MIMIKA DARURAT JUDI? PASAL 303 KUHP SEAKAN MATI, PUBLIK CURIGA ADA “TANGAN BESI” YANG MELINDUNGI

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 12 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

MIMIKA DARURAT JUDI? PASAL 303 KUHP SEAKAN MATI, PUBLIK CURIGA ADA “TANGAN BESI” YANG MELINDUNGI

MIMIKA DARURAT JUDI? PASAL 303 KUHP SEAKAN MATI, PUBLIK CURIGA ADA “TANGAN BESI” YANG MELINDUNGI

TIMIKA, Tribunnusantara-web.id — Mimika perlahan berubah wajah. Kota yang selama ini dikenal sebagai jantung tambang dan pusat ekonomi Papua Tengah kini mulai dicap warga sebagai “kota perjudian” yang hidup terang-terangan di depan mata aparat.

Togel, king, bola guling, hingga berbagai jenis judi ilegal lainnya disebut tumbuh seperti jamur di musim hujan. Dari kios kecil, lorong permukiman, warung kopi, sampai kawasan Terminal Pasar Sentral, aktivitas perjudian diduga berjalan nyaris tanpa hambatan.

Yang membuat publik marah, semua itu terjadi bukan secara sembunyi-sembunyi, melainkan terbuka seperti aktivitas resmi yang seolah mendapat ruang aman.

Pasal 303 KUHP yang seharusnya menjadi senjata penindakan kini dipertanyakan tajinya. Di mata masyarakat, hukum seperti mendadak lumpuh ketika berhadapan dengan bisnis perjudian yang diduga sudah mengakar kuat.

“Semua orang tahu lokasi togel. Semua tahu siapa penulis dan pemain besarnya. Tapi anehnya tidak pernah benar-benar disentuh. Jadi masyarakat mau percaya apa lagi?” ujar seorang tokoh masyarakat dengan nada keras, Senin (12/5/2026).

Sorotan tajam kini mengarah langsung ke Polres Mimika. Publik menilai aparat gagal menunjukkan keseriusan memberantas perjudian yang disebut sudah berlangsung bertahun-tahun.

Kecurigaan masyarakat pun semakin liar. Banyak yang mulai mempertanyakan apakah aparat memang tidak mampu menindak, atau justru ada pembiaran yang sengaja dipelihara karena dianggap menguntungkan pihak tertentu.

Isu dugaan “bekingan” pun berembus semakin keras di tengah masyarakat.

Karena bagi warga, mustahil bisnis ilegal sebesar itu bisa hidup bebas tanpa ada kekuatan yang menjaga dari belakang.

“Kalau rakyat kecil bikin kesalahan cepat ditangkap. Tapi perjudian sebesar ini kok seperti kebal hukum?” kata seorang warga dengan nada kecewa.

Kondisi ini membuat kepercayaan publik terhadap penegakan hukum mulai terkikis. Aparat dinilai tajam ke bawah, tetapi tumpul ketika berhadapan dengan bisnis ilegal yang menghasilkan uang besar.

Masyarakat bahkan meminta Kapolri turun tangan mengevaluasi Kapolda Papua Tengah dan Kapolres Mimika karena dianggap gagal membersihkan Mimika dari praktik perjudian ilegal.

Sebab yang sedang dipertaruhkan bukan hanya soal togel atau bola guling semata, tetapi masa depan sosial masyarakat kecil.

Perjudian disebut mulai menghancurkan mental warga pelan-pelan. Banyak orang kini lebih percaya “angka keberuntungan” daripada kerja keras. Harapan palsu dijual setiap hari, sementara korbannya adalah rakyat kecil yang makin tenggelam dalam kesulitan ekonomi.

Uang dapur habis di meja togel. Anak-anak terlantar kebutuhan sekolahnya. Rumah tangga mulai retak karena kecanduan judi.

Ironisnya, para bandar disebut hanya muncul saat mengumpulkan uang masyarakat, tetapi menghilang ketika warga membutuhkan bantuan sosial.

“Kalau ada orang sakit atau kegiatan kampung mereka tidak pernah ada. Tapi kalau urusan togel, mereka paling rajin,” ujar warga lainnya.

Kini masyarakat menunggu satu hal: keberanian aparat untuk membuktikan bahwa hukum masih hidup di Mimika.

Karena jika perjudian tetap bebas beroperasi tanpa sentuhan hukum, maka publik akan semakin yakin bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar sedang bermain di belakang layar.

Dan pertanyaan paling tajam itu kini mulai menggema di tengah masyarakat Mimika:

Apakah aparat benar-benar memberantas perjudian… atau justru sedang hidup dari perjudian?

(*****)