KNPI Mimika Diperingatkan Jangan Jadi Bancakan Politik: Ketua APA Tegas, Kursi Ketua Harus untuk OAP”
“KNPI Mimika Diperingatkan Jangan Jadi Bancakan Politik: Ketua APA Tegas, Kursi Ketua Harus untuk OAP”
TIMIKA, Papua Tengah Tribunnusantara-web.id — Pemilihan Ketua KNPI Kabupaten Mimika mulai memantik ketegangan politik di kalangan pemuda. Ketua Aliansi Pemuda Amungsa (APA), Hellois Kemong, melontarkan peringatan keras agar organisasi kepemudaan terbesar itu tidak berubah menjadi arena bancakan kepentingan politik yang kembali menyingkirkan Orang Asli Papua (OAP) di tanahnya sendiri.
Dengan nada tegas, Hellois menuntut agar kursi Ketua KNPI Mimika dipimpin oleh OAP, khususnya dari suku Amungme dan Kamoro sebagai pemilik hak ulayat di wilayah Mimika.
“Jangan jadikan KNPI sebagai tempat bayar hutang politik. Pemuda asli Papua bukan pelengkap penderita di negeri sendiri,” tegas Hellois, Sabtu (17/05/2026).
Menurutnya, selama ini banyak organisasi strategis di Mimika terkesan dikuasai pola lama: penuh kompromi elite, lobi kekuasaan, dan transaksi dukungan yang ujungnya melahirkan pemimpin titipan, bukan pemimpin yang lahir dari kebutuhan masyarakat.
Ia menilai, jika pola seperti itu terus dipelihara, maka KNPI hanya akan menjadi alat kepentingan segelintir kelompok, bukan rumah perjuangan pemuda.
“Kalau ketua lahir dari transaksi politik, jangan bicara idealisme pemuda. Itu hanya demokrasi palsu yang dibungkus rapat organisasi,” sindirnya tajam.
Hellois bahkan menegaskan bahwa Mimika bukan wilayah tanpa tuan. Karena itu, menurutnya, sangat tidak masuk akal jika pemuda asli justru terus tersingkir dari posisi strategis di daerah yang berdiri di atas tanah adat mereka sendiri.
“Amungme dan Kamoro pemilik negeri ini. Tapi ironisnya, sering kali hanya dijadikan penonton saat kursi-kursi penting dibagi,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa KNPI seharusnya menjadi tempat kaderisasi pemimpin muda Papua yang berani memperjuangkan kepentingan rakyat, bukan tempat menitip kepentingan politik elite menjelang agenda kekuasaan berikutnya.
Dalam pandangan APA, pemimpin KNPI harus dipilih berdasarkan kapasitas, keberanian, dan keberpihakan terhadap masyarakat, bukan karena kedekatan dengan penguasa atau kekuatan modal politik.
Hellois menilai semangat Otonomi Khusus Papua akan kehilangan makna jika Orang Asli Papua terus dipinggirkan dari ruang-ruang kepemimpinan strategis.
“Jangan jual nama Otsus kalau kenyataannya OAP terus disuruh tepuk tangan sementara kursi pimpinan dibagi-bagi di belakang layar,” ujarnya keras.
Ia pun meminta seluruh elemen pemuda dan masyarakat Mimika untuk mengawal proses pemilihan KNPI agar berjalan bersih dan tidak dikendalikan kepentingan tertentu.
Menurutnya, pemilihan KNPI kali ini menjadi ujian besar: apakah organisasi itu masih punya marwah sebagai wadah perjuangan pemuda, atau justru sudah berubah menjadi panggung perebutan kekuasaan berkedok demokrasi.
“Kalau KNPI hanya jadi alat politik, maka organisasi ini kehilangan roh perjuangannya. Pemuda Mimika harus lawan itu,” tutup Hellois.
"Pemburu Korup"








































Komentar via Facebook