Pelatihan Pustakawan Muda 2026 Ditutup, Dispora Mimika Dorong Pemuda Jadi Motor Penggerak Literasi
Pelatihan Pustakawan Muda 2026 Ditutup, Dispora Mimika Dorong Pemuda Jadi Motor Penggerak Literasi
TIMIKA, PAPUA TENGAH — TribunNusantara-web.id — Pelatihan Pustakawan Muda Tahun 2026 resmi ditutup setelah berlangsung selama tiga hari di Kabupaten Mimika. Kegiatan tersebut tidak hanya diarahkan untuk memberikan pengetahuan teknis kepada peserta, tetapi juga menjadi bagian dari upaya membangun budaya membaca serta memperkuat peran generasi muda dalam menggerakkan literasi di tengah masyarakat.
Sekretaris Dinas Pemuda dan Olahraga (Dispora) Kabupaten Mimika, Alberthin Timang, menegaskan bahwa berakhirnya kegiatan pelatihan tidak boleh dimaknai sebagai berakhirnya gerakan literasi. Sebaliknya, para peserta diharapkan mampu membawa pengetahuan dan pengalaman yang diperoleh selama pelatihan ke lingkungan masing-masing.30/9/26
“Kami berharap setelah tiga hari mengikuti pelatihan ini, para pemuda dan pegiat literasi dapat kembali ke komunitas, sekolah, lingkungan masjid, gereja, masyarakat maupun keluarga dengan membawa seluruh materi dan pengalaman yang telah mereka dapatkan,” ujar Alberthin.
Menurutnya, peserta tidak cukup hanya menjadi penerima materi. Mereka diharapkan mampu menjadi motor penggerak literasi dengan mengajak anak-anak, remaja, pemuda hingga masyarakat umum untuk kembali membangun kebiasaan membaca.
Alberthin menilai membaca merupakan salah satu pintu utama untuk memperluas wawasan, pengetahuan dan pengalaman. Karena itu, gerakan literasi harus terus dihidupkan melalui berbagai pendekatan yang sesuai dengan perkembangan zaman.
“Harapan kami, mereka mampu menjadi penggerak di lingkungan masing-masing dan mengajak semua kalangan untuk mengaktifkan kembali minat membaca. Membaca adalah jendela dunia,” katanya.
Literasi Tak Lagi Terbatas pada Buku Cetak
Perkembangan teknologi digital, kata Alberthin, juga membuka ruang yang lebih luas bagi masyarakat untuk memperoleh bahan bacaan. Karena itu, budaya membaca tidak harus selalu dilakukan melalui buku dalam bentuk fisik.
“Tidak harus selalu dengan buku. Kalau ada yang lebih berminat membaca buku secara online atau melalui media digital, itu juga tidak menjadi masalah. Yang terpenting adalah keinginan untuk membaca dan terus belajar,” jelasnya.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penguatan literasi di era digital membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif. Buku cetak, perpustakaan, bahan bacaan elektronik dan berbagai sumber pengetahuan digital dapat menjadi bagian dari ekosistem literasi sepanjang digunakan secara positif dan bertanggung jawab.
Buku Bantuan Didorong Menjadi Perpustakaan Mini
Sebagai bagian dari keberlanjutan program, para pustakawan muda nantinya akan memperoleh bantuan sejumlah buku. Bantuan tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai koleksi pribadi, tetapi dapat dikembangkan menjadi perpustakaan mini di lingkungan masing-masing.
Perpustakaan mini tersebut dapat menjadi ruang sederhana bagi anak-anak, pemuda dan masyarakat untuk membaca, berdiskusi serta berbagi pengetahuan.
Dengan demikian, hasil pelatihan tidak hanya terlihat pada saat kegiatan berlangsung, tetapi dapat memberikan dampak yang lebih panjang di tingkat komunitas.
Dispora Mimika juga membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas gerakan literasi di Kabupaten Mimika.
“Agenda ini tidak berhenti sampai di sini. Ke depan akan lebih banyak lagi pihak yang kami ajak untuk berkolaborasi bersama-sama membangkitkan minat baca di kalangan masyarakat,” ujar Alberthin.
Ia berharap apabila kegiatan serupa kembali dilaksanakan pada tahun berikutnya, jumlah peserta dan komunitas yang terlibat semakin luas sehingga manfaat program dapat dirasakan oleh lebih banyak masyarakat.
“Kalau tahun depan kegiatan ini kami laksanakan lagi, harapan kami akan lebih banyak lagi yang dapat hadir dan terlibat dalam kegiatan seperti ini,” tambahnya.
Sejalan dengan Amanat Undang-Undang
Penguatan budaya membaca melalui pelatihan dan pengembangan perpustakaan memiliki landasan hukum yang cukup kuat.
Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 tentang Perpustakaan menempatkan perpustakaan sebagai wahana belajar sepanjang hayat dan menegaskan pentingnya pengembangan budaya gemar membaca melalui pengembangan serta pendayagunaan perpustakaan. UU tersebut juga mengatur pembudayaan kegemaran membaca, layanan perpustakaan, tenaga perpustakaan, pendanaan serta peran serta masyarakat.
Sementara itu, Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional juga menempatkan pengembangan budaya membaca, menulis dan berhitung sebagai bagian dari penyelenggaraan pendidikan.
Dari sisi kepemudaan, Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2009 tentang Kepemudaan memberikan ruang strategis bagi pemuda untuk terlibat dalam pembangunan. Pasal 16 menegaskan bahwa pemuda berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial dan agen perubahan dalam segala aspek pembangunan nasional.
Karena itu, keterlibatan pemuda dalam gerakan literasi bukan sekadar kegiatan tambahan, melainkan dapat menjadi bagian dari pengembangan kapasitas generasi muda sebagai agen perubahan. UU Kepemudaan juga mengatur pelayanan kepemudaan melalui penyadaran, pemberdayaan dan pengembangan potensi pemuda.
Dari Pelatihan Menuju Gerakan Literasi
Penutupan Pelatihan Pustakawan Muda 2026 menjadi momentum untuk mengukur keberlanjutan program. Tantangan berikutnya bukan lagi sekadar bagaimana memberikan pelatihan kepada peserta, tetapi bagaimana memastikan pengetahuan tersebut benar-benar diterapkan dan melahirkan aktivitas literasi di tengah masyarakat.
Pemerintah, pemuda, sekolah, komunitas, keluarga, rumah ibadah dan masyarakat memiliki ruang yang sama untuk membangun lingkungan yang mendorong budaya membaca.
Para pustakawan muda diharapkan tidak berhenti sebagai peserta pelatihan, tetapi berkembang menjadi penggerak yang mampu membuka ruang-ruang baca, menghidupkan diskusi, mengajak anak-anak membaca dan memperkenalkan berbagai sumber pengetahuan kepada masyarakat.
Sebab, membangun budaya literasi bukan hanya persoalan menyediakan buku. Lebih jauh, literasi berkaitan dengan bagaimana membangun rasa ingin tahu, memperluas wawasan, meningkatkan kemampuan berpikir serta membuka akses pengetahuan bagi generasi muda.
Dari tiga hari pelatihan tersebut, diharapkan lahir gerakan yang jauh lebih panjang: satu peserta membawa pengetahuan, satu komunitas mulai bergerak, dan semakin banyak generasi muda Mimika kembali mencintai membaca.
Penulis: MAICHEL RAHAWARIN
Editor: Bruce Elang








































Komentar via Facebook