Konser Amal Tanpa Tiket, Pesan Kemanusiaan untuk Atlet Difabel Dunia Menggema dari Jakarta
Jakarta, TribunNusantara.web.id | Jakarta akan menjadi panggung bagi sebuah peristiwa kemanusiaan lintas batas. Pada 31 Januari 2026, Maria Monique Last Wish Foundation (MMLWF) menggelar International Charity Concert 100 Celebrity Talk for Para Athletes (ICC 100 CTFP), sebuah konser amal internasional yang tidak menjual tiket, tidak mengedarkan proposal donasi, dan tak menjanjikan keuntungan materi apa pun—kecuali harapan.
Konser ini merupakan bagian dari gerakan global 100 Celebrity Talk for Para Athletes, sebuah inisiatif kemanusiaan yang menghimpun pesan solidaritas dan dukungan moral bagi atlet difabel di seluruh dunia. Dalam keterangan pers yang diterima Rabu (31/12), MMLWF menegaskan bahwa ICC 100 CTFP lahir dari komitmen from the heart—tanpa anggaran, tanpa honorarium, dan tanpa transaksi finansial.
Seluruh musisi dan pengisi acara hadir secara sukarela. Bagi MMLWF, ini bukan sekadar konser, melainkan ruang penghormatan bagi ketangguhan penyandang disabilitas—termasuk mereka yang bangkit dari tragedi bencana alam, seperti gempa dan banjir di Sumatera. Bantuan yang disalurkan, menurut yayasan ini, diberikan langsung kepada penerima manfaat tanpa perantara.
Di panggung utama, maestro jazz Dwiki Dharmawan akan berbagi ruang musikal dengan penyanyi legendaris Ita Purnamasari. Sejumlah nama lintas generasi turut meramaikan acara, antara lain Fryda Lucyana (Irjen Kementerian Kebudayaan RI), Andrigo, Shandra Rose (Nagaswara), Yoan (Musica’s Studio), Ricardo Ryo, Gracia Jonwilin, hingga Shannon Lee Jackson.
Yang istimewa, panggung juga diserahkan kepada remaja penyandang disabilitas—Moreno, Gwen, Giti, Hawa, dan Dennis—sebagai penanda bahwa konser ini bukan tentang belas kasihan, melainkan pengakuan atas talenta dan keberanian.
Ratusan penyandang disabilitas dihadirkan langsung untuk menyaksikan dan merayakan kebersamaan dalam konser tersebut.
Pada kesempatan yang sama, MMLWF akan menganugerahkan 100 CTFP Indonesia Award 2025, sebuah penghargaan bagi tokoh-tokoh yang dinilai konsisten dan berdampak dalam mendukung atlet difabel dan gerakan Paralympic.
Penerima penghargaan tahun ini mencakup Harnoto Darsono dan Siti Marifah (Business Leaders), Raja Sapta Oktohari (Sports Leader), Dwiki Dharmawan (Music Maestro), Didi Budiardjo (Legendary Fashion Designer), serta Muhammad Jufri Sakka dari Marriott Business Council Jakarta (Hospitality Leader).
Nama-nama lain yang turut menerima apresiasi adalah Rina Damayanti (Film Personality), Ita Purnamasari (Legendary Vocalist), Andrigo, Gracia Jonwilin, dan Yoan (Vocal Artists), serta figur perempuan berpengaruh seperti Rita Pusponegoro, Sylvia Hendarto, Jenny O, Anita Rusdi, dan Anita Djajadiningrat.
Dari kalangan muda dan advokat persahabatan, penghargaan juga diberikan kepada Jadrianna Aletta Sutrisno, Ricardo Ryo, Christian, Kertawiguna, Malika Djajadiningrat (Youth Leaders), serta Endah Fajar Pratiwi, Saurma Siahaan, Tony Thamsir, dan Mepi Lin (Friendship Advocate).
Sejak berdiri pada 2007, MMLWF dikenal konsisten menjalankan kegiatan amal secara berkelanjutan bersama donatur perorangan. Yayasan ini menegaskan tidak pernah menggelar lelang maupun penggalangan dana terbuka—sebuah prinsip yang tetap dipertahankan hingga kini.
Saat ini, gerakan 100 CTFP telah melibatkan 327 tokoh dunia dari berbagai negara. Seluruh dokumentasi dan liputan internasionalnya bahkan telah diarsipkan secara resmi di kantor President International Paralympic Committee (IPC) di Bonn, Jerman.
Dari Jakarta, sebuah pesan sederhana namun kuat akan kembali disuarakan: bahwa kemanusiaan tidak selalu lahir dari kemewahan, melainkan dari ketulusan yang konsisten—dan keberanian untuk berdiri bersama mereka yang sering dilupakan.
[Evav]








































Komentar via Facebook