Jerat Kekerasan di Lorong Citra: Menyelusuri Dugaan Penganiayaan Brutal yang Mengguncang Kota Tual
Tual, TribunNusantara.web.id | Di Kota Tual, sebuah dapur di Lorong Citra yang sehari-hari hanya mengeluarkan aroma lauk siang, kini berubah menjadi kata kunci dari sebuah dugaan kekerasan yang menyeret banyak nama dan mengguncang citra sebuah yayasan.
Pada Minggu 26 Oktober 2025, staf akuntan N. C. G. melapor menjadi korban penganiayaan berat di lingkungan kerja Yayasan Pelangi Maluku. Laporan itu tidak hanya berisi keluhan fisik, tetapi juga rangkaian dugaan tindakan brutal yang disebut terjadi di ruang tertutup dan dihadiri banyak saksi yang memilih diam atau tak mampu berbuat banyak.
TribunNusantara biasanya memulai dengan pertanyaan yang paling sederhana: apa yang sebenarnya terjadi?
Percikan dari Pagar Berkunci
Dalam keterangan kepada penyidik, korban mengatakan semua bermula dari persoalan sepele: sepasang sepatu untuk mengikuti ibadah. Pagar dapur terkunci. Kunci gembok disebut berada pada sopir mitra yayasan. Percakapan untuk meminjam kunci berubah menjadi adu pesan bernada kasar.
Salah satu staf yang ditemui wartawan secara off the record menyebut, “Perkataannya naik cepat sekali. Dari tanya kunci jadi saling sindir.”
Dari sini, situasi mulai bergeser. Sumber internal menyampaikan bahwa seorang staf gizi lalu menghubungi rekan lain sambil melontarkan ancaman yang direkam oleh beberapa ponsel di lokasi. Rekaman itu kini diperiksa penyidik.
Ibadah yang Berakhir Jadi Undangan Maut
Usai misa, korban dipanggil ke dapur. Menurut versinya, ajakan itu disebut sebagai upaya “menyelesaikan masalah.” Beberapa saksi mengatakan bahwa panggilan tersebut terdengar tenang, bahkan biasa saja.
Namun di dalam kamar dapur, menurut laporan korban, keadaan berubah drastis. Ia mengaku langsung diserang. “Telinga saya seperti ditarik lalu dipukul, rasanya panas sekali,” katanya dalam BAP yang dibacakan ulang oleh penyidik kepada wartawan.
Seorang staf yang mengaku melihat bagian awal pertengkaran mengatakan mendengar suara bantingan benda keras. “Ada suara orang berteriak soal pisau,” ujarnya. Ia tidak berani mendekat.
Jejak Kekerasan yang Bertumpuk
Dalam upaya melarikan diri ke mess staf, korban mengaku membanting gelas untuk menarik perhatian. Dari sini, kekerasan disebut meningkat. Seorang perempuan yang diduga bagian dari kelompok pelaku, menurut korban, mengambil pecahan gelas untuk menusuknya. Upaya itu gagal setelah seorang staf ahli gizi menarik pelaku dari belakang.
Namun usaha meloloskan diri tidak berlangsung mulus. Dalam rekonstruksi awal yang dilakukan penyidik di lokasi, terungkap adanya benturan keras di dinding kamar mess. Hasil pemeriksaan dokter menunjukkan luka robek di telinga kiri, memar di dahi, dan dugaan perdarahan dalam telinga.
CCTV, Diam yang Panjang, dan Lubang yang Menganga
Rekaman CCTV menjadi bukti yang paling krusial saat ini. Menurut informasi yang dikonfirmasi polisi, kamera dapur merekam sebagian kejadian, meski sudut pengambilan tidak menampilkan seluruh ruangan. Rekaman itu telah diamankan Satreskrim Polres Tual.
Polisi sudah memeriksa sejumlah saksi, termasuk pegawai yang berada di lokasi selama insiden. Seorang penyidik mengatakan, “Ada banyak versi. Kami sedang menyilangkan keterangan.”
Sementara itu, Yayasan Pelangi Maluku memilih diam. Upaya media menghubungi mereka, baik lewat telepon maupun pesan singkat, tak mendapat tanggapan. Diam ini justru semakin memancing tanya.
Beberapa mantan pegawai yayasan yang ditemui secara terpisah menyebut bahwa konflik internal bukan hal baru di lingkungan tersebut. “Sudah lama ada gesekan,” kata seorang mantan karyawan yang bekerja hingga 2023. Ia menolak menjelaskan lebih jauh.
Desakan Publik Menggunung
Kasus ini kini menggulung perhatian publik Kota Tual. Sejumlah tokoh masyarakat dan serikat pekerja lokal meminta Pemerintah Kota Tual dan DPRD mengambil langkah tegas, termasuk mempertimbangkan penghentian sementara aktivitas yayasan sampai penyelidikan tuntas.
“Lingkungan kerja tidak boleh dibiarkan menjadi ruang predator bagi pegawai,” kata seorang pengacara publik di Tual.
Polisi belum menetapkan tersangka. Penyidik mengatakan masih menunggu hasil visum lanjutan dan analisis CCTV untuk menentukan konstruksi pidana secara utuh.
Di tengah semua ini, korban terus menjalani perawatan telinga. Dalam percakapan singkat dengan wartawan, ia berkata, “Yang paling saya bingungkan, kenapa semua ini terjadi untuk hal yang tidak penting?”
Pertanyaan itu masih menggantung di udara Kota Tual. Dan sampai penyidikan selesai, dapur kecil di Lorong Citra itu akan tetap menjadi ruang yang dipenuhi tanda tanya, bisik-bisik samar, dan jejak kekerasan yang belum menemukan ujungnya.
(BR)








































Komentar via Facebook