Kapal Bermuatan BBM Meledak di Ketapang, 6 ABK Jadi Korban

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 03 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Kapal Bermuatan BBM Meledak di Ketapang, 6 ABK Jadi Korban

Kapal Bermuatan BBM Meledak di Ketapang, 6 ABK Jadi Korban

Ketapang Tribunnusantara-web.id — Ledakan keras mengguncang kawasan permukiman warga di Desa Sukabangun Dalam, Kecamatan Delta Pawan, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, Minggu (2/5/2026) malam.      

Sebuah kapal kayu yang diduga mengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) dalam jumlah besar terbakar hebat setelah meledak saat bersandar.

Peristiwa terjadi sekitar pukul 22.30 WIB. Warga yang berada di sekitar lokasi mengaku mendengar suara dentuman keras sebelum api membumbung tinggi dari badan kapal.

“Awalnya terdengar ledakan, lalu api langsung besar,” ujar salah satu warga di lokasi.

Kapal tersebut diketahui membawa campuran BBM jenis Pertalite, solar, dan Pertamax, serta muatan lain seperti tabung oksigen berukuran besar dan bahan kebutuhan pokok.       Seluruh barang itu diduga akan dikirim ke kawasan industri di Pulau Penebang, wilayah yang saat ini dikenal aktif dengan kegiatan pertambangan dan kebutuhan bahan bakar tinggi.

Api dengan cepat melahap kapal. Bahkan, kobaran sempat menjalar di permukaan air sungai akibat tumpahan BBM, memperparah situasi dan memicu kepanikan warga.

“Api cepat menyebar karena ada minyak. Bahkan sempat menjalar di atas air,” kata warga lainnya.

Informasi di lapangan menyebutkan kapal tersebut dulunya merupakan kapal nelayan, namun telah dialihfungsikan menjadi kapal pengangkut barang—termasuk BBM dalam jumlah besar yang rawan risiko.

Dalam insiden ini, terdapat enam anak buah kapal (ABK). Satu orang dilaporkan selamat tanpa luka serius, sementara empat lainnya mengalami luka bakar dan telah dilarikan ke rumah sakit terdekat. Satu korban lainnya masih dalam pendataan.

Seorang warga bernama Apek turut menjadi korban saat mencoba membantu proses evakuasi. Ia mengalami luka di tangan saat memotong tali kapal untuk mencegah api meluas ke area sekitar.

“Kami panik. Saya ikut bantu, tapi tangan saya luka saat memotong tali kapal,” ungkapnya.

Hingga kini, pihak kepolisian belum memberikan keterangan resmi terkait penyebab pasti ledakan maupun kepastian jumlah korban. Namun, kuat dugaan insiden ini berkaitan dengan pengangkutan BBM tanpa standar keamanan memadai.

Kasus ini kembali menyoroti praktik pengangkutan bahan bakar menggunakan kapal tradisional yang rawan kecelakaan—terutama di wilayah dengan aktivitas industri tinggi seperti Pulau Penebang.

Investigasi masih berlangsung.

"Agustami"