Ketua Umum DePA-RI Bicara di Mabes TNI Angkatan Udara, Dorong Perwira Kuasai Negosiasi hingga Manajemen Konflik

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 23 April 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Ketua Umum DePA-RI Bicara di Mabes TNI Angkatan Udara, Dorong Perwira Kuasai Negosiasi hingga Manajemen Konflik

Ketua Umum DePA-RI Bicara di Mabes TNI Angkatan Udara, Dorong Perwira Kuasai Negosiasi hingga Manajemen Konflik

Jakarta, Tribunnusantara-web.id Tahir Musa Luthfi Yazid menegaskan pentingnya kecerdasan komunikasi dan kemampuan resolusi konflik bagi perwira militer dalam menghadapi kompleksitas tantangan modern.            Hal itu disampaikannya saat memenuhi undangan sebagai pembicara di Markas Besar TNI Angkatan Udara, Kamis (23/4/2026).

Dalam forum peningkatan kapasitas yang diikuti ratusan perwira dari seluruh Indonesia—secara daring dan luring—Luthfi membedah teknik negosiasi, komunikasi strategis, serta mediasi sebagai keterampilan kunci yang tak kalah penting dari kekuatan militer konvensional.

“Keunggulan militer tidak lagi semata ditentukan oleh alutsista, tetapi oleh kemampuan berpikir, berkomunikasi, dan mengambil keputusan secara tepat,” tegasnya.

Ia mengingatkan bahwa perwira adalah “the man behind the gun”, sehingga kualitas keputusan menjadi faktor krusial yang menentukan arah dan dampak tindakan di lapangan.       Dalam konteks ini, komunikasi yang efektif dinilai sebagai instrumen strategis untuk memengaruhi, meredam konflik, sekaligus membangun legitimasi.

Luthfi juga menyoroti pentingnya memahami berbagai spektrum konflik—mulai dari konflik kepentingan, struktural, hingga konflik nilai yang dinilainya paling kompleks. Mengutip pemikiran Christopher W. Moore, ia menyebut konflik nilai kerap berakar pada keyakinan, ideologi, hingga budaya, sehingga membutuhkan pendekatan yang lebih cermat dan sensitif.

“Kesalahan membaca data dan informasi sering kali menjadi pemicu konflik yang sebenarnya bisa dihindari,” ujarnya.

Dalam paparannya, ia turut mendorong para perwira untuk meneladani figur-figur militer intelektual Indonesia seperti Soedirman, Abdul Haris Nasution, Tahi Bonar Simatupang, Soemitro, Saidiman Suryohadiprojo, hingga Try Sutrisno.

Menurutnya, para tokoh tersebut tidak hanya unggul secara militer, tetapi juga memiliki kedalaman intelektual dan integritas dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan.

Lebih jauh, Luthfi mengingatkan bahwa percepatan perubahan global, termasuk apa yang ia sebut sebagai “era the rule of algorithm”, menuntut perwira untuk terus beradaptasi dan tidak terjebak dalam pola pikir lama.

“Perwira tidak boleh stagnan. Mereka harus adaptif, kritis, dan tetap berpijak pada tujuan besar: mewujudkan keadilan sosial,” katanya.

Diketahui, Luthfi memiliki rekam jejak panjang di bidang resolusi sengketa internasional, termasuk kolaborasinya dengan National Institute for Dispute Resolution serta pengalaman akademik di Gakushuin University.

Kehadirannya di Mabes TNI AU menandai semakin terbukanya ruang kolaborasi antara kalangan sipil dan militer dalam memperkuat kapasitas sumber daya manusia, khususnya dalam menghadapi dinamika konflik yang kian kompleks di era modern.

"Elang"