Mimika Kaya, Rakyat Menjerit: Ekonomi Lumpuh, Mama-Mama Papua Tercekik, Anak Muda Kehilangan Harapan

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 19 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Mimika Kaya, Rakyat Menjerit: Ekonomi Lumpuh, Mama-Mama Papua Tercekik, Anak Muda Kehilangan Harapan

Mimika Kaya, Rakyat Menjerit: Ekonomi Lumpuh, Mama-Mama Papua Tercekik, Anak Muda Kehilangan Harapan

Timika Tribunnusantara-web.id  — Di tengah melimpahnya kekayaan alam dan derasnya aliran uang di Kabupaten Mimika, jeritan masyarakat kecil justru semakin keras terdengar. Kondisi ekonomi daerah dinilai sedang tidak baik-baik saja. Aktivitas usaha lesu, lapangan kerja makin sempit, pengusaha lokal megap-megap, sementara masyarakat kecil berjuang bertahan hidup di tanah yang kaya raya.

Keresahan itu kini mulai meledak ke ruang publik. Masyarakat Papua menilai Mimika sedang mengalami kelumpuhan ekonomi yang nyata, namun ironisnya belum mendapat perhatian serius dari pemerintah.19/05/2026

“Hari ini rakyat susah. Pengusaha lokal susah bergerak, pencari kerja makin putus asa, mama-mama Papua makin tercekik kebutuhan hidup. Tapi pejabat seolah merasa semua masih baik-baik saja,” ungkap suara keresahan masyarakat yang beredar luas di Timika.

Yang paling terdampak disebut adalah masyarakat asli Papua, khususnya Amungme, Kamoro, dan lima suku kekerabatan sebagai pemilik negeri ini. Banyak masyarakat mulai merasa hanya menjadi penonton di atas tanah sendiri.

Di satu sisi, Mimika dikenal sebagai daerah dengan kekayaan luar biasa dan anggaran besar. Namun di sisi lain, rakyat kecil justru mengaku semakin sulit mendapatkan ruang ekonomi dan kesempatan hidup layak.

“Ini ironi besar. Tanah kaya, tapi rakyatnya menjerit,” kritik masyarakat tajam.

Lesunya aktivitas pembangunan dan minimnya pergerakan proyek pemerintah disebut menjadi salah satu pemicu utama lumpuhnya ekonomi masyarakat. Perputaran uang di tingkat bawah melemah drastis, berdampak langsung terhadap pedagang kecil, mama-mama Papua, sopir, buruh, hingga pelaku UMKM lokal.

Situasi ini membuat banyak anak muda Papua mulai kehilangan harapan karena lapangan pekerjaan semakin sempit sementara angka kebutuhan hidup terus meningkat.

“Anak-anak muda hari ini bingung mau kerja di mana. Pengusaha lokal juga kesulitan hidup. Kalau kondisi seperti ini terus dibiarkan, masyarakat bisa kehilangan kepercayaan terhadap pemerintah,” bunyi pernyataan tersebut.

Masyarakat menilai pemerintah terlalu banyak bicara soal pembangunan, tetapi realitas di lapangan justru menunjukkan ekonomi rakyat sedang sekarat.

“Rakyat tidak makan janji, tidak makan seremoni, tidak makan pidato. Yang rakyat butuhkan adalah pekerjaan dan keberpihakan nyata,” kecam mereka.

Kondisi ini juga menjadi alarm keras bagi pemerintah daerah agar tidak terus menutup mata terhadap penderitaan masyarakat kecil. Sebab jika ekonomi rakyat terus dibiarkan lumpuh, maka yang tumbuh bukan kesejahteraan, melainkan kemarahan sosial.

Kini masyarakat Papua di Mimika hanya berharap satu hal sederhana: pemerintah benar-benar hadir untuk rakyat, bukan hadir di baliho dan podium semata.

*Pemburu*