Mendidik dengan Hati, Membangun Karakter: Larvul Ngabal Jadi Fondasi Budaya Sekolah di Era Modern

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 25 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Mendidik dengan Hati, Membangun Karakter: Larvul Ngabal Jadi Fondasi Budaya Sekolah di Era Modern

Mendidik dengan Hati, Membangun Karakter: Larvul Ngabal Jadi Fondasi Budaya Sekolah di Era Modern

Tual, TribunNusantara-web.id – Di tengah derasnya arus globalisasi dan perkembangan teknologi yang membawa berbagai tantangan terhadap dunia pendidikan, nilai-nilai budaya lokal dinilai tetap menjadi fondasi penting dalam membentuk karakter generasi muda. Hal inilah yang diangkat Golkarianus Ubra, S.Pd., CPSE, Guru SMA Negeri 1 Tual, dalam tulisan ilmiahnya berjudul "Mendidik dengan Hati: Refleksi Nilai Hukum Adat Larvul Ngabal dalam Dunia Sekolah" Part 15.

Dalam tulisannya, Golkarianus menegaskan bahwa sekolah yang berkualitas tidak hanya diukur dari kemegahan bangunan, kelengkapan fasilitas, atau tingginya prestasi akademik peserta didik. Lebih dari itu, sekolah harus mampu membangun budaya yang sehat, aman, humanis, dan berkarakter sebagai fondasi utama keberhasilan pendidikan.

Menurutnya, budaya sekolah merupakan ruh yang menghidupkan seluruh aktivitas pendidikan, mulai dari proses pembelajaran, interaksi antara guru dan peserta didik, hingga cara menyelesaikan berbagai persoalan di lingkungan sekolah.25/06/2026

Ia menilai, Hukum Adat Larvul Ngabal yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Kei memiliki nilai-nilai moral yang sangat relevan untuk diterapkan dalam dunia pendidikan masa kini. Nilai penghormatan terhadap martabat manusia, keadilan, tanggung jawab, dan persaudaraan dinilai mampu menjadi landasan dalam membangun budaya sekolah yang berkeadilan dan berorientasi pada pembentukan karakter.

Golkarianus menjelaskan bahwa sekolah merupakan miniatur kehidupan bermasyarakat. Karena itu, setiap warga sekolah harus diperlakukan secara setara, saling menghormati, dan menjunjung tinggi martabat sesama tanpa membedakan latar belakang agama, budaya, maupun kondisi sosial.

Ia juga mengingatkan bahwa disiplin tidak boleh hanya dimaknai sebagai kepatuhan terhadap aturan karena takut mendapat hukuman. Dalam perspektif Larvul Ngabal, disiplin merupakan bentuk tanggung jawab moral terhadap diri sendiri, sesama, dan proses pendidikan.

Selain itu, penyelesaian berbagai konflik di lingkungan sekolah juga perlu mengedepankan musyawarah, penghormatan, dan pemulihan hubungan sosial. Pendekatan tersebut sejalan dengan konsep restorative justice dalam dunia pendidikan yang lebih menekankan proses memperbaiki hubungan dibanding sekadar memberikan sanksi.

Golkarianus juga menekankan pentingnya kepemimpinan yang memberi teladan. Menurutnya, kepala sekolah, guru, maupun tenaga kependidikan harus menjadi contoh nyata dalam menjunjung kejujuran, integritas, keadilan, dan kepedulian karena karakter peserta didik lebih banyak terbentuk melalui keteladanan dibandingkan nasihat semata.

Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa membangun budaya sekolah berbasis Larvul Ngabal bukan berarti menolak kemajuan zaman. Sebaliknya, kearifan lokal justru menjadi fondasi agar generasi Kei mampu bersaing di era global tanpa kehilangan identitas budaya yang diwariskan para leluhur.

"Keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari tingginya nilai akademik peserta didik, tetapi dari sejauh mana sekolah mampu melahirkan manusia yang bermartabat, berkarakter, menghormati sesama, serta menjadi pembawa damai di tengah masyarakat," tulisnya.

Melalui tulisan berseri ini, Golkarianus berharap nilai-nilai luhur Hukum Adat Larvul Ngabal dapat terus diintegrasikan dalam dunia pendidikan sebagai bagian dari upaya membangun generasi Kei yang cerdas, berbudaya, dan memiliki karakter kuat menghadapi tantangan masa depan.

Tulisan ini akan berlanjut pada Part 16 dengan tema "Kolaborasi Sekolah, Keluarga, dan Lembaga Adat: Pilar Membangun Generasi Kei yang Berkarakter."

Editor: Bruce Elang