LIONTINE MAGAL BAWA GAGASAN BARU: ORGANISASI PENGUSAHA PAPUA HARUS JADI MOTOR KEMANDIRIAN EKONOMI.
LIONTINE MAGAL BAWA GAGASAN BARU: ORGANISASI PENGUSAHA PAPUA HARUS JADI MOTOR KEMANDIRIAN EKONOMI.
Timika Tribunnusantara-web.id — Nama Liontine Magal mulai mencuat dengan gagasan yang menempatkan organisasi pengusaha bukan sekadar sebagai wadah berkumpul, tetapi sebagai kekuatan bersama untuk memperjuangkan kepentingan anggota, membuka akses usaha, membangun kemitraan, serta meningkatkan kapasitas dan kesejahteraan pengusaha Papua.
Dengan latar pendidikan di St Johns Catholic Senior College, Darwin, Australia, serta pengalaman menjalankan usaha sejak 2014, Liontine membawa perspektif yang menekankan profesionalisme, keberanian berjejaring, dan keberpihakan terhadap pengembangan pelaku usaha Papua.28/9/26
Ia juga memiliki pengalaman berkarier di organisasi politik selama lebih dari satu tahun. Namun, dalam gagasan yang disampaikannya, pencalonan dalam organisasi pengusaha tidak ditempatkan semata-mata sebagai perebutan jabatan.
“Bagi saya, pencalonan ini bukan sekadar tentang jabatan, tetapi tentang pengabdian, keberanian untuk membawa perubahan, dan memberikan manfaat nyata bagi anggota.”»
ORGANISASI PENGUSAHA HARUS MEMBERI MANFAAT NYATA
Liontine menilai organisasi pengusaha harus mampu bergerak lebih jauh dari sekadar kegiatan administratif dan seremonial.
Menurutnya, organisasi harus menjadi ruang bagi pengusaha untuk mendapatkan akses informasi, peningkatan kapasitas, jaringan bisnis, peluang kemitraan, hingga akses pembiayaan.
Gagasan tersebut sejalan dengan semangat UU Nomor 20 Tahun 2008 tentang Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah, yang menempatkan pemberdayaan usaha sebagai bagian penting dalam meningkatkan kemampuan, daya saing, pendapatan masyarakat, dan penciptaan lapangan kerja. UU tersebut juga mengatur pengembangan, pembiayaan, penjaminan, serta kemitraan antara pelaku usaha.
VISI LIONTINE MAGAL
Liontine menawarkan visi:
“Mewujudkan organisasi pengusaha Papua yang mandiri, profesional, inklusif, berdaya saing, serta mampu membuka peluang dan meningkatkan kesejahteraan pengusaha Papua.”
Visi tersebut diarahkan agar organisasi tidak hanya hadir ketika terjadi persoalan, tetapi mampu membangun ekosistem usaha yang memungkinkan anggota berkembang secara berkelanjutan.
LIMA AGENDA UTAMA
Untuk mewujudkan visi tersebut, Liontine menyiapkan sejumlah misi.
Pertama, meningkatkan kapasitas pengusaha Papua.
Program diarahkan pada pelatihan manajemen usaha, digitalisasi, pengelolaan keuangan, pemasaran, legalitas usaha, pengembangan sumber daya manusia, serta peningkatan kemampuan menghadapi persaingan pasar.
Kedua, memperluas akses permodalan.
Liontine mendorong organisasi membangun komunikasi dan kemitraan dengan pemerintah, lembaga keuangan, dunia usaha, investor, serta berbagai lembaga pendukung lainnya sehingga pengusaha Papua tidak hanya memiliki semangat berusaha, tetapi juga mempunyai akses terhadap pembiayaan dan pendampingan.
Ketiga, memperkuat kemitraan usaha.
Menurut gagasannya, pengusaha Papua harus ditempatkan sebagai mitra dalam rantai ekonomi, bukan sekadar sebagai penonton.
Kemitraan dengan perusahaan besar, pemerintah, BUMN, BUMD maupun investor perlu diarahkan pada pola yang transparan, profesional, saling menguntungkan dan memberikan ruang yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.
