Opini : Kabut Asap Karhutla Selimuti Fakfak, Kesiapsiagaan Kesehatan Tak Boleh Menunggu
Abdul Samad Hatala, S.Sos., M.Si (Wartawan TribunNusantara-Fakfak)
Fakfak, TribunNusantara.web.id | Kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang menyelimuti sejumlah wilayah di Kabupaten Fakfak tak hanya mengganggu jarak pandang. Lebih dari itu, kondisi tersebut menjadi sinyal perlunya kewaspadaan terhadap dampak kesehatan masyarakat.
Pada Selasa (22/9/2026), tutupan asap dilaporkan cukup tebal di sejumlah wilayah Fakfak. Kondisi dengan jarak pandang yang diperkirakan sekitar dua kilometer itu berlangsung sejak pagi hingga sore hari.
Kabut asap tersebut dikaitkan dengan karhutla yang terjadi di wilayah Distrik Tomage dan Distrik Bomberay sejak awal Juli hingga kini. Situasi itu berlangsung di tengah musim kemarau dengan kondisi atmosfer yang relatif kering.
Namun, jarak pandang saja belum cukup untuk menentukan tingkat risiko kesehatan akibat paparan asap. Tingkat bahayanya perlu dilihat berdasarkan data kualitas udara dan konsentrasi partikulat, terutama PM2,5, yang menjadi salah satu parameter penting dalam menilai paparan polusi udara.
Karena itu, pemantauan kualitas udara secara berkala menjadi penting. Informasi yang akurat akan membantu pemerintah maupun masyarakat menentukan langkah perlindungan, khususnya apabila konsentrasi pencemar meningkat.
Bukan Sekadar Persoalan Lingkungan
Karhutla selama ini kerap dipandang sebagai persoalan lingkungan. Padahal, ketika asap bergerak menuju permukiman dan ruang aktivitas warga, persoalannya berkembang menjadi isu kesehatan masyarakat.
Asap hasil pembakaran hutan dan lahan mengandung partikulat serta berbagai zat pencemar yang dapat mengganggu sistem pernapasan. Paparan asap dapat menyebabkan iritasi pada mata, hidung dan tenggorokan, sekaligus memperburuk kondisi masyarakat yang sebelumnya telah memiliki gangguan pernapasan.
Risiko tersebut perlu menjadi perhatian terutama apabila paparan berlangsung dalam waktu lama.
Bukan berarti setiap orang yang menghirup asap akan mengalami gangguan kesehatan. Namun, paparan asap merupakan faktor risiko yang perlu diantisipasi, terlebih bagi kelompok masyarakat yang lebih rentan.
Jangan Menunggu Kasus Meningkat
Di tengah kondisi tersebut, kesiapsiagaan kesehatan tidak semestinya baru diperkuat setelah masyarakat mulai banyak berobat.
Puskesmas, rumah sakit, Dinas Kesehatan, BPBD, pemerintah distrik, pemerintah kampung, sekolah, serta instansi terkait perlu memperkuat koordinasi. Pemantauan kondisi udara dan perkembangan keluhan kesehatan masyarakat dapat menjadi bagian penting dari langkah antisipasi.
Kelompok rentan seperti anak-anak, lanjut usia, ibu hamil, serta masyarakat dengan penyakit penyerta perlu mendapat perhatian lebih. Paparan partikulat halus, termasuk PM2,5, menjadi perhatian karena partikulat berukuran sangat kecil dapat masuk lebih jauh ke dalam saluran pernapasan.
Pada saat yang sama, masyarakat membutuhkan informasi yang sederhana dan mudah dipahami. Bukan sekadar mengetahui bahwa udara sedang berasap, tetapi juga mengetahui apa yang harus dilakukan ketika kualitas udara memburuk dan kapan harus mencari pertolongan medis.
Kenali Gejala, Kurangi Paparan
Masyarakat yang berada di wilayah terdampak asap sebaiknya tidak mengabaikan gejala seperti batuk, tenggorokan kering atau sakit, mata perih dan berair, sesak napas, maupun keluhan pernapasan lainnya.
Ketika kondisi udara memburuk, aktivitas di luar ruangan perlu dikurangi. Jika harus keluar rumah, penggunaan masker dapat membantu mengurangi paparan partikulat. Aktivitas fisik berat di ruang terbuka juga sebaiknya dihindari, disertai kecukupan asupan air.
Bagi masyarakat yang mengalami keluhan kesehatan, terutama gangguan pernapasan atau sesak napas, pemeriksaan di fasilitas pelayanan kesehatan perlu segera dilakukan.
Kabut asap memang akan berlalu ketika sumber dan kondisi pendukungnya teratasi. Namun, dampak kesehatannya tidak selalu berhenti bersamaan dengan hilangnya asap.
Karena itu, ketika karhutla masih berlangsung di Tomage dan Bomberay, kesiapsiagaan kesehatan menjadi bagian penting dari respons bersama. Penanganan kebakaran tetap menjadi prioritas, tetapi perlindungan terhadap masyarakat yang berada di jalur paparan asap juga tidak boleh dikesampingkan.








































Komentar via Facebook