang pantas dibanggakan jika harus menghancurkan akar kehidupan masyarakat.
Dunia boleh berkembang.
Ekonomi boleh tumbuh.
Pembangunan boleh berjalan.
Tetapi alam tidak boleh dikorbankan secara membabi buta.
Karena ketika hutan terakhir hilang dan gunung terakhir rusak, manusia baru akan menyadari:
Uang tidak bisa menggantikan sumber air.
Emas tidak bisa menggantikan hutan.
Dan pembangunan tidak akan berarti tanpa tanah tempat manusia berpijak.
Ohoi Larat telah memilih untuk bersuara.
Memilih untuk menjaga.
Memilih untuk mengingat leluhur.
Memilih untuk mempertahankan kehidupan.
?? JAGA GUNUNG, JAGA HUTAN.
? JAGA ADAT, JAGA IDENTITAS.
??????? JAGA TANAH, JAGA MASA DEPAN ANAK CUCU.
?? MENJAGA IBU PERTIWI YANG TELAH MELAHIRKAN PARA PEMIMPIN.
Ohoi Larat, 1 September 2026
Oleh: Ahmad Rahayaan/Rahawarin








































Komentar via Facebook