MTQ XXX Papua Tengah Diduga Jadi Sarang Korupsi Berjamaah: Puluhan Miliar Menguap, APH Mimika Dituding “Masuk Angin”

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 29 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

MTQ XXX Papua Tengah Diduga Jadi Sarang Korupsi Berjamaah: Puluhan Miliar Menguap, APH Mimika Dituding “Masuk Angin”

MTQ XXX Papua Tengah Diduga Jadi Sarang Korupsi Berjamaah: Puluhan Miliar Menguap, APH Mimika Dituding “Masuk Angin”

MIMIKA, Tribunnusantara-web.id – Skandal dugaan korupsi MTQ XXX Papua Tengah Tahun 2024 kini meledak dan mulai menyeret nama-nama penting di lingkaran panitia. Kegiatan keagamaan yang seharusnya menjadi simbol moral dan syiar Islam justru diduga berubah menjadi ladang bancakan anggaran berjamaah dengan nilai fantastis.

Aroma busuk dugaan laporan pertanggungjawaban (LPJ) fiktif, permainan proyek, hingga dugaan barter jabatan kini semakin menyengat. Ironisnya, aparat penegak hukum di Mimika justru dinilai seperti kehilangan taring. Publik pun mulai terang-terangan menuding APH “masuk angin”.29/05/2029

Sorotan tajam kini mengarah kepada Sekretaris Panitia, Abdul Syakur S.Pd, yang diduga ikut menyusun LPJ bermasalah atas arahan Ketua Harian panitia. Dokumen pertanggungjawaban kegiatan yang menelan anggaran puluhan miliar rupiah itu hingga kini tak pernah dibuka secara transparan ke publik.

Sumber internal yang mengetahui proses penyusunan laporan menyebut, LPJ dibuat secara kilat di tengah panasnya situasi politik Pilkada 2024. Kondisi itu diduga dimanfaatkan untuk merapikan administrasi agar berbagai dugaan penyimpangan anggaran sulit dibongkar.

“Yang rakyat lihat cuma panggung megah, tamu VIP, baliho besar dan seremoni mewah. Tapi setelah acara selesai, uang miliaran itu hilang seperti ditelan bumi,” ungkap sumber tersebut.

Lebih mengejutkan lagi, publik mulai mencium adanya dugaan praktik “bagi-bagi kue” dan permainan jabatan pasca MTQ. Rolling sejumlah posisi strategis setelah kegiatan berlangsung memunculkan kecurigaan adanya balas jasa politik dan kepentingan tertentu di balik proyek keagamaan itu.

Padahal sumber dana MTQ disebut mengalir dari berbagai institusi besar seperti PT Freeport Indonesia, Bank Papua, LPTQ Papua Tengah, BUMN, perusahaan swasta hingga para donatur lainnya. Nilainya diyakini sangat besar.

Namun sampai hari ini, masyarakat Mimika tidak pernah mengetahui secara jelas ke mana uang tersebut mengalir, siapa penerima manfaatnya, dan siapa saja yang diduga menikmati “pesta anggaran” berkedok syiar agama tersebut.

Kemarahan publik kini tak lagi terbendung. Warga mulai mempertanyakan keberanian Kepolisian dan Kejaksaan di Mimika yang dinilai mandul menghadapi berbagai dugaan kasus korupsi kelas kakap.

“Kasus kecil rakyat biasa cepat diproses. Tapi kalau sudah miliaran dan melibatkan elite, semuanya mendadak senyap. APH jangan pura-pura tuli,” tegas seorang tokoh masyarakat Mimika.

Deretan dugaan kasus korupsi bernilai belasan miliar hingga triliunan rupiah yang terus bermunculan di Mimika namun minim penindakan membuat kepercayaan publik terhadap aparat penegak hukum terus merosot tajam.

Masyarakat kini mendesak Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, Jaksa Agung ST Burhanuddin, hingga Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) segera turun tangan mengambil alih penanganan kasus tersebut sebelum bukti-bukti penting diduga lenyap.

Kasus MTQ Papua Tengah dinilai bukan lagi sekadar dugaan kesalahan administrasi biasa, melainkan indikasi serius korupsi berjamaah yang membungkus diri dengan simbol agama dan kegiatan keumatan.

Jika dugaan ini benar, maka praktik tersebut bukan hanya mencoreng nama MTQ, tetapi juga menjadi pengkhianatan besar terhadap kepercayaan umat dan masyarakat Papua Tengah.

Hingga berita ini diterbitkan, Abdul Syakur maupun Ketua Harian Panitia MTQ XXX Papua Tengah belum memberikan klarifikasi resmi terkait berbagai tudingan yang berkembang luas di tengah publik.

(Redaksi Tribunnusantara)