Juara I MTQ Papua Tengah Tak Berangkat Nasional, Iskandar Desak LPTQ Buka Dasar Keputusan

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 09 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Juara I MTQ Papua Tengah Tak Berangkat Nasional, Iskandar Desak LPTQ Buka Dasar Keputusan

Juara I MTQ Papua Tengah Tak Berangkat Nasional, Iskandar Desak LPTQ Buka Dasar Keputusan

Alasan Anggaran dan Pendaftaran Disebut Berubah, Iskandar Minta Klarifikasi Tertulis dan Transparansi Penetapan Kafilah

MIMIKA, PAPUA TENGAH Tribunnusantara-web.id  — Polemik keberangkatan peserta Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) tingkat nasional mencuat di Kabupaten Mimika. Iskandar, peraih Juara I MTQ tingkat Provinsi Papua Tengah, mempertanyakan keputusan yang membuat dirinya tidak didaftarkan atau tidak diutus melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional.

Iskandar meminta LPTQ Kabupaten Mimika dan pihak terkait di tingkat Provinsi Papua Tengah memberikan penjelasan resmi mengenai dasar keputusan tersebut. Menurutnya, sebagai peraih juara pertama tingkat provinsi, dirinya berhak memperoleh informasi yang jelas mengenai status dan proses pencalonannya sebagai peserta tingkat nasional.09/08/2026

Persoalan tersebut, menurut keterangan Iskandar, bermula pada 4 Juli, ketika dirinya menerima telepon dari Ketua LPTQ Kabupaten Mimika. Dalam komunikasi itu, ia mengaku mendapat penjelasan bahwa dirinya tidak diberangkatkan ke tingkat nasional karena persoalan anggaran.

Ia juga mengaku mendapat informasi bahwa pihak provinsi tidak memiliki anggaran untuk memberangkatkan peserta dari luar daerah.

Namun, Iskandar kemudian mempertanyakan kondisi tersebut karena menurut informasi yang diterimanya, terdapat peserta lain yang tetap dapat berangkat dengan biaya yang ditanggung oleh daerah masing-masing.

Perbedaan kondisi tersebut membuat Iskandar mempertanyakan dasar dan mekanisme penetapan peserta yang diberangkatkan ke tingkat nasional.

Alasan Berubah, Iskandar Minta Kejelasan

Tidak berhenti di sana, Iskandar mengaku pada 5 Juli kembali berkomunikasi dengan pihak terkait. Dalam komunikasi tersebut, menurut pengakuannya, alasan yang disampaikan kepadanya berubah.

Jika sebelumnya persoalan disebut berkaitan dengan anggaran, kali ini Iskandar mengaku mendapat penjelasan bahwa persoalannya adalah pendaftaran peserta yang telah ditutup pada tanggal 31.

Perubahan penjelasan inilah yang kemudian mendorong Iskandar meminta klarifikasi secara resmi.

Ia mempertanyakan, apabila batas akhir pendaftaran memang telah ditentukan, mengapa informasi tersebut tidak disampaikan sejak awal kepada dirinya sebagai Juara I MTQ tingkat Provinsi Papua Tengah?

Bagi Iskandar, batas waktu pendaftaran merupakan informasi mendasar yang seharusnya diketahui oleh peserta, terutama mereka yang telah meraih posisi juara dan berpeluang membawa nama daerah ke tingkat nasional.

Siap Biayai Sendiri, Namun Tetap Tak Mendapat Kepastian

Iskandar mengaku sempat berusaha mencari solusi atas persoalan pembiayaan. Bahkan, ia menyatakan siap menanggung sendiri biaya keberangkatannya.

 “Bismillah, saya akan berangkat dengan biaya sendiri.”

Namun, menurut pengakuannya, upaya tersebut belum memberikan jalan keluar karena kemudian muncul alasan lain terkait batas waktu pendaftaran.

Situasi tersebut membuat Iskandar mempertanyakan apakah persoalan sebenarnya berada pada keterbatasan anggaran, mekanisme pendaftaran, atau terdapat pertimbangan lain dalam penetapan peserta.

Menurutnya, hal tersebut semestinya dapat dijelaskan secara terbuka agar tidak menimbulkan pertanyaan dan persepsi di tengah masyarakat.

Minta Surat Resmi, Bukan Sekadar Penjelasan Lisan

Iskandar mengatakan, pada 7 Juli dirinya telah meminta Ketua LPTQ Kabupaten Mimika memberikan surat resmi mengenai alasan dirinya tidak didaftarkan atau tidak diutus ke tingkat nasional.

Namun, menurut pengakuannya, surat yang diminta tersebut belum diterima.

