Lebaran di Pengungsian: Simbol Kepedulian Presiden dan Ujian Nyata Rehabilitasi Pascabencana Sumatera

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 21 Maret 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Lebaran di Pengungsian: Simbol Kepedulian Presiden dan Ujian Nyata Rehabilitasi Pascabencana Sumatera

Aceh, TribunNusantara.web.id | Suasana Idulfitri tahun ini terasa berbeda di Karang Baru, Aceh Tamiang. Di tengah deretan hunian sementara yang berdiri di atas tanah yang pernah dilanda banjir dan longsor, Presiden Prabowo Subianto memilih merayakan hari kemenangan bersama para penyintas bencana. Bukan di istana, melainkan di masjid sederhana yang menjadi saksi ketahanan warga menghadapi musibah.

Kehadiran Presiden pada Sabtu pagi itu bukan sekadar agenda seremonial. Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menyebutnya sebagai penegasan bahwa rehabilitasi pascabencana tetap menjadi prioritas pemerintah.

Sejak jauh hari, menurut Tito, Presiden telah merencanakan untuk melaksanakan salat Idulfitri bersama para pengungsi. Beberapa lokasi sempat dipertimbangkan, namun pilihan akhirnya jatuh pada kawasan yang masih dihuni penyintas.

“Beliau ingin benar-benar berada di tengah masyarakat yang terdampak,” kata Tito.

Pilihan itu sarat makna. Di saat sebagian besar masyarakat merayakan Lebaran dengan keluarga di rumah, ribuan warga di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat masih berjuang memulihkan kehidupan mereka. Kehadiran kepala negara di tengah kondisi tersebut menjadi simbol solidaritas—sekaligus pengingat bahwa pekerjaan rumah belum sepenuhnya selesai.

Meski demikian, Tito menilai proses rehabilitasi dan rekonstruksi telah menunjukkan kemajuan signifikan. Infrastruktur dasar seperti listrik, pasokan bahan bakar, hingga layanan kesehatan dan pendidikan mulai kembali berjalan. Aktivitas ekonomi pun perlahan menggeliat, ditandai dengan kembalinya transaksi di pasar-pasar lokal.

“Sudah mendekati normalitas,” ujarnya.

Namun, “mendekati” bukan berarti selesai. Pemerintah masih menghadapi sejumlah pekerjaan krusial, mulai dari pembangunan jalan dan jembatan permanen hingga normalisasi sungai. Fasilitas pendidikan yang rusak juga masih membutuhkan penanganan serius.

Di Aceh Tamiang, misalnya, masih terdapat 26 kepala keluarga yang bertahan di tenda pengungsian. Pemerintah berjanji akan mempercepat relokasi mereka ke hunian yang lebih layak.

Di saat bersamaan, upaya pemulihan sektor ekonomi, seperti rehabilitasi tambak dan sawah warga, terus dikebut agar masyarakat tidak hanya pulih secara fisik, tetapi juga secara penghidupan.

Tito menegaskan, fase berikutnya akan berfokus pada pembangunan hunian tetap, baik melalui skema mandiri di lokasi semula (insitu) maupun pembangunan kawasan terpadu. “Setelah Lebaran akan kita eksekusi,” katanya.

Kunjungan Presiden ke Aceh Tamiang juga bukan yang pertama dalam konteks kebencanaan. Sebelumnya, ia tercatat merayakan pergantian tahun 2026 bersama penyintas di Tapanuli Selatan. Pola ini menunjukkan pendekatan yang mencoba menggabungkan simbolisme kehadiran dengan dorongan percepatan kerja di lapangan.

Namun demikian, efektivitas pendekatan ini pada akhirnya akan diuji oleh hasil nyata: seberapa cepat para penyintas dapat kembali hidup normal, dan seberapa kuat infrastruktur yang dibangun mampu menahan bencana serupa di masa depan.

Lebaran di pengungsian mungkin menghadirkan kehangatan sesaat. Tetapi bagi para penyintas, yang lebih penting adalah kepastian—bahwa setelah perhatian publik mereda, proses pemulihan tetap berjalan hingga tuntas.