MTQ 2024 Diduga Jadi Panggung Bagi-Bagi Jabatan: Ayat Suci, Kursi OPD, dan Aroma Permainan Kekuasaan di Mimika

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 11 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

MTQ 2024 Diduga Jadi Panggung Bagi-Bagi Jabatan: Ayat Suci, Kursi OPD, dan Aroma Permainan Kekuasaan di Mimika

MTQ 2024 Diduga Jadi Panggung Bagi-Bagi Jabatan: Ayat Suci, Kursi OPD, dan Aroma Permainan Kekuasaan di Mimika

Mimika Papua Tengah Tribunnusantara-web.id Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) 2024 yang seharusnya menjadi panggung syiar Islam kini justru diselimuti dugaan busuk yang mengguncang publik. Kegiatan religius bernilai Rp10,5 miliar itu diduga bukan sekadar ajang membaca ayat suci, tetapi juga “jalur cepat” menuju kursi jabatan di lingkungan Pemerintah Kabupaten Mimika.

Dugaan yang beredar bahkan sangat serius: MTQ disebut-sebut dipakai sebagai kendaraan kepentingan kelompok tertentu untuk mengamankan empat jabatan strategis dalam rolling OPD.11/5/26

Lebih mengejutkan lagi, sumber internal yang meminta namanya dirahasiakan menyebut adanya dugaan permainan yang sudah dirancang sejak awal. Menurutnya, target utama kegiatan itu bukan sekadar prestasi keagamaan atau membawa nama daerah menjadi juara, melainkan memastikan “orang-orang tertentu” naik jabatan setelah acara selesai.

“MTQ selesai, jabatan naik. Publik tinggal disuruh percaya itu kebetulan,” ujar sumber tersebut tajam.

Kecurigaan publik makin membesar karena hanya berselang sekitar sebulan setelah MTQ digelar, terbit SK rolling jabatan OPD Kabupaten Mimika. Nama-nama yang sebelumnya disebut berada dalam inti kepanitiaan MTQ diduga ikut menikmati promosi jabatan.

Di titik inilah publik mulai mencium aroma permainan kekuasaan.

SK Panitia MTQ dan SK rolling jabatan kini dibanding-bandingkan masyarakat. Dan semakin dicocokkan, semakin muncul pertanyaan yang sulit dijawab dengan kata “kebetulan”.

Belum selesai sampai di situ, dugaan rekayasa administrasi ikut mencuat ke permukaan. Sumber menyebut sejumlah CV dan usaha catering yang terlibat diduga baru mengurus akta notaris pada Mei 2024—hanya beberapa waktu sebelum kegiatan MTQ berlangsung.

Pertanyaannya: apakah semua sudah dipersiapkan jauh hari untuk kepentingan tertentu?

Jika dugaan ini benar, maka yang terjadi bukan lagi sekadar pelanggaran etika birokrasi. Ini bisa menjurus pada dugaan manipulasi kegiatan keagamaan demi kepentingan jabatan dan proyek.

Ironisnya, semua itu terjadi di balik nama besar kegiatan suci.

Ayat-ayat Al-Qur’an dibacakan. Mimbar agama ditegakkan. Tetapi di belakang layar, publik justru mencium aroma transaksi kekuasaan.

Yang paling menyakitkan, jika benar kegiatan keagamaan dipakai sebagai alat tukar jabatan, maka yang tercoreng bukan hanya pemerintahan daerah—tetapi juga kesucian MTQ itu sendiri.

DPRK Mimika, aparat pengawasan internal, hingga aparat penegak hukum kini ditantang untuk tidak pura-pura buta. Sebab publik tidak sedang membicarakan gosip biasa. Yang dipersoalkan adalah dugaan penyalahgunaan kegiatan agama untuk kepentingan kekuasaan birokrasi.

Dan bila semua ini terus dibiarkan tanpa penjelasan, masyarakat akan sampai pada satu kesimpulan paling berbahaya: bahwa di Mimika, kegiatan ibadah pun bisa berubah menjadi pasar politik jabatan.

(*****)