Laut Aru Melegenda, Saksi Heroik Pertempuran Merebut Irian Barat: Pengorbanan Yos Sudarso Tak Pernah Padam

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 27 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Laut Aru Melegenda, Saksi Heroik Pertempuran Merebut Irian Barat: Pengorbanan Yos Sudarso Tak Pernah Padam

Laut Aru Melegenda, Saksi Heroik Pertempuran Merebut Irian Barat: Pengorbanan Yos Sudarso Tak Pernah Padam

Aru, Tribunnusantara-web.id –Pakar hukum Ade Suparto mengingatkan bahwa Laut Aru bukan sekadar bentangan laut di kawasan timur Indonesia, tetapi medan tempur yang menyimpan jejak pengorbanan para patriot bangsa dalam perjuangan mempertahankan kedaulatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurut Ade, sejarah mencatat Laut Aru sebagai lokasi Pertempuran Laut Aru pada 15 Januari 1962, salah satu operasi militer paling heroik dalam rangka Operasi Trikora untuk membebaskan Irian Barat dari pendudukan Belanda.27/06/2026

"Bangsa yang besar tidak boleh melupakan sejarah. Laut Aru adalah monumen perjuangan yang tidak dibangun dari batu, melainkan dari darah, keberanian, dan pengorbanan para prajurit terbaik bangsa," ujar Ade Suparto dalam keterangan tertulisnya.

Ia menjelaskan, dalam operasi tersebut tiga kapal perang Angkatan Laut Republik Indonesia (ALRI), yakni KRI Macan Tutul, KRI Macan Kumbang, dan KRI Harimau, menjalankan misi penyusupan ke wilayah Irian Barat. Di tengah operasi, armada Indonesia harus menghadapi kekuatan Angkatan Laut Belanda yang memiliki persenjataan dan teknologi tempur yang lebih unggul.

Kontak senjata pun tidak terhindarkan. KRI Macan Tutul yang dikomandani Komodor Yos Sudarso menjadi sasaran serangan hingga akhirnya tenggelam di perairan Laut Aru.

Dalam situasi genting tersebut, Komodor Yos Sudarso mengeluarkan perintah yang kemudian menjadi semboyan abadi TNI Angkatan Laut, "Kobarkan Semangat Pertempuran." Kalimat itu bukan sekadar perintah tempur, tetapi simbol keberanian, patriotisme, dan tekad pantang menyerah dalam mempertahankan kehormatan bangsa.

Komodor Yos Sudarso gugur bersama sejumlah prajurit ALRI. Namun, menurut Ade, gugurnya para patriot tidak pernah menjadi kekalahan bagi Indonesia. Sebaliknya, pengorbanan mereka memperkuat tekad nasional dan menjadi salah satu faktor yang mengantarkan Indonesia meraih kembali Irian Barat melalui perjuangan militer dan diplomasi.

"Para pahlawan boleh gugur di medan perang, tetapi semangat perjuangannya tidak pernah tenggelam bersama KRI Macan Tutul. Justru dari Laut Aru lahir pesan bahwa harga sebuah kedaulatan harus dibayar dengan keberanian dan pengorbanan," tegasnya.

Ade menambahkan, sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan laut, pemerintah menetapkan setiap 15 Januari sebagai Hari Dharma Samudra. Peringatan tersebut menjadi momentum untuk mengenang jasa para prajurit TNI Angkatan Laut yang rela mengorbankan jiwa dan raga demi mempertahankan keutuhan NKRI.

Ia berharap generasi muda tidak hanya mengenal nama Komodor Yos Sudarso dari buku sejarah, tetapi juga memahami nilai perjuangan, nasionalisme, dan cinta tanah air yang diwariskan oleh para pahlawan.

"Laut Aru akan selalu dikenang sebagai saksi bisu perjuangan bangsa Indonesia. Nama Komodor Yos Sudarso dan KRI Macan Tutul telah terukir sebagai bagian dari sejarah besar yang mengajarkan bahwa kemerdekaan dan kedaulatan bangsa lahir dari keberanian serta pengorbanan, bukan dari sikap menyerah," tutup Ade Suparto.

Editor: Bruce Elang