KOTA DOLAR” YANG MEMPERMALUKAN: RAKYAT MISKIN DI ATAS EMAS, PEMERINTAH SIBUK URUS KURSI

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 04 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

KOTA DOLAR” YANG MEMPERMALUKAN: RAKYAT MISKIN DI ATAS EMAS, PEMERINTAH SIBUK URUS KURSI

“KOTA DOLAR” YANG MEMPERMALUKAN: RAKYAT MISKIN DI ATAS EMAS, PEMERINTAH SIBUK URUS KURSI

Mimika,Papua Tengah, Tribunnusantara-web.id Pagi ini tamparan keras datang dari salah satu tokoh Amungme, Yohanis Kum. Pernyataannya ini bukan sekadar kritik—Tapi ini adalah dakwaan terbuka terhadap wajah pembangunan di Kabupaten Mimika yang dinilai makin jauh dari rakyat.04/05/2026

Julukan “Kota Dolar” kini berubah menjadi ironi yang memalukan.             Di tanah yang dikeruk oleh raksasa seperti Freeport Indonesia, rakyat kecil justru hidup dalam tekanan ekonomi.   Uang besar berputar di atas, tapi di bawah—kering. Tidak menetes. Tidak terasa. Tidak hidup.

Ini bukan lagi soal ketimpangan biasa. Ini kegagalan yang telanjang.

Dua tahun pemerintahan berjalan, tapi yang dirasakan rakyat bukan kehadiran negara—melainkan kekosongan.                

Yohanis Kum menyebut rakyat seperti “anak piatu” dan “anak tiri”. Itu bukan metafora ringan—itu penghinaan terhadap fungsi dasar pemerintah yang seharusnya melindungi dan menyejahterakan.

Pertanyaannya sederhana tapi menyakitkan:

Pemerintah ini sebenarnya bekerja untuk siapa?

Alih-alih menyentuh perut rakyat, pemerintah justru terjebak dalam rutinitas lama: sibuk merapikan birokrasi, mengatur jabatan, dan memoles struktur kekuasaan. Semua terlihat rapi di atas kertas—tapi hancur di lapangan.

Rakyat tidak butuh birokrasi yang cantik.rakyat butuh makan.kalimat ini seharusnya tidak perlu diucapkan di daerah sekaya Mimika. Tapi kenyataannya, itu yang terjadi.

Lebih pahit lagi, masyarakat adat—Amungme dan Kamoro—yang adalah pemilik sah tanah ini, justru merasa seperti penonton. Mereka berdiri di atas kekayaan luar biasa, tapi tidak punya akses nyata terhadap hasilnya. Ini bukan sekadar ketidakadilan—ini bentuk pengabaian yang sistematis.

Jika kondisi ini terus dibiarkan, pemerintah tidak hanya gagal secara ekonomi—mereka sedang menggali kubur kepercayaan rakyatnya sendiri.

Dan ketika kepercayaan itu runtuh, yang tersisa bukan lagi kritik.

Yang tersisa adalah kemarahan.

Pernyataan Yohanis Kum adalah alarm keras—bukan untuk didengar, tapi untuk segera dijawab dengan tindakan nyata.            

Karena jika tidak, “Kota Dolar” akan terus menjadi simbol paling nyata dari satu hal:

kekayaan yang dirampas dari rakyatnya sendiri.

"Elang Kei"