Kapolda Jateng Bongkar Cara Lama Polisi: Era Digital Tak Bisa Dilayani dengan Mental Jadul

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 11 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Kapolda Jateng Bongkar Cara Lama Polisi: Era Digital Tak Bisa Dilayani dengan Mental Jadul

Kapolda Jateng Bongkar Cara Lama Polisi: Era Digital Tak Bisa Dilayani dengan Mental Jadul

SEMARANG Tribunnusantara-web.id Ribut Hari Wibowo melempar pesan keras kepada jajarannya: polisi yang gagal beradaptasi dengan generasi digital akan ditinggalkan zaman dan kehilangan kepercayaan publik.11/05/2026

Pesan itu disampaikan saat Polda Jawa Tengah menggelar apel penghargaan bagi personel berprestasi dan mitra eksternal, Senin (11/5/2026). Namun di balik seremoni penghargaan, terselip kritik tajam terhadap pola pelayanan kepolisian yang dinilai tak lagi relevan menghadapi masyarakat modern.

“Jangan menerapkan pola pelayanan lama terhadap generasi masa kini,” tegas Kapolda di hadapan peserta apel.

Pernyataan itu bukan sekadar slogan. Kapolda menegaskan bahwa hampir 70 persen masyarakat saat ini adalah generasi milenial, Gen-Z, hingga Gen-Alpha—generasi digital yang menuntut pelayanan cepat, cerdas, transparan, dan manusiawi. Polisi yang masih bertahan dengan cara lama dianggap hanya akan memperlebar jurang ketidakpercayaan masyarakat terhadap institusi.

Dalam momentum itu, Kapolda memberi penghargaan kepada sejumlah personel yang dinilai mampu keluar dari pola lama dan mulai memasuki ruang pelayanan berbasis teknologi. Di antaranya Heryubowo bersama anggota lainnya serta Doohan Octa Prasetya yang menjadi trainer program Artificial Intelligence (AI) untuk pelajar SMA di Jawa Tengah.

Penghargaan juga diberikan kepada Saiful Anwar atas capaian kinerja anggaran terbaik, serta Irham Rhozan Al Fiqri bersama timnya yang berhasil membongkar kasus penggelapan jabatan senilai Rp10 miliar.

Tak hanya internal Polri, Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Tengah, ASEAN Foundation dan Mafindo juga diganjar penghargaan karena ikut mendorong pendidikan AI bagi generasi muda.

Namun pidato Kapolda justru lebih tajam ketika menyinggung masa depan institusi Polri. Ia mengingatkan bahwa ancaman terbesar kepolisian hari ini bukan hanya kriminalitas, tetapi kegagalan aparat membaca perubahan zaman.

“Satu-satunya cara mempertahankan institusi adalah membaca dan berlatih,” katanya.

Pernyataan itu seolah menjadi tamparan terbuka bagi aparat yang masih nyaman dengan budaya kerja stagnan, birokratis, dan anti perubahan.

Kapolda bahkan mengungkapkan bahwa Polda Jateng kini mulai masuk ke ruang yang selama ini jauh dari citra polisi konvensional: E-Sport. Sebanyak 30 ribu talenta pemain E-Sport telah dijaring untuk dipersiapkan bersaing di level nasional hingga internasional. Langkah ini disebut sebagai strategi merebut hati generasi muda dengan pendekatan yang lebih adaptif dan positif.

Di sisi lain, Kapolda juga memperingatkan anggotanya agar tidak menjadi beban institusi. Ia menegaskan tidak akan mentolerir pelanggaran yang merusak marwah Polri di mata publik.

“Sabuk kamtibmas dan pagar mangkok jauh lebih kuat daripada pagar besi di mako kita,” tandasnya.

Kalimat itu menjadi penegasan bahwa kekuatan polisi bukan terletak pada tembok markas atau atribut kekuasaan, melainkan pada kepercayaan masyarakat. Dan di era digital hari ini, kepercayaan publik bisa runtuh hanya dalam hitungan detik ketika aparat gagal berubah.

(*****)