Kapolda Maluku Pimpin Ikrar Damai Warga Fidatan, Bentrok Berakhir dengan Sumpah Bersama
Tual, TribunNusantara.web.id | Bentrok antarwarga di Fidatan, Kecamatan Dullah Utara, Kota Tual, akhirnya berujung pada kesepakatan damai. Perdamaian itu dimediasi langsung oleh Irfan S. P. Marpaung dalam kunjungan kerjanya ke wilayah tersebut pada 25–26 Februari 2026.
Setibanya di Tual, Kapolda langsung meninjau lokasi bentrokan di kawasan Fidatan Kampung Lama dan Fidatan Kampung Baru. Ia juga menyempatkan diri menjenguk warga yang menjadi korban dan dirawat di rumah sakit, serta berkoordinasi dengan jajaran Polres Tual.
Langkah persuasif kemudian ditempuh. Pada malam hari, Kapolda bersama Wakil Wali Kota Tual, Amir Rumra, serta unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) menggelar sahur bersama warga di Balai Desa Fidatan. Forum itu menjadi ruang dialog terbuka antara aparat dan masyarakat untuk mencari jalan keluar yang bermartabat.
Ikrar dan Penyerahan Senjata
Hasil dialog mengerucut pada kesepakatan damai yang ditegaskan melalui pembacaan ikrar pernyataan pemuda serta sumpah bersama di Kantor Balai Desa Fidatan, Kamis, 26 Februari 2026. Dalam momen tersebut, sejumlah warga menyerahkan senjata tajam dan bahan berbahaya yang sebelumnya digunakan dalam bentrokan.
Acara itu turut dihadiri pimpinan organisasi perangkat daerah Pemerintah Kota Tual, perangkat Desa Fidatan, Badan Saniri Ohoi, tokoh adat, tokoh agama, tokoh perempuan, hingga tokoh pemuda. Kehadiran lintas elemen tersebut mempertegas bahwa penyelesaian konflik bukan semata urusan aparat, melainkan tanggung jawab kolektif.
Pesan Damai dan Tanggung Jawab Bersama
Dalam sambutannya, Kapolda menekankan pentingnya penyelesaian masalah secara damai, terlebih jika melibatkan warga yang masih memiliki hubungan kekerabatan dan bertetangga.
“Ada permasalahan di lingkungan kita, mari kita selesaikan secara baik. Apalagi jika itu melibatkan saudara dan tetangga sendiri. Kedamaian adalah cerminan budaya kita,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terprovokasi. Menurutnya, bentrokan bukan hanya merugikan pihak yang terlibat, tetapi juga berdampak pada citra daerah.
“Tual adalah kota yang indah, alamnya luar biasa. Jangan sampai tindakan yang mengganggu keamanan membuat orang enggan datang. Dampaknya bisa dirasakan Maluku secara keseluruhan,” kata jenderal bintang dua itu.
Kapolda menutup pertemuan dengan ajakan menjaga keamanan sebagai fondasi pembangunan. “Mari kita cintai negeri kita, cintai kota kita. Keamanan adalah tanggung jawab bersama.”
Perdamaian di Fidatan menjadi penanda bahwa pendekatan dialogis dan kehadiran negara di tengah masyarakat masih menjadi kunci meredam konflik horizontal. Namun, sebagaimana diingatkan sejumlah tokoh masyarakat, pekerjaan menjaga harmoni sosial tetap memerlukan komitmen berkelanjutan—terutama dalam membina generasi muda sebagai penyangga masa depan daerah.
(Evav)








































Komentar via Facebook