PELETAKAN BATU PERTAMA HONAI HAPAK: SAATNYA PEMUDA ADAT MIMIKA BANGKIT DAN BERHENTI JADI PENONTON DI TANAH SENDIRI
PELETAKAN BATU PERTAMA HONAI HAPAK: SAATNYA PEMUDA ADAT MIMIKA BANGKIT DAN BERHENTI JADI PENONTON DI TANAH SENDIRI
TIMIKA, PAPUA TENGAH Tribunnusantara-web.id — Dari Tanah Amungsa, sebuah pesan keras akhirnya dikumandangkan kepada seluruh generasi muda asli Papua: adat tidak boleh mati, dan pemuda tidak boleh terus menjadi penonton di negeri leluhurnya sendiri.
Momentum peletakan batu pertama Honai HAPAK menjadi lebih dari sekadar pembangunan rumah adat. Ini adalah tanda kebangkitan. Tanda bahwa pemuda Amungme, Kamoro, dan lima suku kerabat mulai menyatukan kekuatan untuk merebut kembali ruang budaya, ruang suara, dan ruang perjuangan yang selama ini perlahan terpinggirkan di tengah derasnya arus kepentingan luar.19/05/2026.
Honai atau Tongoi bagi suku Amungme bukan bangunan biasa. Tongoi adalah sekolah kehidupan. Tempat para leluhur mendidik anak laki-laki menjadi manusia yang tahu harga diri, tahu menjaga tanah adat, tahu menghormati perempuan, tahu melindungi suku, dan tahu berdiri tegak di atas kaki sendiri.
Di dalam Tongoi, generasi muda diajarkan berburu untuk bertahan hidup, berkebun untuk menghargai tanah, berdagang untuk mandiri, hingga memahami adat dan sejarah agar tidak kehilangan identitas sebagai orang asli Papua.
Namun hari ini, nilai-nilai itu mulai tergerus zaman. Banyak anak muda adat kehilangan arah karena budaya perlahan ditinggalkan, sementara kepentingan luar terus masuk dan menguasai ruang-ruang kehidupan masyarakat asli.
Karena itu, pembangunan Honai HAPAK menjadi simbol perlawanan terhadap hilangnya jati diri orang Papua di tanahnya sendiri.
Peletakan batu pertama yang dilakukan HAPAK berlangsung penuh makna dan spiritualitas. Batu yang diletakkan bukan hanya pondasi bangunan, tetapi pondasi perjuangan generasi penerus. Sebuah ikatan sakral antara pemuda hari ini dengan roh para leluhur yang sejak dahulu menjaga Tanah Amungsa.
Honai ini nantinya diharapkan menjadi markas persatuan pemuda adat, tempat lahirnya pikiran-pikiran besar, tempat menyuarakan aspirasi rakyat kecil, sekaligus benteng terakhir penjaga budaya dan martabat orang asli Papua di Mimika.
Pemuda Amungme, Kamoro, dan lima suku kerabat kini mengirim pesan tegas: mereka tidak akan tinggal diam melihat adat dipinggirkan dan generasi muda kehilangan akar budayanya.
Tongoi HAPAK hadir sebagai simbol bahwa kebangkitan itu sudah dimulai.
Dan ketika pondasi pertama telah diletakkan, maka semangat perjuangan itu tidak boleh lagi runtuh.
Salam hormat,
By Dianu Omaleng
*Pemburu*








































Komentar via Facebook