Merawat Stabilitas dari Timur: Ketika Kabinda Maluku Membuka Dialog dengan Pemuda Tual-Malra

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 30 Maret 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Merawat Stabilitas dari Timur: Ketika Kabinda Maluku Membuka Dialog dengan Pemuda Tual-Malra

Tual, TribunNusantara.web.id | 29 Maret 2026 | Di sebuah cafe di Kota Tual, percakapan tentang keamanan berlangsung tanpa nada komando. Kepala Badan Intelijen Negara Daerah (Kabinda) Maluku memilih pendekatan yang jarang disorot: duduk sejajar dengan organisasi kepemudaan, mendengar kegelisahan mereka, dan membicarakan stabilitas daerah dalam bahasa yang setara.

Forum itu mempertemukan unsur pemerintah daerah dan elemen pemuda dari Kota Tual serta Kabupaten Maluku Tenggara. Hadir Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kota Tual, pejabat bidang penanganan konflik dan kewaspadaan dini dari Kota Tual dan Kabupaten Maluku Tenggara, Ketua Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Kabupaten Maluku Tenggara, serta sejumlah organisasi kepemudaan seperti Pemuda Katolik, Pemuda Muhammadiyah, KNPI Kota Tual, HMI Cabang Tual–Malra, dan perwakilan elemen pemuda lainnya.

Bagi Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PD PM) Kabupaten Maluku Tenggara, langkah tersebut bukan sekadar agenda silaturahmi. Mereka menyebutnya sebagai strategi komunikasi yang substantif—sebuah pengakuan bahwa pemuda adalah aktor penting dalam ekosistem keamanan daerah.

“Pendekatan dialogis seperti ini lebih efektif dibanding pola komunikasi satu arah. Deteksi dini potensi gangguan keamanan justru lahir dari percakapan yang terbuka,” ujar perwakilan PD PM Maluku Tenggara dalam pernyataan tertulisnya.

Wilayah Maluku Tenggara dan Kota Tual bukanlah ruang sosial yang steril dari dinamika. Sejarah panjang interaksi sosial, pergerakan pembangunan, serta mobilitas informasi yang kian cepat menuntut mekanisme pengelolaan keamanan yang adaptif. Dalam konteks itu, membangun komunikasi langsung dengan organisasi kepemudaan dipandang sebagai langkah strategis.

Pemuda, menurut PD PM, tidak dapat terus-menerus ditempatkan sebagai objek pengamanan. Mereka adalah subjek yang memiliki daya pengaruh di akar rumput—penentu arah opini, penggerak solidaritas, sekaligus jembatan antar komunitas. Ketika ruang komunikasi dibuka, potensi kesalahpahaman dapat direduksi sebelum berkembang menjadi gesekan sosial.

PD PM Maluku Tenggara juga menautkan inisiatif tersebut dengan nilai lokal Maren—semangat gotong royong yang mengakar dalam masyarakat Maluku Tenggara. Dalam perspektif mereka, menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (Kamtibmas) bukan semata tugas aparat, melainkan tanggung jawab kolektif yang berangkat dari kesadaran kultural.

“Duduk bersama antar pemangku kepentingan adalah praktik nyata dari semangat Maren. Stabilitas dibangun melalui kolaborasi, bukan dominasi,” demikian pernyataan mereka.

Aspek lain yang disorot adalah relevansi stabilitas keamanan terhadap agenda pembangunan daerah. Maluku, termasuk Maluku Tenggara, tengah bergerak dengan berbagai program strategis yang membutuhkan kepastian situasi sosial. Tanpa jaminan kondusivitas, investasi dan program pembangunan rentan terhambat.

Karena itu, PD PM memandang dialog antara otoritas keamanan dan pemuda sebagai fondasi untuk memastikan tidak terjadi disinformasi atau sumbatan komunikasi di tingkat bawah. Mereka juga mengimbau seluruh elemen pemuda agar tidak mudah terprovokasi isu-isu hoaks yang berpotensi mengganggu persatuan.

“Inisiatif ini menunjukkan bahwa negara hadir dengan pendekatan humanis. Keamanan tidak selalu dibangun melalui instruksi, tetapi melalui kepercayaan,” tulis PD PM dalam pernyataannya.

Di Bumi Larwul Ngabal—tanah yang menjunjung hukum adat dan persaudaraan—stabilitas adalah prasyarat utama bagi keberlanjutan pembangunan. Pertemuan antara Kabinda Maluku dan organisasi kepemudaan itu mungkin berlangsung sederhana. Namun maknanya melampaui ruang dan waktu: sebuah pengingat bahwa di wilayah kepulauan yang jauh dari pusat kekuasaan, demokrasi tetap menemukan denyutnya melalui dialog.

Jika komunikasi semacam ini terus dirawat, Maluku Tenggara tidak hanya menjaga ketenangan hari ini, tetapi juga menanam fondasi bagi masa depan yang lebih teratur, inklusif, dan berkeadaban.
 

(Evav)