Listrik Desa Nurnyaman Mangkrak Sejak 2019, Tokoh Adat Murka: "Jangan Jadikan Rakyat Korban Terus"

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 06 Juli 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Listrik Desa Nurnyaman Mangkrak Sejak 2019, Tokoh Adat Murka:

Listrik Desa Nurnyaman Mangkrak Sejak 2019, Tokoh Adat Murka: "Jangan Jadikan Rakyat Korban Terus"

Dawelor Tribunnusantara-web.id

Sudah enam tahun berlalu, namun janji menghadirkan listrik bagi masyarakat Desa Nurnyaman, Pulau Dawelor, Kabupaten Maluku Tenggara, masih sebatas angan. Proyek penyambungan listrik desa yang dibiayai negara sejak Tahun Anggaran 2019 hingga kini tak kunjung tuntas, meninggalkan jejak mangkrak dan memantik kemarahan masyarakat adat.06/07/2026

Tokoh Adat Desa Nurnyaman, Orgenes Kolyey, angkat bicara dengan nada keras. Ia menilai proyek tersebut bukan hanya gagal memenuhi harapan masyarakat, tetapi juga mencederai rasa keadilan warga yang selama bertahun-tahun hidup tanpa menikmati layanan dasar berupa listrik.

 "Kami dijanjikan terang, tetapi yang kami terima hanya tiang besi berkarat dan kabel yang ditelantarkan. Negara seolah hadir hanya saat peletakan proyek, lalu menghilang ketika rakyat membutuhkan kepastian," tegas Kolyey saat ditemui media ini.

Menurutnya, proyek penyambungan listrik yang mencakup Desa Watuwei, Desa Wiratan, dan Desa Nurnyaman hanya selesai di dua desa. Sementara di Desa Nurnyaman, pekerjaan berhenti di tengah jalan. Jaringan listrik hanya dipasang di dalam desa tanpa pernah disambungkan ke jaringan induk.

Lebih ironis lagi, ratusan tiang listrik dan kabel yang seharusnya menjadi simbol kemajuan justru dibiarkan terbengkalai selama bertahun-tahun. Sebagian material bahkan disebut telah dipindahkan ke Kantor PLN Watuwei, sementara masyarakat Nurnyaman tetap hidup dalam kegelapan.

Kontraktor Diduga Tinggalkan Proyek, Papan Proyek Pun Tak Pernah Terpasang

Kolyey juga menyoroti dugaan tidak adanya papan informasi proyek selama pekerjaan berlangsung. Menurutnya, kondisi tersebut menimbulkan pertanyaan besar mengenai transparansi pelaksanaan proyek yang menggunakan anggaran negara.

"Ini uang rakyat. Seharusnya masyarakat tahu siapa kontraktornya, berapa nilai proyeknya, kapan harus selesai. Jangan proyek negara dikerjakan diam-diam, lalu ditinggalkan begitu saja tanpa pertanggungjawaban," katanya.

Ia menilai, apabila benar proyek telah dinyatakan selesai secara administrasi sementara pekerjaan di lapangan belum tuntas, maka hal tersebut harus menjadi perhatian serius aparat penegak hukum.

"Apakah Kami Bukan Warga Negara Indonesia?"

Dengan nada kecewa, Kolyey mempertanyakan perlakuan yang diterima masyarakat Desa Nurnyaman.

   "Apakah kami bukan warga negara Indonesia? Mengapa desa lain menikmati listrik, sementara kami hanya dijadikan penonton pembangunan? Ini bukan sekadar soal lampu, tetapi soal keadilan dan hak masyarakat."

Menurutnya, listrik merupakan kebutuhan dasar yang wajib dipenuhi negara. Karena itu, ia meminta pemerintah tidak menutup mata terhadap penderitaan masyarakat yang hingga kini masih hidup tanpa pelayanan listrik yang layak.

Desak APH Audit Total Proyek

Kolyey mendesak aparat penegak hukum segera mengusut proyek tersebut secara menyeluruh, termasuk menelusuri penggunaan anggaran dan pertanggungjawaban pelaksana proyek.

"Kalau anggaran sudah dicairkan tetapi pekerjaan mangkrak, negara tidak boleh diam. Audit total proyek ini. Bila ditemukan penyimpangan, siapa pun yang bertanggung jawab harus diproses sesuai hukum. Jangan biarkan uang rakyat hilang tanpa manfaat," tegasnya.

Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor maupun instansi terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai penyebab mangkraknya proyek penyambungan listrik di Desa Nurnyaman. Redaksi masih berupaya memperoleh konfirmasi untuk memenuhi asas keberimbangan pemberitaan.

Penulis: Ever M

Editor: Bruce Elang