LAPORAN INDAH, SEKOLAH BERDARAH” — Dana BOS Diduga Hanya Hebat di Atas Kertas, Inspektorat Mimika Disorot Keras
“LAPORAN INDAH, SEKOLAH BERDARAH” — Dana BOS Diduga Hanya Hebat di Atas Kertas, Inspektorat Mimika Disorot Keras
MIMIKA, Tribunnusantara-web.id – Dunia pendidikan di Kabupaten Mimika kembali menjadi sorotan. Di tengah klaim laporan penggunaan Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) yang selalu terlihat rapi, lengkap, dan nyaris tanpa catatan, fakta di lapangan justru menunjukkan kondisi yang bertolak belakang.
Ruang kelas masih bocor saat hujan turun. Toilet sekolah rusak dan tidak layak digunakan. Buku pelajaran belum tersedia merata. Sejumlah perangkat komputer hanya menjadi pajangan tanpa fungsi. Sementara guru-guru honor terus bertahan dalam tekanan ekonomi akibat honor yang dinilai jauh dari layak.01/06/2026
Ironisnya, berbagai persoalan tersebut nyaris tidak pernah tercermin dalam laporan pertanggungjawaban yang setiap tahun tampil mulus di atas meja birokrasi.
Menurutnya, sistem pengawasan pendidikan saat ini lebih sibuk memburu kesempurnaan administrasi daripada memastikan manfaat anggaran benar-benar dirasakan oleh siswa dan sekolah.
«“Sekolah akhirnya dipaksa belajar membuat laporan terlihat benar, bukan membuat dana benar-benar bermanfaat,” tegasnya.»
Pernyataan tersebut menjadi kritik telak terhadap pola pengawasan yang dinilai terlalu administratif dan minim pengawasan substantif. Akibatnya, lahir budaya kepatuhan semu yang lebih mementingkan dokumen daripada hasil nyata.
Di atas kertas semuanya tampak tertib. Serapan anggaran tinggi. SPJ lengkap. Tanda tangan tersedia. Stempel tidak kurang satu pun.
Namun di ruang-ruang kelas, anak-anak masih belajar dalam keterbatasan yang memprihatinkan.
Sorotan tajam juga diarahkan kepada Inspektorat Kabupaten Mimika yang dinilai belum maksimal menjalankan fungsi pengawasan terhadap penggunaan dana pendidikan.
Pengawasan disebut lebih banyak berkutat pada pemeriksaan berkas, kuitansi, dan dokumen administrasi, tanpa keberanian membongkar apakah dana yang dilaporkan benar-benar menghasilkan perubahan nyata bagi sekolah.
«“Kalau pengawasan hanya memeriksa map dan stempel, maka yang dipelihara bukan kualitas pendidikan, tetapi ilusi keberhasilan,” kritik Titik.»
Pernyataan tersebut memunculkan pertanyaan serius: apakah selama ini yang diawasi adalah kualitas pendidikan atau sekadar kelengkapan dokumen?
Jika laporan selalu dianggap baik sementara kondisi sekolah masih memprihatinkan, maka publik berhak mempertanyakan efektivitas sistem pengawasan yang berjalan.
Dana BOS yang setiap tahun digelontorkan pemerintah pusat dengan nilai miliaran rupiah sejatinya merupakan instrumen strategis untuk meningkatkan kualitas pendidikan. Namun ketika pengawasan hanya berhenti pada aspek administratif, dana tersebut berpotensi kehilangan makna dan hanya berubah menjadi angka-angka indah dalam laporan tahunan.
Lebih tragis lagi, anak-anak tetap menjadi pihak yang menanggung akibatnya.
Mereka belajar di ruang kelas yang rusak, menggunakan fasilitas yang terbatas, sementara laporan keuangan terus dipoles seakan seluruh program berjalan sempurna.
«“Bantuan pusat turun atas nama pendidikan dan masa depan bangsa, tetapi di lapangan banyak sekolah masih menjerit,” ujarnya.»
Kritik tersebut sekaligus menjadi alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan pendidikan di Mimika. Sebab pendidikan tidak bisa diukur dari tebalnya laporan pertanggungjawaban atau tingginya persentase serapan anggaran.
Pendidikan yang sehat hanya dapat dilihat dari sekolah yang layak, guru yang dihargai, fasilitas yang berfungsi, dan peserta didik yang benar-benar merasakan manfaat kehadiran negara.
Jika laporan terus terlihat indah sementara sekolah tetap berdarah, maka yang sedang dipertahankan bukan kualitas pendidikan, melainkan sebuah kebohongan yang dibungkus rapi dalam administrasi.
Editor: Bruce Elang








































Komentar via Facebook