MERETAS JARAK, MENENUN KEADILAN: PENDIDIKAN KEPULAUAN TAK BOLEH TERUS DIKALAHKAN SISTEM
MERETAS JARAK, MENENUN KEADILAN: PENDIDIKAN KEPULAUAN TAK BOLEH TERUS DIKALAHKAN SISTEM
Oleh: Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah Kab. Maluku Tenggara
Langgur, Tribunnusantara-web.id Diskusi publik tentang pendidikan yang digelar hari ini bukan sekadar forum seremonial yang penuh kata-kata normatif.
29/04/2026
Ia adalah cermin yang memantulkan wajah pendidikan kita apa adanya—penuh ketimpangan, dibatasi jarak, dan sering kali kalah oleh sistem yang tidak dirancang untuk wilayah kepulauan.
Tema yang diangkat bukan basa-basi: Pendidikan Kepulauan sebagai Pilar Keadilan Sosial. Ini adalah peringatan keras bahwa hingga hari ini, keadilan pendidikan di Maluku Tenggara masih menjadi janji yang belum sepenuhnya ditepati.
Bagi kami di Pemuda Muhammadiyah, pendidikan di wilayah kepulauan bukan sekadar soal ruang kelas. Ia adalah perjuangan memutus isolasi, melawan ketertinggalan, dan menuntut keadilan yang selama ini terasa timpang.
1. Keterbatasan Anggaran Bukan Alasan Membiarkan Ketimpangan
Kita terlalu sering berlindung di balik alasan klasik: keterbatasan fiskal. Padahal, masalah utamanya bukan semata pada kecilnya anggaran, tetapi pada keberanian mengelolanya secara adil dan transparan.
Setiap rupiah anggaran pendidikan harus dipastikan benar-benar sampai ke sekolah-sekolah di pelosok—bukan habis di meja birokrasi atau berhenti di pusat kota.
Jika masih ada sekolah di wilayah terpencil yang minim fasilitas, maka yang bermasalah bukan hanya anggaran—tetapi prioritas.
Efisiensi tanpa keberpihakan hanyalah cara halus mempertahankan ketimpangan.
2. Geografi Bukan Kambing Hitam, Tapi Ujian Keseriusan
Fakta bahwa Maluku Tenggara adalah wilayah kepulauan tidak boleh terus dijadikan alasan untuk lambannya perubahan. Justru di situlah ukuran keseriusan kebijakan diuji.
Di era digital, keterisolasian seharusnya bisa dipangkas. Namun realitas berkata lain—banyak sekolah masih jauh dari akses teknologi, sementara digitalisasi sering terdengar lebih maju di laporan dibanding di lapangan.
Distribusi guru juga masih menjadi luka lama. Tanpa skema afirmasi yang jelas dan berani, ketimpangan kualitas pendidikan akan terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Jika anak di kota belajar dengan fasilitas lengkap, sementara anak di pulau terluar masih berjuang dengan keterbatasan, maka itu bukan takdir—itu kegagalan kebijakan.
3. Keadilan Pendidikan: Antara Janji dan Kenyataan
Keadilan sosial dalam pendidikan bukan slogan. Ia harus hadir dalam bentuk nyata: akses yang setara, kualitas yang merata, dan kesempatan yang adil bagi semua anak—tanpa melihat apakah ia lahir di kota atau di pulau terpencil.
Hari ini, fakta di lapangan masih menunjukkan jurang itu nyata.
Anak nelayan di Kei Besar belum tentu memiliki peluang yang sama dengan anak di pusat kota.
Jika kondisi ini terus dibiarkan, maka kita sedang membiarkan ketidakadilan tumbuh sebagai sistem.
4. Kolaborasi Ada, Tapi Jangan Berhenti di Forum
Kami mengapresiasi langkah kolaboratif antara pemerintah daerah, KNPI, Cipayung Plus, komunitas pendidikan, dan organisasi masyarakat. Ini adalah sinyal bahwa ruang dialog mulai terbuka.
Namun satu hal harus ditegaskan:
diskusi tanpa eksekusi hanyalah pengulangan masalah dalam format berbeda.
Rekomendasi harus dikawal hingga menjadi kebijakan nyata—baik dalam bentuk Perda maupun Perbup—yang berpihak pada wilayah kepulauan.
Penutup: Saatnya Berhenti Berkompromi dengan Ketertinggalan
Pendidikan di Maluku Tenggara tidak boleh menjadi “barang mewah” yang hanya dinikmati mereka yang dekat dengan pusat kekuasaan.
Ia adalah hak dasar. Dan hak tidak boleh menunggu.
Jika kita terus berdamai dengan alasan, maka ketertinggalan akan menjadi warisan. Tetapi jika kita berani mengubah arah, maka keterbatasan bisa dikalahkan oleh inovasi.
Sudah saatnya pendidikan menjadi kemudi yang benar-benar membawa Maluku Tenggara keluar dari badai ketimpangan—bukan sekadar wacana yang terus diulang setiap tahun.
Sebagaimana pesan Ahmad Dahlan:
Ilmu adalah cahaya, iman adalah kekuatan, dan amal adalah tujuan.
Pertanyaannya sekarang:
apakah kita siap mengamalkannya, atau kembali berhenti pada kata-kata?
"Elang"








































Komentar via Facebook