Meri Totora dan Upaya Menjaga Marwah Pala Fakfak

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 24 April 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Meri Totora dan Upaya Menjaga Marwah Pala Fakfak

Fakfak, TribunNusantara.web.id | Lembaga kultur dan para tokoh adat di Kabupaten Fakfak mulai mengonsolidasikan pelaksanaan ritual adat Meri Totora sebagai bagian dari upaya menjaga keberlanjutan komoditas unggulan daerah, pala Fakfak.

Konsolidasi tersebut dilakukan melalui pertemuan yang melibatkan Dewan Adat Mbaham Matta, Lembaga Masyarakat Adat (LMA), tokoh masyarakat, serta perwakilan instansi teknis Pemerintah Kabupaten Fakfak.

Pertemuan itu dipimpin Ketua Dewan Adat Mbaham Matta, Apner Hegemur, bersama Ketua LMA Fakfak, Valentinus Kabes. Hadir pula para orang tua adat, pengurus lembaga kultur, serta perwakilan Dinas Perkebunan dan Dinas Pertanian.

Dalam forum tersebut, para tokoh adat menegaskan bahwa Meri Totora bukan sekadar ritual seremonial. Tradisi ini dipandang sebagai instrumen sosial-budaya untuk menjaga keseimbangan relasi antara manusia dan alam, khususnya pohon pala yang telah menjadi identitas masyarakat Fakfak secara turun-temurun.

Apner Hegemur menyatakan pala Fakfak merupakan warisan leluhur yang memiliki dimensi ekonomi sekaligus kultural. Karena itu, pengelolaannya tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai adat.

“Pala bukan hanya komoditas perkebunan, melainkan bagian dari jati diri masyarakat Fakfak. Ia harus dijaga bersama,” ujarnya.

Valentinus Kabes menambahkan, masyarakat adat sejatinya telah memiliki seperangkat aturan dan kearifan lokal dalam merawat pala, mulai dari penanaman, pemeliharaan, hingga panen.

Praktik-praktik tersebut, menurut dia, terbukti menjaga produktivitas sekaligus kualitas buah pala. Namun, di tengah dinamika ekonomi modern, konsistensi terhadap nilai-nilai tersebut dinilai mulai menghadapi tantangan.

Di sisi lain, kualitas pala Fakfak yang dikenal baik belum sepenuhnya berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan petani. Dalam perdagangan nasional, komoditas seperti cengkeh, lada, dan kakao masih lebih dominan dalam hal popularitas maupun tata niaga. Kondisi ini menjadi refleksi bersama bahwa penguatan komoditas pala memerlukan langkah strategis yang terukur dan kolaboratif.

Sejumlah tokoh adat mengingatkan, pada masa lalu masyarakat Fakfak mampu memasarkan pala hingga ke Singapura dan Belanda, meski dengan keterbatasan sarana transportasi dan infrastruktur.

Keberhasilan tersebut ditopang oleh ketekunan, disiplin dalam merawat tanaman, serta kepatuhan terhadap norma adat yang mengatur siklus produksi.

Kepala Dinas Perkebunan Kabupaten Fakfak, Widhi Asmoro Jati, S.T., M.T dalam paparannya menekankan tiga isu utama yang perlu mendapat perhatian bersama: mutu dan kualitas pala, harga yang layak bagi petani, serta tata niaga yang lebih tertata dan berkeadilan. Menurut dia, penguatan komoditas tidak dapat dilakukan secara parsial.

“Pala adalah bagian dari identitas daerah. Ia memiliki nilai ekonomi sekaligus nilai budaya. Karena itu, penghormatan terhadap pala harus diwujudkan dalam upaya menjaga mutu dan kualitasnya,” kata Widhi.

Ia menilai, mutu menjadi fondasi utama dalam membangun daya saing. Jika kualitas terjaga secara konsisten, maka harga akan mengikuti dan sistem tata niaga dapat diperbaiki. Pemerintah daerah, lanjutnya, hadir sebagai regulator sekaligus mitra masyarakat adat dalam memastikan pengelolaan pala berjalan berkelanjutan.

Widhi juga menyoroti pentingnya mempertahankan praktik kearifan lokal seperti sasi kera-kera yang selama ini berfungsi sebagai mekanisme sosial dalam menjaga kualitas dan siklus panen. Menurut dia, kolaborasi antara pemerintah dan lembaga adat menjadi prasyarat agar pala Fakfak tetap memiliki marwah sebagai komoditas unggulan daerah.

Melalui momentum persiapan Meri Totora, lembaga adat dan pemerintah daerah berharap kesadaran kolektif masyarakat untuk merawat pohon pala dapat diperkuat kembali.

Sinergi tersebut diharapkan tidak hanya menjaga pala sebagai warisan budaya, tetapi juga mendorongnya menjadi komoditas bernilai tambah tinggi yang mampu meningkatkan kesejahteraan petani serta memperkuat posisi Fakfak dalam peta perdagangan nasional dan internasional.
 

Writter : Den | Editor : Den