PELATIHAN KEPEMIMPINAN PEMUDA 2026 DIBUKA, PEMKAB MIMIKA: PEMUDA TAK BOLEH HANYA JADI PENONTON PEMBANGUNAN

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 05 Oktober 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

PELATIHAN KEPEMIMPINAN PEMUDA 2026 DIBUKA, PEMKAB MIMIKA: PEMUDA TAK BOLEH HANYA JADI PENONTON PEMBANGUNAN

PELATIHAN KEPEMIMPINAN PEMUDA 2026 DIBUKA, PEMKAB MIMIKA: PEMUDA TAK BOLEH HANYA JADI PENONTON PEMBANGUNAN

TIMIKA, PAPUA TENGAH — TribunNusantara-web.id

Pemerintah Kabupaten Mimika menegaskan bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya bertumpu pada pembangunan infrastruktur, pengelolaan sumber daya alam dan pertumbuhan ekonomi. Di tengah perubahan teknologi dan tuntutan zaman, kualitas serta kapasitas generasi muda menjadi salah satu penentu arah masa depan daerah.

Pesan itu mengemuka saat Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Kabupaten Mimika, Drs. Ananias Faot, M.Si., mewakili pimpinan daerah membuka secara resmi Pelatihan Kepemimpinan Kepemudaan Tingkat Kabupaten Mimika Tahun 2026, Senin (5/10/2026).

Kegiatan tersebut diselenggarakan oleh Dinas Pemuda dan Olahraga Kabupaten Mimika sebagai bagian dari upaya meningkatkan kapasitas, karakter dan kemampuan kepemimpinan generasi muda di daerah.

Dalam sambutannya, Ananias menyampaikan permohonan maaf dari pimpinan daerah yang belum dapat hadir karena menjalankan agenda kedinasan. Pada waktu yang bersamaan, Wakil Bupati Mimika menghadiri Upacara HUT ke-81 TNI, sementara Sekretaris Daerah menjalankan agenda pemerintahan lainnya.

Namun, substansi yang disampaikan pemerintah daerah dalam kegiatan tersebut dinilai jauh lebih penting daripada sekadar seremoni pembukaan.

PEMUDA HARUS NAIK KELAS: DARI PESERTA MENJADI PENGGERAK

Ananias menegaskan bahwa pemuda Mimika tidak boleh ditempatkan hanya sebagai objek pembangunan.

Generasi muda harus didorong menjadi pelaku perubahan, inovator, penggerak masyarakat sekaligus mitra strategis pemerintah dalam melahirkan berbagai gagasan dan solusi bagi persoalan pembangunan.

“Pemuda merupakan aset bangsa, generasi penerus sekaligus kekuatan strategis dalam menentukan arah dan masa depan pembangunan daerah,” tegas Ananias.

Menurutnya, seorang pemimpin muda tidak cukup hanya memiliki kecerdasan akademik. Kepemimpinan harus dibangun melalui karakter, integritas, kedisiplinan, kreativitas, kemampuan berkomunikasi, tanggung jawab serta keberanian mengambil keputusan secara bijaksana.

Pandangan tersebut sejalan dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan, yang menempatkan pemuda sebagai bagian strategis dalam pembangunan nasional serta mengatur pelayanan kepemudaan melalui penyadaran, pemberdayaan dan pengembangan.

Karena itu, pelatihan kepemimpinan tidak seharusnya berhenti pada sertifikat atau kegiatan seremonial. Ukuran keberhasilannya harus terlihat dari munculnya pemuda yang mampu menghasilkan gagasan, membangun organisasi, menciptakan inovasi dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

ERA DIGITAL: PEMUDA DITUNTUT PUNYA KOMPETENSI, BUKAN SEKADAR IJAZAH

Ananias juga mengingatkan bahwa perkembangan teknologi telah mengubah pola kehidupan, dunia kerja dan kebutuhan pembangunan.

Pendidikan formal tetap penting, tetapi generasi muda juga harus memiliki keterampilan yang relevan dengan kebutuhan zaman.

Ia mendorong peserta untuk terus mengembangkan kompetensi, kreativitas dan inovasi.

“Mulailah belajar dan berinovasi. Akan jauh lebih penting memunculkan berbagai kreativitas dan inovasi yang dapat dipertanggungjawabkan,” ujarnya.

Pesan tersebut menjadi penting bagi Mimika yang menghadapi tantangan pembangunan semakin kompleks. Pemuda dituntut tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu menggunakannya untuk menciptakan solusi, membuka peluang ekonomi, memperkuat pelayanan masyarakat dan menjawab persoalan sosial di lingkungan masing-masing.

KEPEMIMPINAN BUKAN SOAL JABATAN

Menurut Ananias, kepemimpinan tidak harus dimulai setelah seseorang memperoleh jabatan politik atau posisi formal dalam pemerintahan.

