Menelusuri Jejak Pura Kuno di Jimbaran: Setya Kita Pancasila Galang Gerakan Selamatkan Warisan Leluhur

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 12 Oktober 2025

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Menelusuri Jejak Pura Kuno di Jimbaran: Setya Kita Pancasila Galang Gerakan Selamatkan Warisan Leluhur

Bandung-Bali, TribunNusantara.web.id | Di tengah geliat pariwisata yang tak henti menata wajah Jimbaran, tersimpan jejak spiritual yang tak lekang oleh waktu. Di balik pasir putih dan gemerlap hotel mewah, berdiri pura-pura purbakala yang menjadi saksi perjalanan panjang masyarakat adat Jimbaran menjaga harmoni antara manusia, alam, dan Sang Hyang Widi.

Sabtu, 11 Oktober 2025, organisasi Setya Kita Pancasila (SKP) Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Kabupaten Badung bersama DPW SKP Bali turun langsung ke lapangan. Mereka menemui warga Desa Adat Jimbaran untuk menindaklanjuti aduan masyarakat terkait pemblokadean akses menuju pura di kawasan Jimbaran, Kuta Selatan.

Ketua SKP DPD Badung, I Wayan Sumerta, SH, yang juga putra asli Desa Adat Jimbaran, menegaskan komitmen organisasinya untuk membela kepentingan umat dalam menjalankan ibadah.

“Dengan semangat ngayah, kami berjuang agar pura-pura yang sudah menjadi warisan turun-temurun tetap lestari. Melindungi pura sama artinya menjaga akar adat dan budaya Jimbaran,” ujarnya.

Kegiatan dimulai dengan matur piuning, permohonan restu kepada yang berstana di Pura Ulun Suwi—pura utama di Desa Adat Jimbaran. Upacara dihadiri oleh Jro Bendesa Adat Jimbaran bersama warga pengempon pura.

Seusai ritual di Ulun Suwi, rombongan melanjutkan persembahyangan ke Pura Batu Mejan dan Pura Batu Nunggul, dua pura pesisir yang kini tengah diperjuangkan agar aksesnya kembali terbuka bagi umat.

Kedua pura tersebut, menurut keyakinan masyarakat adat, merupakan bagian integral dari Pura Ulun Suwi. Keduanya menjadi benteng spiritual penjaga pesisir Jimbaran—pura-pura yang bukan hanya tempat sembahyang, tetapi juga penanda identitas dan keseimbangan alam.

Ketua SKP DPW Bali menegaskan pentingnya menjaga eksistensi pura-pura tersebut.

“Di mata masyarakat adat, pura-pura ini adalah benteng energi positif yang menjaga Jimbaran dari kehancuran spiritual. Hilangnya satu saja berarti hilangnya bagian dari jati diri desa adat,” katanya.

SKP berkomitmen memperjuangkan agar sengketa dan polemik yang membelit pura-pura di Jimbaran segera diselesaikan secara damai. Filosofinya sederhana, ujar Sumerta: jika hulu jernih, maka hilir pun akan jernih. Dengan kata lain, bila persoalan di akar spiritual diselesaikan, maka harmoni sosial akan ikut pulih.

Dari pantauan di lapangan, akses menuju pura kini telah terbuka dan situasi berjalan kondusif. Namun, SKP menegaskan perjuangan belum selesai. Mereka berencana merangkul seluruh pihak—pengelola kawasan, tokoh adat, dan pemerintah—untuk duduk bersama mencari solusi berkelanjutan.

Ketua Umum DPP SKP, Andreas Sumual, menyampaikan pesan khusus agar seluruh keluarga besar SKP dan masyarakat luas ikut menjaga situs-situs bersejarah.

“Warisan leluhur adalah identitas Nusantara. Bila kita kehilangan itu, maka kita kehilangan jati diri bangsa,” tegasnya.

Kegiatan tersebut juga mendapat perhatian dari Polda Bali, khususnya jajaran Binmas, yang turut hadir dan berinteraksi langsung dengan masyarakat di lokasi persembahyangan. Kehadiran polisi di tengah masyarakat menjadi penanda kuat bahwa negara hadir untuk menjaga harmoni sosial dan spiritual warga.

Dalam waktu dekat, SKP berencana menggelar pertemuan bersama dewan pembina dan para pemangku kepentingan untuk mencari solusi permanen. Harapannya, kasus serupa tidak lagi berulang, dan pura-pura kuno di Jimbaran dapat menjadi monumen hidup warisan peradaban Bali yang lestari.