Menanam Narasi, Menuai Bakti: Refleksi 94 Tahun Pemuda Muhammadiyah
Menanam Narasi, Menuai Bakti: Refleksi 94 Tahun Pemuda Muhammadiyah
Oleh: Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kab. Maluku Tenggara
MALUKU TENGGARA, Tribunnusantara-web.idSembilan puluh empat tahun usia Pemuda Muhammadiyah bukan lagi soal kebanggaan—ini soal pertanggungjawaban.
Di usia setua ini, kita tidak punya alasan untuk biasa-biasa saja. Pertanyaan yang tak bisa lagi dihindari: apakah kita masih menjadi kekuatan perubahan, atau sudah berubah menjadi organisasi yang nyaman dengan rutinitas tanpa dampak? 02/05/2026
Tema “Bertumbuh dan Mengakar untuk Indonesia Jaya” akan menjadi omong kosong jika tidak diikuti keberanian untuk berbenah—bahkan jika itu berarti mengkritik diri sendiri.
Mengakar: Atau Sekadar Bertahan Hidup?
Jangan salah kaprah. Mengakar bukan berarti diam dan puas dengan kondisi. Banyak yang berlindung di balik kata “ideologi” tapi kehilangan keberanian untuk bergerak. Akar yang tidak menyerap realitas hanyalah simbol mati.
Tauhid dan ideologi Muhammadiyah bukan pajangan. Ia harus hidup dalam keberpihakan—kepada yang lemah, kepada yang tertinggal, kepada mereka yang selama ini tidak tersentuh gerakan kita.
Jika Pemuda Muhammadiyah di Maluku Tenggara tidak hadir di tengah problem nyata—kemiskinan, ketimpangan pendidikan, krisis sosial—maka kita bukan gerakan. Kita hanya komunitas yang sibuk dengan dirinya sendiri.
Bertumbuh: Berani Berubah atau Siap Ditinggalkan
Dunia tidak menunggu kita. Perubahan tidak peduli apakah kita siap atau tidak. Yang lambat akan tersingkir—itu hukum zaman.
Pemuda Muhammadiyah harus berhenti merasa cukup. Kita harus:
Menciptakan kekuatan ekonomi, bukan sekadar bicara kemandirian.
Menguasai ruang informasi, bukan kalah oleh hoaks dan propaganda murahan.
Menjadi penjaga persatuan, bukan ikut terseret dalam konflik dan polarisasi.
Kalau tidak, maka satu hal yang pasti: kita akan kehilangan relevansi.
Indonesia Jaya: Jangan Jadikan Slogan Kosong
Cukup sudah kita mendengar kata “Indonesia Jaya” tanpa makna. Kejayaan tidak lahir dari seminar, spanduk, atau seremoni tahunan. Ia lahir dari kerja nyata yang keras, bahkan tidak nyaman.
Maluku Tenggara bukan pinggiran. Ia adalah medan ujian. Di sinilah kita dibuktikan—apakah kita benar-benar kader yang berdaya, atau hanya penggembira dalam narasi besar bangsa.
“Sejarah tidak mencatat mereka yang hanya hadir, tetapi mereka yang berbuat.”
Penutup: Ini Peringatan, Bukan Perayaan
Milad ke-94 ini harus dibaca sebagai alarm keras. Waktu terus berjalan, dan kita tidak diberi jatah untuk gagal berkali-kali tanpa evaluasi.
Pemuda Muhammadiyah harus memilih dengan jujur: tetap menjadi gerakan yang mengguncang—atau berubah menjadi organisasi yang perlahan dilupakan.
Tidak ada jalan tengah.
Selamat Milad ke-94 Pemuda Muhammadiyah.
Jika kita masih percaya pada Fastabiqul Khairat, maka buktikan—dengan kerja, bukan kata.
Dari Maluku Tenggara untuk Indonesia Jaya.
“Elang”








































Komentar via Facebook