Menimbang Gelar Pahlawan untuk Soeharto – Antara Cacat dan Capaian Sejarah
Oleh : Bambang Chaspo
Opini; TribunNusantara.web.id | Tiga puluh dua tahun berkuasa, jatuh dengan kehinaan, tetapi meninggalkan warisan yang bahkan musuh-musuhnya tak bisa menyangkal Soeharto adalah arsitek sekaligus penjaga Republik ini di masa paling rapuh. Ia membangun jalan dan irigasi, mengangkat jutaan rakyat dari kemiskinan, dan menciptakan stabilitas ketika dunia sedang kacau. Tetapi di saat yang sama, ia juga membangun tembok ketakutan, menutup mulut para pengkritik, dan membiarkan kroni menjarah kekayaan negeri.
Kini, ketika sebagian bangsa menyerukan agar Soeharto diberi gelar pahlawan nasional, kita harus bertanya dengan jujur — apa arti pahlawan di negeri yang mudah lupa ini? Apakah pahlawan adalah mereka yang berjasa, atau mereka yang tidak pernah tercela? Bila ukuran pahlawan adalah kesempurnaan moral, maka tak satu pun pemimpin layak mendapatkannya. Tetapi jika pahlawan adalah mereka yang berjasa besar bagi kelangsungan bangsa, Soeharto pantas masuk dalam daftar yang dipertimbangkan — dengan catatan, sejarahnya tak dibersihkan dari noda.
Kita boleh membencinya, tetapi kita tak bisa menghapusnya. Soeharto bukan sekadar masa lalu, ia adalah bayangan panjang yang masih hidup dalam sistem birokrasi, ekonomi, bahkan mentalitas politik hingga hari ini. Korupsi yang ia pelihara kini tumbuh lebih canggih. Kekuasaan yang dulu ia genggam kini dibungkus dengan demokrasi kosmetik. Ironisnya, banyak yang menolak Soeharto, tapi diam-diam meniru cara ia memegang kendali.
Memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto mungkin terdengar provokatif, bahkan menyinggung luka sejarah. Tapi barangkali justru di situlah ujian kedewasaan bangsa ini berani menilai sejarah secara utuh, tanpa amarah dan tanpa kepura-puraan. Kita tidak harus memaafkan untuk mengakui jasa, tetapi kita juga tidak boleh menolak kebenaran hanya karena tidak sesuai dengan selera moral hari ini.
Soeharto tidak sempurna — tapi siapa yang lebih berhasil memimpin bangsa ini selama tiga dekade tanpa perang, tanpa kelaparan massal, tanpa kekacauan? Ia bukan malaikat, tapi ia juga bukan monster. Ia adalah manusia yang pernah memegang takdir bangsa ini di tangannya. Dan suka atau tidak, sebagian dari kemajuan yang kita nikmati hari ini tumbuh dari pondasi yang ia bangun — dengan segala biaya yang menyertainya.
Jadi, apakah Soeharto pantas disebut pahlawan? Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi satu hal pasti sejarah tidak akan pernah selesai jika bangsa ini terus takut menatap wajahnya sendiri. Pahlawan sejati bukan hanya yang berjuang di masa lalu, tapi juga yang berani mengakui kebenaran sejarah betapapun pahitnya.








































Komentar via Facebook