PEGAWAI BANDARA BUKA SUARA: DUGAAN UCAPAN RASIAL DI BALIK CEKCOK AKSES VIP, UANG DIHAMBURKAN

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 14 Agustus 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

PEGAWAI BANDARA BUKA SUARA: DUGAAN UCAPAN RASIAL DI BALIK CEKCOK AKSES VIP, UANG DIHAMBURKAN

PEGAWAI BANDARA BUKA SUARA: DUGAAN UCAPAN RASIAL DI BALIK CEKCOK AKSES VIP, UANG DIHAMBURKAN

TIMIKA, PAPUA TENGAH Tribunnusantara-web.id — Insiden di area Bandara Timika yang melibatkan seorang pegawai bandara dan seorang anggota dewan kini memasuki babak serius. Bukan lagi sekadar persoalan akses jalur VIP, peristiwa tersebut disebut berkembang menjadi cekcok yang menyeret identitas suku, dugaan intimidasi, kontak fisik, hingga uang pecahan Rp100 ribu yang disebut dihamburkan ke arah sejumlah pegawai.

Salah satu pegawai bandara yang berada di lokasi, Reynaldy Agusto Likumahua, akhirnya buka suara mengenai kronologi kejadian yang menurutnya perlu diungkap secara terang agar tidak menimbulkan kesimpangsiuran di tengah masyarakat.14/8/26

Reynaldy menegaskan, persoalan awal sebenarnya sederhana: soal akses kendaraan di jalur VIP Bandara Timika.

Menurut keterangannya, kejadian berlangsung setelah penerbangan selesai sekitar pukul 14.20 WIT. Saat itu, Reynaldy bersama sejumlah rekannya berada di sekitar jalur VIP terminal.

Tidak lama berselang, sebuah kendaraan datang dari arah kejauhan dengan lampu menyala dan membunyikan klakson panjang. Kendaraan kemudian berhenti di sekitar barier akses VIP.

Penumpang kendaraan disebut meminta akses dibuka karena sedang terburu-buru dan mengaku sebagai anggota DPR.

Namun, Reynaldy mengatakan dirinya hanya menjalankan aturan dan mengarahkan agar kendaraan menggunakan jalur yang sesuai.

  “Saya sampaikan bahwa aksesnya bukan lewat sini. Kalau untuk kedatangan, harus mundur dan memutar ke jalur kedatangan,” ungkap Reynaldy.»

DARI SOAL AKSES, BERGESER KE IDENTITAS SUKU

Situasi yang awalnya berkaitan dengan prosedur akses bandara kemudian disebut berubah menjadi perdebatan.

Reynaldy mengaku sempat memilih menjauh agar persoalan tidak semakin besar. Namun, percakapan kembali terjadi dan menurut keterangannya mulai menyentuh persoalan identitas serta asal daerah.

Di titik inilah dugaan ucapan bernuansa rasial menjadi sorotan.

Reynaldy menyebut dirinya ditanya mengenai asal-usul dan mengaku mendapat ucapan yang menurutnya bernuansa diskriminatif terhadap orang Maluku.

Seorang rekannya yang disebut berasal dari Jayapura juga disebut ikut terseret dalam cekcok tersebut.

Bagi Reynaldy, persoalan tersebut tidak dapat dianggap sebagai pertengkaran biasa apabila benar terdapat ucapan yang membawa-bawa identitas suku.

“Kalau pribadi, saya tidak masalah. Tetapi kalau sudah membawa-bawa suku, menurut saya itu kurang pantas, apalagi yang bersangkutan seorang anggota dewan,” tegasnya.

DIDUGA ADA TARIK-MENARIK BAJU DAN AJAKAN BERKELAHI

Ketegangan disebut semakin meningkat hingga terjadi kontak fisik ringan.

Reynaldy mengaku terjadi tindakan menarik pakaian serta adanya ajakan untuk berkelahi. Namun, ia memilih tidak melayani dan berusaha menahan diri agar situasi tidak berkembang menjadi bentrokan.

  “Saya tidak mau melawan. Saya tidak ingin persoalan ini menjadi lebih besar,” katanya.»

Menurut Reynaldy, setelah pihak tersebut sempat masuk ke kendaraan, yang bersangkutan kembali turun dan percakapan kembali berlangsung.

Situasi kemudian disebut semakin panas.

