Lembut dan Anggun, Tari Bedayo Abung Siwo Migo Pikat Pengunjung Pentas Budaya di Serang

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 07 Februari 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Lembut dan Anggun, Tari Bedayo Abung Siwo Migo Pikat Pengunjung Pentas Budaya di Serang

Serang, TribunNusantara.web.id | Sembilan penari perempuan dari Sanggar Cangget Bedayo tampil berbaris rapi di panggung Alun-Alun Pancaniti, Serang, Banten, Sabtu, 7 Februari 2026. Dengan gerakan yang halus dan ritmis, mereka membawakan Tari Bedayo Abung Siwo Migo, salah satu tarian tradisional masyarakat Lampung Pepadun. Penampilan itu sukses menyita perhatian pengunjung dalam rangkaian Pentas Budaya, Hiburan, dan Pameran UMKM.

Tari Bedayo Abung Siwo Migo berasal dari kelompok adat Abung Siwo Migo, salah satu bagian penting dalam struktur masyarakat adat Lampung. Kepala Dinas Pariwisata Lampung Utara, Perdana Putra, mengatakan tarian ini tumbuh sebagai bagian dari tradisi yang mengatur tata kehidupan masyarakat Abung, terutama dalam menjunjung nilai kesopanan, kehormatan, serta peran perempuan dalam adat.

“Pada awal kemunculannya, Tari Bedayo ditampilkan dalam berbagai acara adat penting, seperti begawi adat, penyambutan tamu kehormatan, hingga kegiatan adat yang bersifat sakral,” kata Perdana di sela kegiatan.

Menurut dia, tarian tersebut tidak sekadar pertunjukan seni, melainkan simbol penghormatan dan ungkapan syukur yang diwariskan turun-temurun. Nilai-nilai adat yang terkandung di dalamnya menjadikan tarian ini sebagai lambang kemuliaan tradisi masyarakat Lampung.

Pada 2024, Tari Bedayo Abung Siwo Migo ditetapkan sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Kebudayaan. Pengakuan itu, kata Perdana, menjadi alasan penting untuk terus menjaga dan memperkenalkan tarian tersebut kepada masyarakat luas.

Secara etimologis, istilah “Bedayo” merujuk pada kelembutan dan keindahan gerak. Makna itu tercermin dalam setiap ragam gerakan yang halus, teratur, dan penuh pengendalian diri. Setiap gerakan melambangkan karakter perempuan Lampung yang santun, anggun, sekaligus berwibawa.

Karena itu, penari Bedayo umumnya adalah perempuan yang telah memahami nilai-nilai adat, etika, serta makna filosofis yang terkandung dalam tarian tersebut. Bagi masyarakat Lampung, Tari Bedayo bukan sekadar pertunjukan, melainkan cerminan identitas budaya yang terus dijaga lintas generasi.