Jeffry Rahawarin: Jejak Panjang Prajurit Maluku dari Lorong Kudamati hingga Kursi Strategis BNPP

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 15 November 2025

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Jeffry Rahawarin: Jejak Panjang Prajurit Maluku dari Lorong Kudamati hingga Kursi Strategis BNPP

Jakarta, TribunNusantara.web.id | Letnan Jenderal TNI (Purn.) Jeffry Apoly Rahawarin barangkali satu dari sedikit putra Maluku yang menjejakkan karier hingga pucuk tertinggi struktur pertahanan negara. Lahir di Ambon pada 21 Januari 1964, Jeffry tumbuh dari lingkungan sederhana di Kudamati sebelum kemudian berkeliling nusantara sebagai prajurit infanteri.

Kini, setelah purna tugas dari kemiliteran, ia kembali mengabdi dalam peran strategis sebagai Deputi Bidang Pengelolaan Infrastruktur Kawasan Perbatasan Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP).

Karier Jeffry tak pernah melesat tiba-tiba. Ia melewati semua jenjang dengan ritme khas seorang prajurit lapangan. Pendidikan awal ditempuh di SD Negeri 8 Kudamati, berlanjut ke SMP Negeri 4 Ambon dan kemudian SMA Negeri 1 Ambon.

Selepas bangku SMA, Jeffry sempat mengenyam kehidupan kampus di Universitas Pattimura, mengambil jurusan Matematika. Namun takdir membawanya ke lorong lain: Akademi Militer Magelang. Ia diterima sebagai taruna angkatan 1988B.

Sejak itulah jalan militernya terbentang panjang. Usai menamatkan pendidikan dasar kecabangan infanteri, Jeffry ditempatkan di berbagai satuan Kodam Jaya.

Ia pernah memimpin Kompi B Yonif 201/Jaya Yudha, menjadi Danramil di Jakarta Timur, hingga bertugas dalam lingkup intelijen di Nusa Tenggara. Dari pangkat kapten hingga kolonel, kariernya ditempa terutama dalam dunia intelijen dan operasi teritorial.

Reputasinya di bidang intelijen mengantar Jeffry menempati sejumlah posisi strategis. Ia pernah menjabat Kepala Seksi Intel Korem 161/Wira Sakti, memimpin satuan pendidikan perwira di Pusdikintel, hingga menjadi Dandim 0405/Lahat. Di level markas besar, Jeffry dipercaya menjadi Wakil Asisten hingga Asisten Intelijen Kasdam II/Sriwijaya.

Pada 2012, ia mulai masuk dalam lingkaran kebijakan pertahanan di Kementerian Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan. Selama enam tahun, Jeffry mengawal koordinasi pemilu legislatif hingga presiden.

Ia kemudian didorong ke posisi strategis sebagai Asisten Deputi Koordinasi Intelijen Pertahanan, serta Asisten Deputi Koordinasi Doktrin dan Strategi Pertahanan.

Puncak karier militernya datang pada 2021. Jeffry diangkat sebagai Pangdam XVI/Pattimura, kembali ke tanah kelahirannya sebagai komandan tertinggi.

Tak lama berselang, ia dipercaya menjadi Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III—komando besar yang mengatur matra darat, laut, dan udara di kawasan timur Indonesia.

Selepas purnatugas pada 2022, Jeffry belum berhenti mengabdi. Pemerintah menempatkannya sebagai Deputi Pengelolaan Infrastruktur Kawasan Perbatasan BNPP. Posisi ini menuntut ketelitian seorang perwira intelijen sekaligus visi seorang pemimpin kawasan.

Di balik perjalanan panjang itu, Jeffry tetap dikenal sebagai anak Maluku yang hangat. Putra pasangan Kei dan Maluku Tengah ini menikah dengan Arni Sukarni dan dikaruniai tiga anak.

Dari lingkungan kecil di Ambon, ia tumbuh menjadi prajurit yang jejaknya menembus batas kepulauan.

Kini, di usia lebih dari enam dasawarsa, Jeffry Rahawarin berada di posisi yang tak pernah ia bayangkan saat masih menapaki jembatan kecil Kudamati.

Namun satu hal tetap ia pegang: disiplin, integritas, dan kerja senyap—prinsip yang telah menuntunnya dari ruang kelas kecil di Ambon hingga ruang-ruang strategis negara.
 

(BR)