Ketentuan mengenai kemitraan UMKM dengan usaha besar juga telah diatur dalam UU Nomor 20 Tahun 2008 dan regulasi turunannya. Bahkan, ketentuan kemitraan di bidang penanaman modal saat ini juga telah diperbarui melalui Permen Investasi dan Hilirisasi/BKPM Nomor 3 Tahun 2025.
Keempat, memperkuat peran perempuan Papua dalam dunia usaha.
Sebagai perempuan Papua, Liontine memberikan perhatian khusus terhadap keterlibatan perempuan dalam kegiatan ekonomi.
Menurutnya, perempuan Papua tidak boleh hanya ditempatkan sebagai penerima manfaat pembangunan, tetapi harus diberi ruang untuk menjadi pelaku usaha, pemimpin organisasi, pengambil keputusan dan pencipta lapangan kerja.
Kelima, mendorong kemandirian dan daya saing pengusaha Papua.
Pengusaha Papua harus didorong untuk meningkatkan kualitas produk, memperkuat tata kelola perusahaan, memanfaatkan teknologi digital, memperluas pasar, serta membangun jejaring usaha hingga tingkat nasional maupun internasional.
MEMBANGUN EKONOMI PAPUA DENGAN KEBERPIHAKAN DAN PROFESIONALISME
Gagasan Liontine juga memiliki relevansi dengan kebijakan Otonomi Khusus Papua.
UU Nomor 2 Tahun 2021 tentang Perubahan Kedua atas UU Nomor 21 Tahun 2001 tentang Otonomi Khusus bagi Provinsi Papua menegaskan arah kebijakan untuk mempercepat pembangunan kesejahteraan serta meningkatkan kualitas pelayanan publik di Papua dengan pengelolaan yang akuntabel, efisien, efektif, transparan dan tepat sasaran.
Dalam konteks ekonomi Orang Asli Papua, Perda Provinsi Papua Nomor 19 Tahun 2023 tentang Pemberdayaan dan Perlindungan Ekonomi Orang Asli Papua juga menjadi salah satu landasan daerah dalam memberikan perlindungan dan pemberdayaan ekonomi OAP. Regulasi tersebut secara khusus diarahkan untuk memberikan kepastian hukum bagi pemberdayaan ekonomi Orang Asli Papua.
Karena itu, organisasi pengusaha dituntut tidak hanya berbicara mengenai peluang, tetapi juga mampu menerjemahkan kebijakan tersebut menjadi program konkret yang dapat dirasakan anggota.
PENGALAMAN USAHA SEJAK 2014
Pengalaman Liontine Magal di dunia usaha sejak 2014 menjadi salah satu modal dalam memahami dinamika pelaku usaha.
Dengan pengalaman tersebut, ia membawa gagasan agar organisasi pengusaha mampu menjadi jembatan antara pelaku usaha dengan pemerintah, perbankan, investor, perusahaan besar, lembaga pendidikan, dan pasar.
Bagi Liontine, keberhasilan organisasi tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari seberapa besar manfaat yang benar-benar diterima anggota.
BUKAN SEKADAR JABATAN
Pencalonan Liontine Magal pada akhirnya membawa satu pertanyaan penting: mampukah organisasi pengusaha Papua bergerak dari sekadar wadah organisasi menjadi kekuatan ekonomi yang benar-benar memperjuangkan anggotanya?
Liontine menjawab tantangan tersebut dengan menawarkan kepemimpinan yang menempatkan pengabdian, profesionalisme, keberanian melakukan perubahan, pemberdayaan perempuan, serta penguatan pengusaha Papua sebagai agenda utama.
Dengan latar pendidikan di Darwin, pengalaman usaha sejak 2014 dan pengalaman organisasi politik, Liontine kini menawarkan perspektif bahwa masa depan pengusaha Papua harus dibangun melalui kapasitas, jaringan, kemitraan, akses modal dan keberpihakan yang terukur.
Sebab bagi Liontine, organisasi pengusaha tidak boleh berhenti menjadi tempat berkumpul. Organisasi harus menjadi tempat pengusaha Papua tumbuh, naik kelas dan memenangkan persaingan.
Editor: Bruce Elang








































Komentar via Facebook