Menjenguk Sahabat yang Kini Tak Bersuara, Namun Tetap Menggetarkan Dunia

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 10 November 2025

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Menjenguk Sahabat yang Kini Tak Bersuara, Namun Tetap Menggetarkan Dunia

Jakarta, TribunNusantara.web.id | Jumat sore, 7 November 2025. Langit Jakarta dan Tangerang cerah seperti kaca bening yang baru dipoles. Cahaya lembut itu menjadi semacam saksi ketika saya, istri saya Hj Diani Ratna Indrawati, dan sahabat lama kami Mas Ghoffar Ismail, akhirnya kembali bertemu Gantyo Koespradono. Ia wartawan senior, 68 tahun, yang kini hidup tanpa suara setelah laringnya diambil karena kanker ganas.

Pertemuan berlangsung di rumahnya di Cluster Cemara No. 12, Taman Royal 3, Tanah Tinggi, Kota Tangerang. Rumah itu sederhana, rapi, dan sunyi. Tapi begitu kami masuk, sunyi berubah menjadi hangat. Rasa senang dan pilu datang bersama, seperti dua tamu yang tak bisa dipisahkan.

Gantyo tampak lebih kurus. Ada lubang kecil di bawah jakunnya, tanda operasi besar yang pernah ia jalani. Selang di hidungnya menjadi jalan makanan dan napas pengganti. Laringnya, kotak suara yang dulu memancarkan gelak dan pendapat tajam, telah diambil sejak tahun lalu demi menahan tumor ganas.

Namun keharuan itu tak lama. Begitu Gantyo mulai berkomunikasi lewat papan tulis kecil yang selalu ia bawa, suasana berubah. Ia menulis cepat, lalu mengangkat papan itu sambil tersenyum lebar. Kami langsung menimpali, dan percakapan mengalir seperti sungai yang sudah tahu jalannya sejak muda. Ruangan keluarga segera penuh tawa. Humor Gantyo masih utuh, hanya cara penyampaiannya yang berbeda.

Ia menggoda saya soal masa pacaran yang hemat dan “terlalu romantis” karena sering naik bajaj. Gestur wajahnya saat menulis itu membuat kami berdua tertawa lama. Lalu giliran Mas Ghoffar. Dengan nakal ia menulis kata “mencipok”—istilah yang membuat kami langsung memandang ke arah Ghoffar dan istrinya, Mira. Tawa pecah lagi. Mbak Ipung, istri Gantyo, hanya tersenyum sambil menggeleng seolah berkata: “Begitulah dia, tak pernah berubah.”

Masa 1980-an pun menyeruak dari ingatan. Dulu kami berlima tinggal di rumah kontrakan di Jalan Kemuning, Pejaten: saya, Gantyo, Ghoffar, Putu Laxman Pendit, dan Almarhum Bernard Siregar. Kami sama-sama mahasiswa tingkat akhir di STP (kini IISIP), sama-sama asisten dosen Jurnalistik, dan sama-sama memupuk mimpi besar menjadi jurnalis yang layak diperhitungkan.

Rumah Kemuning itu dulu hidup siang malam. Diskusi politik, rencana kegiatan kampus, gosip seputar pemilihan Senat Mahasiswa, sampai debat kecil yang kadang selesai dengan mie instan tengah malam. Ada yang menyebut rumah itu sebagai “caucus kecil” IISIP. Kami hanya tertawa. Bagi kami, itu sekadar rumah belajar dan tempat menumbuhkan cita-cita.

Ingatan itu muncul lagi di wajah Gantyo sore itu. Hampir dua jam kami bercakap, sebelum ia tiba-tiba berdiri dari kursinya dan berjalan ke organ di sudut ruangan. Ia duduk, menatap kami sebentar, lalu mulai memainkan You Raise Me Up. Jari-jarinya menari lembut, nada-nada mengalir seperti cerita lama yang kembali pulang.

Ia tak bisa bernyanyi lagi, tapi musiknya seperti berbicara. Tentang harapan. Tentang syukur. Tentang keberanian berjalan di jalan baru tanpa suara, tapi dengan hati yang sama beningnya seperti dulu.

Setelah lagu itu, kami baru tahu satu hal lagi tentang Gantyo. Diam-diam ia menciptakan banyak lagu dengan bantuan aplikasi AI bernama Suno. Ia menulis lirik, Suno mengatur aransemen. Sudah sekitar 80 lagu ia hasilkan: dari pop, keroncong, lagu anak, sampai rohani. Dua lagu ia putar kepada kami, dan keduanya terdengar hangat serta penuh warna.

“AI bantu aransemen, tapi ide dari hati dan pikiran kita,” tulisnya sambil tersenyum bangga.

Gantyo sudah menulis beberapa buku, termasuk autobiografinya dan kisah perjuangannya menghadapi kanker laring. Kini ia sedang menunggu terbitnya buku terbarunya: Hidup Baru Bersama Kanker.

Ia memang bisu, tapi suaranya masih kuat. Ia berbicara lewat tulisan, musik, karya, dan tawa yang ia hadirkan sore itu. Mungkin juga lewat tulisan ini.

Ketika kami berpamitan, saya merasa seperti baru selesai menutup album foto lama yang halaman-halamannya hidup kembali.

Persahabatan ternyata tak memerlukan suara. Cukup hati yang saling mengenali.

Sampai jumpa lagi, Mas Gantyo dan Mbak Ipung.
 

(BR)