Mathius U. Yanengga Akui Khilaf, Minta Maaf kepada Keluarga dan IKEMAL: “Mari Kita Bersaudara”

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 20 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Mathius U. Yanengga Akui Khilaf, Minta Maaf kepada Keluarga dan IKEMAL: “Mari Kita Bersaudara”

Tribun-nusantara.web.id. MIMIKA, PAPUA TENGAH — TribunNusantara-Web.id — Anggota DPR Kabupaten Mimika, Mathius U. Yanengga, akhirnya menyampaikan klarifikasi sekaligus permohonan maaf secara terbuka terkait insiden cekcok yang terjadi di Bandara Mozes Kilangin, Mimika, Papua Tengah, pada Jumat lalu.

Permintaan maaf tersebut disampaikan Mathius saat memberikan keterangan kepada sejumlah awak media di salah satu kafe di Jalan Sam Ratulangi, Kabupaten Mimika, Kamis (20/8/2026).

Dalam keterangannya, Mathius menjelaskan bahwa insiden tersebut bermula dari kesalahpahaman terkait permintaan akses singkat di area bandara. Situasi kemudian berkembang menjadi ketegangan hingga memicu luapan emosi.

Meski menjelaskan latar belakang kejadian, Mathius menegaskan bahwa kronologi tersebut tidak dimaksudkan untuk membenarkan tindakan maupun ucapan yang terjadi saat dirinya terbawa emosi.

«“Terlepas dari penjelasan kronologi insiden di atas, saya menyadari bahwa tindakan dan ucapan saya saat itu adalah sebuah kesalahan. Saya salah, dan mohon dimaafkan,” ujar Mathius.»

Akui Kesalahan sebagai Wakil Rakyat

Mathius mengakui bahwa dalam situasi emosional, dirinya telah mengeluarkan ucapan yang tidak semestinya disampaikan.

Ia menyadari bahwa sebagai seorang anggota DPR Kabupaten Mimika yang mendapat mandat dari masyarakat, dirinya memiliki tanggung jawab untuk menjaga sikap, tutur kata, serta memberikan teladan dalam kehidupan bermasyarakat.

«“Saya menyadari sebagai manusia tentu memiliki kekurangan dan kelemahan. Apa yang saya sampaikan dalam kondisi emosi saat itu tidak pantas,” ungkapnya.»

Atas kejadian tersebut, Mathius secara terbuka menyampaikan permohonan maaf kepada petugas keamanan (sekuriti) dan petugas bandara yang bertugas ketika insiden berlangsung.

Permintaan maaf juga disampaikan kepada keluarga yang merasa terdampak atau tersinggung, IKEMAL Kabupaten Mimika secara khusus dan IKEMAL Nusantara secara umum, serta seluruh masyarakat Papua dan Mimika.

Temui Keluarga Reynaldy, Berujung Saling Memaafkan

Sebagai bentuk kesungguhan menyelesaikan persoalan, Mathius juga mendatangi kediaman keluarga Reynaldy Agusto Likumahua di Jalan Yos Sudarso, kawasan belakang Pengadilan Negeri Mimika.

Pertemuan tersebut berlangsung dalam suasana kekeluargaan. Kedua pihak berdialog dan menyampaikan sikap masing-masing hingga akhirnya saling memaafkan.

Keluarga Reynaldy disebut menerima kedatangan Mathius dengan baik. Pertemuan tersebut sekaligus menjadi langkah untuk mencegah persoalan berkembang menjadi konflik yang lebih luas di tengah masyarakat.

Serukan Persaudaraan dan Persatuan

Mathius berharap persoalan tersebut dapat diselesaikan secara dewasa melalui pendekatan kekeluargaan, persaudaraan dan saling menghormati.

Ia mengajak seluruh pihak untuk tidak memperpanjang persoalan dan menjadikan kejadian tersebut sebagai pembelajaran bersama untuk menjaga kerukunan di Mimika.

Menurutnya, Mimika adalah rumah bersama bagi masyarakat dengan latar belakang suku, agama dan budaya yang beragam. Karena itu, persatuan dan kedamaian harus ditempatkan di atas kepentingan pribadi maupun kelompok.

«“Mari kita bersaudara. Kita membangun Timika, Mimika dan Indonesia yang besar ini bersama-sama. Sekali lagi, saya mengaku salah dan mohon dimaafkan atas segala ketidaknyamanan ini. Terima kasih,” tutup Mathius.»

Pesan Damai dari Mimika untuk Indonesia

Pernyataan Mathius menjadi momentum untuk mengedepankan rekonsiliasi daripada pertentangan. Pengakuan kesalahan, permintaan maaf dan pertemuan langsung dengan keluarga merupakan langkah yang dapat membuka ruang penyelesaian secara damai.

Di tengah keberagaman Mimika dan Papua Tengah, pesan persaudaraan tersebut memiliki makna lebih luas: perbedaan dapat diselesaikan melalui dialog, kesalahan dapat diperbaiki dengan tanggung jawab, dan konflik tidak harus berakhir dengan perpecahan.

Dari Mimika, pesan yang ingin ditegaskan adalah satu: menjaga persaudaraan berarti menjaga kedamaian, dan menjaga kedamaian berarti menjaga masa depan bersama.

Gunawan