Meski di Luar Daerah, Plt Kadis Pendidikan Malra “Stand By” Monitoring dan Pemantauan USP Jenjang SMP di Kab Maluku Tenggara Secara Virtuall
Meski di Luar Daerah, Plt Kadis Pendidikan Malra “Stand By” Pantau USP dari Subuh hingga Sore: Guru Mengaku Merasa Dikawal
LANGGUR, Tribunnusantara-web.id Di saat sebagian pejabat memilih “hilang dari radar” ketika berada di luar daerah, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara justru menunjukkan pola berbeda. Meski tengah mengikuti sejumlah agenda di luar daerah, Binraudha Arif Hanoeboen tetap mengawal pelaksanaan Ujian Satuan Pendidikan (USP) jenjang SMP Tahun Pelajaran 2025–2026 secara intens melalui Zoom.
Sejak pagi buta hingga petang, aktivitas pemantauan dilakukan tanpa jeda. Dinas Pendidikan bahkan menyiapkan sistem pemantauan virtual dari pukul 06.30 WIT sampai 18.00 WIT guna memastikan pelaksanaan ujian berjalan tertib dan terkendali.
Di sejumlah SMP di Kota Langgur dan sekitarnya, para guru tampak sibuk menyiapkan ruang ujian, administrasi, hingga kesiapan siswa. Namun di balik kesibukan itu, muncul satu hal yang menjadi perbincangan para tenaga pendidik: perhatian langsung Plt Kadis Pendidikan yang tetap aktif memonitor meski tidak berada di Maluku Tenggara.
Beberapa unggahan guru di media sosial memperlihatkan sesi Zoom bersama Plt Kadis Pendidikan. Bagi sebagian orang mungkin terlihat sederhana, tetapi bagi para guru di lapangan, kehadiran virtual tersebut dianggap sebagai bentuk kepedulian yang jarang dilakukan secara konsisten.
“Ibu Kadis memang di luar daerah, tapi beliau terus memantau pelaksanaan ujian. Dari pagi sampai sore tetap aktif lewat Zoom,” ungkap salah satu pejabat Dinas Pendidikan yang meminta namanya tidak dipublikasikan.
Sejumlah guru dan kepala sekolah juga mengakui bahwa pola pengawasan seperti ini memberi dampak psikologis positif bagi sekolah.
“Kami merasa tetap dikawal. Anak-anak juga lebih serius karena merasa diperhatikan langsung oleh pimpinan dinas,” ujar salah satu kepala sekolah.
Langkah ini sekaligus menjadi tamparan halus bagi pola birokrasi lama yang sering menjadikan tugas luar daerah sebagai alasan untuk melepas pengawasan di lapangan. Di tengah tuntutan perbaikan mutu pendidikan, pengawasan aktif seperti ini dinilai menjadi bukti bahwa kepemimpinan tidak selalu harus hadir secara fisik untuk bekerja nyata.
Semangat yang dibangun Binraudha Arif Hanoeboen juga dianggap sejalan dengan momentum Hardiknas: pendidikan tidak boleh berjalan dengan pola lama yang pasif dan seremonial. Pengawasan, keterlibatan, dan komunikasi aktif harus menjadi budaya baru jika Maluku Tenggara ingin keluar dari berbagai persoalan pendidikan yang selama ini terus berulang.
Publik kini menaruh harapan agar pola kerja seperti ini tidak berhenti pada momentum ujian semata, tetapi benar-benar menjadi fondasi perubahan di tubuh Dinas Pendidikan Kabupaten Maluku Tenggara.
(*****)








































Komentar via Facebook