Kisah Haru Masa Kecil Wali Kota Ambon: Dari Jualan Es, Berobor Bambu, Kini Jadi Pemimpin Daerah

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 08 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Kisah Haru Masa Kecil Wali Kota Ambon: Dari Jualan Es, Berobor Bambu, Kini Jadi Pemimpin Daerah

AMBON,Tribun-nusantara.web.id. Suasana aula SMP Negeri 4 Kota Ambon mendadak hening lalu riuh oleh tepuk tangan ratusan siswa kelas VII pada Kamis (8/9/2026). Di tengah pelaksanaan kegiatan kokurikuler 7 KAIH (Gema Belajar) bertajuk “Aku dan Prestasiku”, Wali Kota Ambon, Drs. Bodewin M. Wattimena, M.Si., hadir bukan sekadar memberikan sambutan formal, melainkan membagikan kisah masa kecilnya yang penuh air mata dan perjuangan keras.

Di hadapan para siswa, orang nomor satu di Kota Ambon ini membongkar memori masa lalunya yang tumbuh dalam kemiskinan ekstrem di Kampung Siwang, Negeri Nusaniwe. Siapa sangka, sosok yang kini memimpin jalannya roda pemerintahan Kota Ambon, dahulunya adalah seorang anak tukang bangunan dan ibu pekerja serabutan yang tinggal di rumah berdinding kulit bambu.

"Saya lahir di keluarga yang sangat miskin. Waktu sekolah dasar di SD Kristen Seri, saya harus berjalan kaki berkilo-kilometer sejak pukul 04.30 subuh demi menuntut ilmu. Karena jalanan masih gelap gulita, saya terpaksa menggunakan obor bambu sebagai penerang jalan," kenang Bodewin dengan nada haru namun sarat ketegasan.

Perjalanan hidup Bodewin untuk meraih pendidikan tidak pernah berjalan mulus. Demi membantu ekonomi keluarga dan bertahan sekolah, ia pernah melakoni pekerjaan kasar sebagai penjual es keliling hingga menjajakan kue di lingkungan perusahaan. Tubuhnya yang kala itu jauh lebih kecil dari teman-teman sebayanya tidak menciutkan nyali dan mentalnya.

Titik balik hidupnya dimulai saat ia duduk di bangku kelas 5 SD. Sang Kepala Sekolah, Pak Oetuar, melihat kegigihan luar biasa dari anak miskin tersebut. Meskipun bukan juara kelas, Bodewin diberikan hadiah buku dan pena sebagai apresiasi atas semangatnya yang pantang menyerah.

Peristiwa di usia 11 tahun itulah yang menjadi fondasi moral dan pegangan hidupnya hingga hari ini.

Tuhan memiliki rencana lain. Selepas SMA, Bodewin yang awalnya berniat langsung kerja demi mencari sesuap nasi justru dituntun mengikuti seleksi Sekolah Tinggi Pemerintahan Dalam Negeri (STPDN). Lewat persaingan yang sangat ketat, ia berhasil menjadi satu dari 35 orang yang lolos dari wilayahnya.

Tempaan hidup sejak kecil itulah yang membentuk karakter dan mental petarung hingga akhirnya dipercaya mengemban amanah sebagai Wali Kota Ambon

Di hadapan generasi muda SMPN 4 Ambon, Bodewin memberikan pesan moral yang sangat tajam dan mendalam mengenai adab dan pembentukan karakter:

-Hormati Orang Tua: "Kalau kalian ingin kelak menjadi orang yang hebat dan sukses, dari dalam rumah jangan pernah melawan orang tua. Tidak ada orang tua yang menginginkan anaknya gagal."

-Logika Kehidupan: "Seorang ayah yang bekerja mencopet sekalipun tidak akan pernah menginginkan anaknya menjadi pencopet. Seorang petani pasti berjuang agar anaknya menjadi pengusaha sukses. Semua itu hanya bisa terwujud lewat jalur pendidikan yang baik."

-Proses Membentuk Mental: "Kecerdasan intelektual bisa diuji di atas kertas, tapi karakter yang baik hanya bisa dibentuk melalui kerasnya proses kehidupan, doa orang tua, serta ketekunan menghadapi ujian. Jangan cengeng dan jangan berharap mendapat kemudahan tanpa usaha."

Di samping membagikan kisah inspiratifnya, Bodewin menegaskan bahwa Pemerintah Kota Ambon berkomitmen penuh untuk terus mendongkrak kualitas pendidikan secara komprehensif. Pemkot Ambon saat ini terus menggenjot pemenuhan sarana-prasarana, menyokong implementasi kurikulum, menguatkan kapasitas guru, hingga mengoptimalkan peran komite sekolah.

Melalui kegiatan kokurikuler ini, Wali Kota Ambon berharap anak-anak didik di Kota Ambon tidak hanya tumbuh menjadi generasi yang cerdas secara intelektual, melainkan juga tangguh secara emosional, sosial, dan spiritual demi menyongsong masa depan yang gemilang.

(H.R)