Laut dan Ukiran Jadi Andalan, Wabup Tanimbar Dorong Ekraf Naik Kelas

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 12 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Laut dan Ukiran Jadi Andalan, Wabup Tanimbar Dorong Ekraf Naik Kelas

Laut dan Ukiran Jadi Andalan, Wabup Tanimbar Dorong Ekraf Naik Kelas

TANIMBAR Tribunnusantara-web.id — Pemerintah Kabupaten Kepulauan Tanimbar mendorong kekayaan laut, seni, budaya, dan kerajinan lokal menjadi kekuatan baru ekonomi kreatif (Ekraf) daerah.

Wakil Bupati Kepulauan Tanimbar, dr. Juliana Ch. Ratuanak, mengatakan potensi tersebut mendapat perhatian serius dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar dalam pertemuan bersama Pemkab Kepulauan Tanimbar, Senin.

Dalam pertemuan itu, Pemkab memaparkan sejumlah potensi unggulan Tanimbar, terutama kekayaan laut berupa biota laut, ikan, dan terumbu karang yang dinilai memiliki nilai ekonomi tinggi apabila dikelola secara kreatif, berkelanjutan, dan tetap menjaga kelestarian lingkungan.

“Dalam presentasi dari kita, beliau melihat potensi laut dengan biota laut dan ikan serta terumbu karang yang luar biasa,” kata Ratuanak melalui WhatsApp, Rabu (12/8/2026).

Menurut Ratuanak, kekayaan alam Tanimbar tidak boleh hanya dipandang sebagai sumber daya yang dieksploitasi. Potensi tersebut harus diolah menjadi produk bernilai tambah yang mampu membuka lapangan usaha dan meningkatkan pendapatan masyarakat.

Namun, ia menegaskan pengembangan ekonomi daerah tidak boleh mengorbankan lingkungan.

Hal ini menjadi perhatian khusus di tengah peluang masuknya investasi sektor minyak dan gas (Migas) di Tanimbar.

“Untuk tambang Migas yang akan masuk, kiranya tidak mengganggu bahkan membuat alam menjadi rusak. Harus dijaga untuk dilestarikan,” tegasnya.

Ratuanak menilai keberlanjutan lingkungan harus menjadi prinsip utama dalam setiap agenda pembangunan. Sebab, kekayaan laut, daratan, dan ekosistem Tanimbar merupakan modal jangka panjang bagi masyarakat sekaligus fondasi pengembangan ekonomi kreatif.

Ukiran Tanimbar Dapat Sorotan

Selain potensi laut, karya seni dan kerajinan khas Tanimbar juga mendapat perhatian dalam pertemuan tersebut.

Salah satu produk yang dipresentasikan adalah ukiran khas Tanimbar. Menurut Ratuanak, karya tersebut mendapat apresiasi langsung dari Wakil Menteri Ekonomi Kreatif dan bahkan dipajang di ruang depan dalam lemari kaca.

“Untuk Ekraf dari ukiran yang kita sampaikan, beliau melihat sendiri dan merasa bahwa ini sebuah potensi besar untuk dikembangkan dan boleh dipajang di mana-mana,” jelasnya.

Ratuanak mengatakan perhatian tersebut harus menjadi momentum bagi pelaku UMKM dan perajin lokal untuk meningkatkan kualitas produk, memperkaya desain, sekaligus memperluas pasar tanpa kehilangan identitas budaya Tanimbar.

Salah satu karya yang dinilai memiliki peluang besar untuk dikembangkan adalah patung Tumbur.

Produk tersebut dapat dikembangkan dalam berbagai bentuk dan variasi, termasuk dipadukan dengan ornamen perahu serta unsur budaya khas Tanimbar lainnya.

“Beliau sudah memesan untuk ke depan ini dikembangkan dan kita buat lebih variasi lagi, patung Tumbur dengan perahu dan segala variasinya yang mereka punya,” ungkap Ratuanak.

UMKM Diminta Berani Naik Kelas

Pemkab Kepulauan Tanimbar berharap perhatian pemerintah pusat terhadap potensi ekonomi kreatif daerah tidak berhenti pada promosi, tetapi berlanjut pada penguatan kapasitas pelaku UMKM, peningkatan kualitas produksi, desain, pemasaran, hingga perluasan akses pasar.

Ratuanak optimistis Tanimbar memiliki modal kuat untuk membangun ekonomi kreatif berbasis potensi lokal.

“Semoga UMKM bisa naik kelas di Tanimbar karena ada yang kreatif dan mengembangkan dengan tekun dan berkreasi,” pungkasnya.

Pengembangan Ekraf berbasis potensi lokal dinilai bukan hanya soal menciptakan keuntungan ekonomi. Lebih jauh, sektor ini dapat menjadi instrumen untuk menjaga identitas budaya Tanimbar sekaligus memastikan kekayaan alam tetap lestari.

Laut yang kaya, budaya yang kuat, dan kerajinan yang khas menjadi modal Tanimbar. Tantangannya kini adalah mengubah potensi tersebut menjadi produk bernilai ekonomi tanpa mengorbankan lingkungan dan jati diri daerah.

Penulis: JCS

Editor: Bruce Elang