Pela dan Teabel, Benteng Persaudaraan Orang Kei yang Menaklukkan Konflik dan Menjadi Teladan Kerukunan Indonesia

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 09 Juni 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pela dan Teabel, Benteng Persaudaraan Orang Kei yang Menaklukkan Konflik dan Menjadi Teladan Kerukunan Indonesia

Pela dan Teabel, Benteng Persaudaraan Orang Kei yang Menaklukkan Konflik dan Menjadi Teladan Kerukunan Indonesia

TRIBUNNUSANTARA-WEB.ID, LANGGUR – Jauh sebelum istilah toleransi dan moderasi beragama ramai diperbincangkan, masyarakat Kei telah lebih dahulu mewariskan sebuah sistem persaudaraan yang kokoh dan mampu meredam konflik, yakni Pela dan Teabel.

Warisan leluhur yang lahir dari sejarah panjang peperangan dan pertikaian itu justru menjelma menjadi kekuatan besar yang menyatukan masyarakat, melampaui batas suku, agama, bahkan perbedaan wilayah.09/06/2026

Mantan Sekretaris Daerah Kabupaten Maluku Tenggara periode 2008-2018, Ir. Petrus Beruatwarin, mengungkapkan bahwa ikatan persaudaraan dan persahabatan masyarakat Kei terbentuk sejak zaman dahulu, setelah berbagai konflik terjadi antar-suku, antara kelompok Ur Siw dan Lor Lim, hingga antar-ohoi (desa) di Kepulauan Kei.

Alih-alih mewariskan dendam, para leluhur Kei memilih membangun perdamaian yang berakar kuat melalui nilai-nilai persaudaraan yang hingga kini tetap dijaga.

"Perbedaan bukanlah ancaman, melainkan kekayaan yang harus dirawat bersama," demikian filosofi yang diwariskan turun-temurun oleh masyarakat Kei.

Filosofi tersebut kemudian dipertegas melalui hukum adat Larvul Ngabal yang disusun secara rinci dan dijalankan dengan penuh kepatuhan.

Tak berlebihan jika banyak kalangan menyebut Larvul Ngabal sebagai benteng moral masyarakat Kei yang berhasil menjaga harmoni di tengah berbagai ujian zaman.

Dari Medan Perang Menjadi Ikatan Persaudaraan

Dalam buku Ambon the Island of Spices, penulis Shirley Dean menyebutkan terdapat tiga jenis Pela yang berkembang di Maluku.

Pertama, Pela Batu Karang atau Pela Darah, yang lahir setelah peristiwa besar dan peperangan sebagai simbol berakhirnya permusuhan.

Kedua, Pela Tempat Sirih, yang terbentuk karena adanya bantuan dan solidaritas antar-desa dalam memulihkan hubungan yang retak.

Ketiga, Pela Kawasan atau Segandong, yang dibangun atas dasar sejarah dan asal-usul bersama (Tom-Tad), dengan sumpah untuk saling menjaga dan mengasihi.

Bagi masyarakat Kei, Pela bukan sekadar simbol budaya, melainkan sumpah persaudaraan yang memiliki nilai sakral.

Karena itu, perkawinan antar-pela pada umumnya dilarang. Pelanggaran terhadap aturan adat tersebut diyakini dapat mendatangkan berbagai musibah dan ketidakharmonisan dalam kehidupan keluarga.

Saat Indonesia Belajar dari Maluku

Ketika konflik sosial melanda Maluku pada 1998, nilai-nilai persaudaraan yang hidup dalam masyarakat Maluku kembali menjadi perhatian nasional.

Presiden RI ke-3, B. J. Habibie, bersama Menteri Agama RI saat itu, bahkan pernah menyampaikan bahwa siapa pun yang ingin belajar tentang kerukunan umat beragama, hendaknya melihat Maluku.

Pernyataan itu menjadi pengakuan bahwa di tengah luka konflik, masyarakat Maluku, termasuk orang Kei, memiliki modal sosial yang luar biasa dalam merawat persaudaraan.

Di saat dunia modern masih mencari formula hidup berdampingan dalam perbedaan, masyarakat Kei sejatinya telah lama membuktikan bahwa perdamaian bukan lahir dari keseragaman, melainkan dari penghormatan terhadap sesama.

Pela dan Teabel bukan sekadar tradisi. Ia adalah warisan peradaban, benteng persaudaraan, dan bukti bahwa dari tanah Kei telah lahir nilai-nilai kemanusiaan yang mampu mengalahkan dendam dan menaklukkan perbedaan.

Editor : Bruce Elang