Ia juga mengaku nomor teleponnya kemudian diblokir. Keterangan tersebut merupakan pengakuan Iskandar dan masih memerlukan konfirmasi dari pihak LPTQ Kabupaten Mimika.

Iskandar menilai persoalan seperti ini seharusnya tidak diselesaikan melalui komunikasi yang tertutup.

  “Saya tidak bermaksud menghina, menjatuhkan, ataupun merendahkan pihak mana pun. Saya hanya ingin mendapatkan penjelasan atas hak saya sebagai Juara I MTQ Provinsi Papua Tengah.”

Bukan Sekadar Soal Berangkat ke Tingkat Nasional

Iskandar menegaskan, persoalan yang disampaikannya bukan semata-mata mengenai kesempatan untuk berangkat ke tingkat nasional.

Menurutnya, ada kehormatan, perjuangan, kepercayaan, dan tanggung jawab daerah yang melekat ketika seorang peserta berhasil menjadi juara dan diharapkan melanjutkan perjuangan ke tingkat berikutnya.

Ia mengaku bersama peserta lainnya telah mengikuti rangkaian kegiatan MTQ selama kurang lebih 17 hari dengan meninggalkan keluarga, orang tua, istri, anak-anak, serta aktivitas pribadi.

Karena berhasil meraih Juara I tingkat Provinsi Papua Tengah, keluarga dan masyarakat di kampung halamannya di Bima, menurut Iskandar, turut menaruh harapan agar dirinya dapat melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional.

Karena itu, ketidakjelasan mengenai statusnya dinilai bukan persoalan sederhana.

Lima Hal yang Diminta Dibuka ke Publik

Untuk mendapatkan kepastian, Iskandar meminta LPTQ Kabupaten Mimika memberikan klarifikasi tertulis terkait lima hal penting:

1. Dasar keputusan dirinya tidak didaftarkan atau tidak diutus sebagai Juara I MTQ Provinsi Papua Tengah ke tingkat nasional.

2. Kepastian batas akhir pendaftaran, termasuk dasar informasi bahwa pendaftaran telah ditutup pada tanggal 31.

3. Ada atau tidaknya surat atau keputusan resmi dari LPTQ Provinsi Papua Tengah yang menjadi dasar tidak diutusnya dirinya.

4. Mekanisme dan dasar penetapan peserta yang diberangkatkan ke tingkat nasional.

5. Kejelasan status Iskandar sebagai Juara I MTQ Provinsi Papua Tengah, termasuk status data dirinya sebagai peserta atau kafilah Kabupaten Mimika.

Ia juga meminta agar status datanya sebagai peserta atau kafilah diperjelas dan, apabila diperlukan, diperbarui sesuai mekanisme yang berlaku.

Publik Menunggu Klarifikasi LPTQ

Polemik ini kini berada pada titik yang membutuhkan klarifikasi resmi dan transparan dari LPTQ Kabupaten Mimika maupun pihak terkait di tingkat Provinsi Papua Tengah.

Pasalnya, terdapat dua persoalan yang perlu dijelaskan secara terang: apakah kendalanya berkaitan dengan anggaran atau karena persoalan pendaftaran, serta bagaimana mekanisme penetapan peserta yang akhirnya diberangkatkan ke tingkat nasional.

Klarifikasi tersebut penting agar persoalan tidak berkembang menjadi polemik berkepanjangan maupun menimbulkan persepsi adanya ketidakjelasan dalam proses penetapan kafilah.

MTQ bukan sekadar perlombaan. Ajang tersebut membawa nama daerah sekaligus menjadi bagian dari pembinaan generasi Qur’ani. Karena itu, proses seleksi, penetapan, pendaftaran, pembiayaan, hingga keberangkatan peserta semestinya berjalan dengan aturan yang jelas, transparan, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Iskandar menegaskan dirinya tidak ingin persoalan tersebut menjadi konflik pribadi.

  “Saya menyampaikan ini dengan hati yang kecewa, tetapi tetap dengan niat untuk mendapatkan kejelasan, transparansi, dan penyelesaian yang baik.”

Kini pertanyaan publik sederhana namun penting: apa dasar resmi sehingga Juara I MTQ tingkat Provinsi Papua Tengah tersebut tidak melanjutkan perjuangan ke tingkat nasional?

Apakah benar karena anggaran, keterlambatan pendaftaran, atau terdapat ketentuan lain?

LPTQ Kabupaten Mimika dan LPTQ Provinsi Papua Tengah perlu memberikan jawaban resmi agar persoalan ini tidak berhenti pada informasi sepihak.

Penulis: Gunawan F

Editor: Bruce Elang