Luncurkan Muktamar VIII di Ambon, Ketua Umum ICMI Dorong Transformasi Teknologi Berbasis Rakyat

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 08 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Luncurkan Muktamar VIII di Ambon, Ketua Umum ICMI Dorong Transformasi Teknologi Berbasis Rakyat

AMBON,Tribun-nusantara.web id. Ketua Umum Majelis Pengurus Pusat (MPP) Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI), Prof. Dr. Arif Satria, SP., M.Si., secara resmi meluncurkan Muktamar ke-VIII ICMI yang akan diselenggarakan di Kota Ambon. Momentum bersejarah ini dirangkai dengan peresmian Sekretariat Majelis Pengurus Wilayah (MPW) ICMI Maluku yang berlokasi di Jalan Soabali, Ambon, pada Sabtu (8/8/2026). 

Acara ini dihadiri oleh jajaran tokoh penting, di antaranya Sekretaris Daerah (Sekda) Maluku Sadali Ie, pimpinan Forkopimda Maluku dan Kota Ambon, Ketua ICMI Orwil Maluku, para Deputi, Bendahara Umum MPP ICMI, Ketua Panitia Muktamar, Rektor UIN, serta Sekretaris Kota (Sekkot) Ambon.

Dalam sambutannya, Prof. Arif Satria yang juga menjabat sebagai Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan ucapan selamat atas diresmikannya sekretariat baru tersebut. Ia menekankan bahwa fungsi sekretariat jauh lebih luas daripada sekadar tempat administrasi.

"Kata sekretariat itu berasal dari kata secret yang berarti rahasia, sehingga secara harfiah menjadi pusat penyimpanan dokumen penting. Namun, yang jauh lebih krusial adalah tempat ini harus menjadi ruang bertukar ide, gagasan, dan inspirasi. Banyak gagasan besar lahir dari forum informal—saat duduk bersama, mengopi, dan berdiskusi tanpa batasan ataupun moderator. Di situlah peran ICMI sebagai sumber inspirasi baru diuji," ujar Arif.

Ia menambahkan bahwa dunia sedang berubah dengan kecepatan eksponensial. Teknologi seperti kecerdasan buatan (AI) berkembang pesat, dan lompatan teknologi menuju tahun 2040 harus diantisipasi sejak sekarang melalui ekosistem riset yang kuat. 

Sebagai Kepala BRIN, Arif menegaskan pentingnya menyelaraskan kecanggihan ilmu pengetahuan dengan kebutuhan riil masyarakat, terutama dalam memperkuat pelaku UMKM melalui dukungan Research and Development (R&D). ICMI dan perguruan tinggi harus hadir mendampingi masyarakat agar tidak tertinggal dalam adopsi teknologi mutakhir seperti teknologi kuantum, AI, genomik, nuklir, hingga antariksa.

"Kita ingin teknologi canggih itu membumi dan dirasakan langsung oleh rakyat, sama seperti kita menikmati kemudahan Google Maps hari ini. Cendekiawan bukan sekadar orang pintar, melainkan mereka yang mengombinasikan otak pintar dengan hati, serta memiliki kepedulian dan kebijaksanaan (wisdom) untuk kemaslahatan umat," tegasnya.

Arif juga mencontohkan pentingnya literasi IPTEK dalam mengubah pola pikir masyarakat. Ia menyentil kebiasaan lama meramal atau menggeser cuaca dengan melempar pakaian ke atas genteng, yang kini sudah mulai digantikan oleh penggunaan Automatic Weather Station (AWS) berbasis kearifan lokal yang dikembangkan perguruan tinggi bersama BMKG untuk analisis cuaca yang akurat.

Dalam konteks lokal, Arif menyoroti kekayaan sumber daya alam Maluku yang sangat melimpah, mulai dari sektor perikanan, rumput laut, pala, cengkih, hingga sagu yang potensinya mencapai 40 juta hektar. Ia mendesak adanya percepatan hilirisasi menggunakan teknologi untuk mendongkrak nilai tambah produk unggulan daerah.

"Rumput laut Maluku tidak boleh hanya diolah menjadi agar-agar. Dengan teknologi tinggi, rumput laut menghasilkan karagenan yang menjadi komponen penting kestabilan material pesawat terbang di industri dirgantara, bahkan bisa diolah menjadi bahan pangan inovatif seperti nasi. Begitu pula pohon kelapa yang seluruh bagian fisiknya—dari buah, cangkang, sabut, hingga daun—telah dianalisis oleh BRIN untuk memberikan keuntungan maksimal," jelasnya.

ICMI Maluku diharapkan dapat membangun kolaborasi erat dengan universitas lokal seperti UNPATTI dan UIN, pemerintah daerah, serta pusat penelitian laut dalam BRIN yang berbasis di Ambon. Sektor agro maritim khas Maluku harus didorong untuk menyentuh dua aspek sekaligus: transformasi ekonomi dan transformasi sosial. Arif mengingatkan agar pertumbuhan ekonomi daerah tidak berjalan sendiri tanpa melibatkan partisipasi aktif masyarakat lokal. 

"Jangan sampai ekonominya maju, tetapi masyarakatnya masih miskin, tidak sehat, dan tidak melek teknologi. Sesuai arahan Bapak Presiden, pertumbuhan ekonomi harus bersanding dengan pemerataan," cetusnya.

Di akhir pidatonya, Kepala BRIN ini mengajak Pemerintah Provinsi Maluku untuk bahu-membahu membentuk Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) serta mendirikan "Rumah Inovasi" di setiap wilayah. Sinergi ini diharapkan menjadi motor penggerak transformasi masyarakat menuju visi daerah yang makmur dan berkah (Baldatun Toyyibatun Warobbun Ghafur). 

Prof. Arif Satria menutup sambutannya dengan menyampaikan apresiasi mendalam kepada Sekda Maluku atas dukungan penuh terhadap pelaksanaan Muktamar ke-VIII ICMI. Momentum ini menjadi catatan sejarah baru karena untuk pertama kalinya Muktamar ICMI digelar di Bumi Raja-Raja, Maluku.

(H.R)