Kepemimpinan justru dimulai dari kemampuan mengendalikan dan memimpin diri sendiri.

“Mulailah memimpin dari diri sendiri, mulai dari keluarga, mulai dari lingkungan, mulai dari organisasi dan mulai memberikan manfaat bagi masyarakat,” pesannya.

Pernyataan tersebut menempatkan kepemimpinan pemuda sebagai proses pembentukan karakter yang dimulai dari lingkungan paling dekat sebelum berkembang menjadi kepemimpinan sosial yang lebih luas.

PEMBANGUNAN KEPEMUDAAN BUKAN HANYA URUSAN DINAS PEMUDA

Pemerintah Kabupaten Mimika juga diingatkan bahwa pembangunan kepemudaan membutuhkan kerja lintas sektor.

Hal itu sejalan dengan Perpres Nomor 43 Tahun 2022 tentang Koordinasi Strategis Lintas Sektor Penyelenggaraan Pelayanan Kepemudaan, yang mengatur perlunya sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah dan berbagai pemangku kepentingan dalam pelayanan kepemudaan.

Perpres tersebut secara khusus mencakup program sinergis dalam penyadaran, pemberdayaan, pengembangan kepemimpinan, kewirausahaan dan kepeloporan pemuda. Koordinasi juga diarahkan untuk menghadapi berbagai persoalan yang berkaitan dengan pemuda, termasuk pengangguran, kemiskinan, kekerasan serta penyalahgunaan narkotika.

Dengan demikian, pembangunan kepemudaan di Mimika semestinya tidak berhenti pada agenda pelatihan. Pemerintah daerah perlu memastikan adanya kesinambungan antara pelatihan, pendampingan, kesempatan berusaha, pengembangan organisasi, akses pendidikan, ruang kreativitas dan keterlibatan pemuda dalam pembangunan daerah.

JANGAN SAMPAI PELATIHAN BERHENTI DI RUANG KELAS

Di sinilah tantangan sebenarnya.

Pelatihan kepemimpinan akan kehilangan makna apabila setelah kegiatan selesai peserta kembali tanpa ruang untuk mengimplementasikan pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh.

Karena itu, pemerintah daerah perlu mendorong agar para peserta memiliki ruang aktualisasi melalui organisasi kepemudaan, kewirausahaan, kegiatan sosial, inovasi digital, pengembangan ekonomi kreatif maupun keterlibatan dalam program pembangunan daerah.

Pemuda perlu diberi kesempatan untuk membuktikan bahwa mereka bukan hanya penerima program, tetapi mampu menjadi mitra pemerintah dalam menciptakan perubahan.

Model tersebut juga sejalan dengan semangat Perpres 43 Tahun 2022 yang menekankan komunikasi dan kemitraan antara pemerintah daerah dan organisasi kepemudaan.

MASA DEPAN MIMIKA TIDAK BOLEH KEHILANGAN GENERASI PEMIMPIN

Ananias mengajak seluruh peserta mengikuti pelatihan secara sungguh-sungguh, aktif berdiskusi, bertukar pengalaman, membangun jejaring dan memperkuat persaudaraan antarpemuda.

Ia menegaskan pentingnya karakter, integritas, ilmu pengetahuan dan keterampilan sebagai modal menghadapi masa depan.

“Mari kita membangun generasi muda Mimika menuju masyarakat yang lebih cerdas, berinovasi, berintegritas dan mampu memberikan manfaat yang lebih positif bagi lingkungan,” katanya.

Atas nama Pemerintah Kabupaten Mimika, Ananias Faot secara resmi membuka Pelatihan Kepemimpinan Kepemudaan Tingkat Kabupaten Mimika Tahun 2026.

Pelatihan tersebut diharapkan menjadi lebih dari sekadar agenda tahunan pemerintah. Ia harus menjadi bagian dari investasi jangka panjang untuk menyiapkan generasi muda Mimika yang mampu berpikir kritis, berintegritas, adaptif terhadap teknologi, mampu bekerja lintas kelompok dan berani mengambil tanggung jawab sosial.

Sebab, ukuran keberhasilan pembangunan kepemudaan bukan seberapa banyak kegiatan yang dilaksanakan, melainkan seberapa banyak pemuda yang setelah mengikuti program benar-benar mampu menciptakan perubahan.

Mimika membutuhkan pemuda yang bukan hanya siap menjadi penerus, tetapi juga berani menjadi penggerak pembangunan hari ini dan pemimpin daerah di masa depan.

Dari Mimika untuk masa depan: membangun pemuda hari ini, menyiapkan pemimpin masa depan.

Penulis: Maichel Rahawarin

Editor: B.E