Mendagri Ingatkan Kepala Daerah Waspada Inflasi dan Dampak Krisis Global

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 20 April 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Mendagri Ingatkan Kepala Daerah Waspada Inflasi dan Dampak Krisis Global

Mendagri Ingatkan Kepala Daerah Waspada Inflasi dan Dampak Krisis Global

Banda Aceh, Tribunnusantara-web.id Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengajak seluruh kepala daerah meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi potensi inflasi dan dampak krisis global yang dapat memengaruhi kondisi ekonomi masyarakat, terutama kelompok berpenghasilan rendah.

Hal tersebut disampaikan saat menjadi keynote speaker dalam Rapat Kerja Komisariat Wilayah I Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI) di Banda Aceh, Senin (20/04/2026).                        

Ia menekankan bahwa isu biaya hidup kini menjadi perhatian utama masyarakat.

“Lebih dari 60 persen masyarakat kita peduli pada biaya hidup, terutama makanan. Ini tidak bisa ditunda,” ujarnya.

Menurutnya, inflasi saat ini bukan lagi sekadar isu makroekonomi, melainkan persoalan nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat.              

Kenaikan harga pangan, energi, dan logistik dinilai dapat memicu tekanan sosial jika tidak dikendalikan.

Ia juga mengingatkan potensi dampak yang lebih luas apabila inflasi tidak tertangani dengan baik. “Kalau sudah meledak, mahal biayanya. Bisa sampai kerusuhan, fasilitas publik rusak,” katanya.

Selain faktor domestik, Mendagri menyoroti dinamika global seperti konflik Rusia–Ukraina dan ketegangan di Timur Tengah yang berpengaruh terhadap harga energi dunia.    

Kenaikan harga minyak, menurutnya, dapat berdampak pada biaya transportasi dan distribusi barang, yang pada akhirnya memicu kenaikan harga.

Karena itu, ia meminta pemerintah daerah untuk tidak bersikap pasif dalam mengantisipasi kondisi tersebut.                              

Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) diminta memperkuat koordinasi, termasuk dengan Badan Pusat Statistik (BPS), guna memantau pergerakan harga secara berkala.

Ia menekankan bahwa pengendalian inflasi dapat difokuskan pada dua aspek utama, yakni menjaga ketersediaan pasokan dan kelancaran distribusi. Sebagai contoh, ia menyinggung kenaikan harga cabai di sejumlah wilayah Aceh yang dipengaruhi tidak hanya oleh produksi, tetapi juga distribusi.

Lebih lanjut, ia menilai daerah dengan basis produksi pangan yang kuat cenderung lebih tahan terhadap tekanan ekonomi. Sementara itu, daerah perkotaan yang bergantung pada pasokan dari luar perlu memperkuat strategi ketahanan pangan.

Berkaca dari pengalaman pandemi COVID-19, ia mendorong pengembangan ketahanan pangan lokal melalui berbagai inisiatif seperti urban farming, hidroponik, dan pemanfaatan lahan terbatas di perkotaan.

Pemerintah daerah diharapkan dapat mengambil langkah cepat dan terukur guna menjaga stabilitas harga serta melindungi daya beli masyarakat.

“Elang”