UANG PECAHAN RP100 RIBU DISEBUT DIHAMBURKAN

Bagian lain yang kini ikut menjadi perhatian adalah dugaan penghamburan uang.

Reynaldy menyebut terdapat uang pecahan Rp100.000 yang kemudian dihamburkan ke arah mereka. Ia mengaku tidak mengetahui secara pasti jumlah uang tersebut.

Menurutnya, terdapat rekaman video yang dapat menjadi salah satu bahan untuk menguji kebenaran kejadian tersebut.

Yang menurut Reynaldy menjadi persoalan harga diri adalah tidak ada seorang pun dari mereka yang mengambil uang tersebut.

 “Kami merasa kami punya harga diri. Jadi tidak ada yang mengambil uang itu,” ujarnya.»

PEGAWAI BANDARA: KAMI MENJALANKAN ATURAN, BUKAN MENCARI MASALAH

Reynaldy menegaskan bahwa petugas bandara memiliki kewajiban menjalankan prosedur dan menjaga ketertiban pelayanan.

Ia meminta siapa pun yang menggunakan fasilitas bandara, termasuk pejabat publik, tetap menghormati petugas yang sedang menjalankan tugas.

“Kami juga tidak tahu apa salah kami. Kalau ada bapak-bapak yang mau berangkat, kami juga menghargai. Kami hanya berharap kami juga dihargai,” tuturnya.

Pernyataan ini sekaligus menjadi pesan bahwa posisi sebagai pejabat publik tidak semestinya menjadi alasan untuk mengabaikan aturan maupun merendahkan petugas di lapangan.

DUGAAN RASISME TAK BOLEH DIANGGAP SEPELE

Dugaan ucapan bernuansa rasial dalam insiden ini menjadi bagian paling sensitif. Apalagi peristiwa tersebut disebut terjadi di ruang publik dan melibatkan seorang pejabat yang memiliki tanggung jawab moral untuk menjadi contoh dalam menjaga kerukunan masyarakat.

Jika dugaan tersebut benar, persoalannya tidak lagi berhenti pada cekcok antara individu. Ada persoalan yang lebih besar menyangkut penghormatan terhadap keberagaman dan martabat masyarakat.

Namun demikian, seluruh dugaan tersebut tetap harus diuji melalui bukti dan pemeriksaan yang objektif.

Rekaman CCTV, video yang beredar, keterangan saksi, serta keterangan kedua belah pihak menjadi penting untuk membongkar fakta sebenarnya.

PUBLIK MENUNGGU TRANSPARANSI DAN KLARIFIKASI

Kasus ini tidak boleh diselesaikan hanya berdasarkan klaim sepihak.

Jika benar terdapat ucapan diskriminatif, intimidasi, kontak fisik, maupun tindakan lain yang melanggar hukum atau etika, maka harus ada mekanisme pemeriksaan yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Sebaliknya, apabila terdapat keterangan yang tidak sesuai fakta, pihak yang disebut juga memiliki hak untuk memberikan klarifikasi dan menghadirkan bukti pembanding.

Yang tidak boleh terjadi adalah persoalan sensitif seperti dugaan rasisme dibiarkan mengambang tanpa kejelasan.

Masyarakat Papua, Maluku, dan seluruh warga yang hidup di Timika memiliki hak yang sama untuk mendapatkan penghormatan, rasa aman, dan perlakuan yang bermartabat.

Bandara adalah ruang publik. Aturan harus berlaku untuk semua, dan perbedaan suku, asal daerah, maupun jabatan tidak boleh menjadi alasan untuk merendahkan seseorang.

REYNALDY AGUSTO LIKUMAHUA

Pegawai Bandara yang mengaku berada di lokasi dan menjadi pihak yang terdampak dalam insiden tersebut.

Catatan Redaksi: Seluruh tuduhan dalam berita ini masih merupakan keterangan Reynaldy Agusto Likumahua dan belum merupakan kesimpulan hukum. Redaksi tidak memvonis pihak mana pun. Pihak anggota dewan yang disebut dalam peristiwa tersebut tetap memiliki hak untuk memberikan klarifikasi dan hak jawab secara berimbang. Fakta kejadian perlu diverifikasi melalui rekaman CCTV, video, keterangan saksi, serta proses pemeriksaan oleh pihak berwenang.

Penulis: MGF