Megawati Kirim Surat Duka untuk Ayatollah Ali Khamenei, Singgung Persahabatan Indonesia–Iran

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 05 Maret 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Megawati Kirim Surat Duka untuk Ayatollah Ali Khamenei, Singgung Persahabatan Indonesia–Iran

Jakarta, TribunNusantara.web.id | Presiden kelima Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, menyampaikan surat duka atas wafatnya Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei, yang dilaporkan tewas dalam serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel pada 28 Februari 2026.

Surat belasungkawa tersebut diserahkan kepada Duta Besar Iran untuk Indonesia, Mohammad Boroujerdi, di Kedutaan Besar Iran di Jakarta pada Selasa, 3 Maret 2026. Penyerahan surat diwakili sejumlah pengurus pusat Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan yang dipimpin Sekretaris Jenderal partai, Hasto Kristiyanto.

Dalam suratnya, Megawati mengaku terkejut sekaligus menyampaikan rasa duka yang mendalam atas wafatnya Khamenei. Ia menyebut kehilangan tersebut bukan hanya dirasakan oleh rakyat Iran, tetapi juga oleh masyarakat yang memperjuangkan perdamaian dan kedaulatan bangsa.

“Atas nama pribadi dan keluarga besar Bung Karno serta mewakili bangsa dan rakyat Indonesia yang mencintai perdamaian, keadilan, dan kedaulatan negara merdeka, saya menyampaikan simpati dan solidaritas kami yang tulus bagi keluarga, pemerintah, dan seluruh rakyat Iran,” tulis Megawati dalam surat tersebut.

Megawati menilai selama lebih dari tiga dekade memimpin Iran, Khamenei dikenal sebagai sosok yang memiliki kedekatan historis dan ideologis dengan perjuangan anti-kolonialisme yang pernah digelorakan Presiden pertama Indonesia, Sukarno.

Ia menyebut sejumlah kesaksian menyatakan bahwa Khamenei sejak muda mengagumi pemikiran Bung Karno. Pemimpin Iran itu disebut banyak membaca gagasan Sukarno, termasuk menjadikan nilai-nilai Pancasila dan Konferensi Asia-Afrika 1955—yang melahirkan Dasa Sila Bandung—sebagai salah satu referensi dalam merumuskan sintesis antara agama, kebangsaan, dan keadilan sosial di Iran.

Menurut Megawati, Indonesia dan Iran memiliki ikatan historis yang kuat sebagai dua bangsa yang sama-sama pernah menghadapi tekanan dan dominasi kekuatan besar dunia.

“Dalam kepemimpinan beliau kami menangkap gema semangat anti-kolonialisme, solidaritas dunia ketiga, serta tekad untuk menolak berbagai bentuk dominasi dan ketidakadilan global,” tulis Megawati.

Megawati juga mengenang pertemuannya dengan Khamenei saat melakukan kunjungan kenegaraan ke Teheran pada 2004, ketika ia masih menjabat Presiden Republik Indonesia. Kunjungan tersebut dilakukan untuk menghadiri pertemuan negara-negara berkembang yang tergabung dalam Developing Eight atau D-8.

Dalam kesempatan itu, Megawati mengaku merasakan langsung sambutan hangat dari pemimpin Iran tersebut.

“Saya merasakan sambutan persahabatan yang hangat serta kharisma kepemimpinan yang terpancar dalam diri beliau,” tulisnya.

Dalam bagian akhir suratnya, Megawati juga menegaskan sikap yang menurutnya sejalan dengan prinsip politik luar negeri Indonesia sejak era Sukarno, yakni menolak penggunaan kekuatan militer sebagai jalan penyelesaian konflik internasional.

Ia menyatakan masyarakat Indonesia menjunjung tinggi penyelesaian konflik melalui dialog, perundingan yang adil, serta penghormatan terhadap hukum internasional.

“Kami meyakini bahwa penyelesaian konflik harus ditempuh melalui jalan dialog, perundingan yang adil, dan penghormatan terhadap hukum internasional, bukan melalui kekerasan dan penggunaan kekuatan bersenjata,” tulis Megawati.

Surat tersebut sekaligus menjadi bentuk solidaritas moral terhadap rakyat Iran di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah.