Opini: Pelayanan Pemuda Bukan Panggung, Tapi Proses Pembentukan Oleh: Ev. Adolop Gobai,S.Th.
Tribun-nusantara.web.id. Nabire-Papua Tengah, Sabtu. 25 Aplir 2026 Sering kali kita mengukur pelayanan pemuda Kingmi Se-Tanah Papua dari seberapa ramai acaranya, seberapa keren dekorasinya, atau seberapa viral dokumentasinya. Padahal, esensi pelayanan pemuda di gereja gereja Kingmi di tanah Papua tengah, tidak pernah ada di panggung. Ia ada di proses.
Dalam perjalanan saya melayani pemuda, Kingmi Sinode Papua Tengah, satu hal yang makin jelas, setiap pertemuan menyimpan cerita, dan setiap cerita menyimpan pembentukan Tuhan.
Kita terlalu sibuk mengejar “sukses pelayanan” versi manusia: jumlah peserta, like di Instagram, tepuk tangan meriah. Tapi kita lupa bahwa Tuhan justru bekerja paling dalam justru di ruang-ruang yang tidak terlihat.
-Pertama, pelayanan mengajari kesetiaan yang mahal.
Saya melihat pemuda yang tetap datang latihan paduan suara meski harus jalan kaki 3 jam. Yang tetap ikut doa pagi meski semalam jaga mama di RS. Kesetiaan seperti ini tidak bisa dibuat di atas panggung. Ia ditempa dalam keterbatasan.
-Kedua, pelayanan membongkar kerendahan hati.
Di era semua orang mau jadi content creator rohani, ada pemuda yang memilih jadi “tim beres-beres kursi” setelah ibadah. Tidak posting, tidak dikenal, tidak dapat panggung. Tapi tanpa mereka, ibadah tidak jalan. Inilah cermin Kristus: melayani tanpa sorotan.
-Ketiga, pelayanan adalah sekolah kasih yang paling jujur.
Gampang merangkul teman yang sepaham. Tapi pelayanan memaksa kita merangkul yang menyebalkan, yang mengkhianati, yang lambat berubah. Di titik inilah kasih diuji: apakah kita melayani manusia, atau melayani Tuhan lewat manusia.
Masalah terbesar pemuda hari ini, kita ingin hasil tanpa proses, ingin mahkota tanpa salib, ingin dipuji tanpa dibentuk. Padahal, kegagalan dalam pelayanan bukan aib, itu kelas pendewasaan. Keberhasilan pun bukan trofi, itu bukti penyertaan Tuhan, bukan kehebatan kita.
Karena itu, saya menolak menjadikan pelayanan sebagai ajang unjuk kemampuan. Pelayanan adalah soal hati yang rela dibentuk. Skill bisa dilatih, tapi karakter hanya bisa ditempa Tuhan lewat gesekan dengan sesama.
Kepada generasi muda yang sedang lelah melayani: cerita kalian tidak sia-sia. Setiap tetes keringat yang tidak dilihat orang, dicatat di surga. Setiap air mata yang jatuh saat kalian kecewa dengan teman sepelayanan, dipakai Tuhan untuk melembutkan hati kalian.
Jangan berhenti hanya karena tidak diapresiasi. Jangan mundur hanya karena tidak naik panggung. Cerita pelayananmu bukan untuk dikenang di feed Instagram, tapi untuk dibagikan agar jadi berkat.
Kesimpulan Adolof Gobai, Sebab pada akhirnya, yang Tuhan tanya bukan “seberapa hebat acaramu?”, tapi “seberapa lembut hatimu setelah melayani?”
Pelayanan pemuda bukan tentang kita. Dari awal sampai akhir, ini tentang Dia yang memanggil, membentuk, dan memakai kita.
( Jeri P. Degei)








































Komentar via Facebook