Pemkot Tual Perkuat Gerakan Literasi Sejarah, Bon Setitit Jadi Pahlawan Nasional.
Pemkot Tual Perkuat Gerakan Literasi Sejarah, Bon Setitit Jadi Pahlawan Nasional.
Warisan Bon Setitit Tak Berhenti di Halaman Buku, Pemkot Tual Siapkan Langkah Nyata Perkuat Arsip, Literasi, dan Identitas Sejarah Kei
TUAL Tribunnusantara-web.id – Pemerintah Kota Tual menunjukkan komitmen serius dalam menjaga warisan sejarah dan jati diri masyarakat Kei. Usai sukses menggelar Bedah Buku "Bon Setitit: Dari Kei untuk Konferensi Meja Bundar", Pemkot Tual melalui Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Daerah langsung menyusun langkah-langkah strategis untuk memperkuat pelestarian sejarah, menyelamatkan arsip perjuangan, serta mendorong pengusulan Drs. Bonaventura (Bon) Setitit sebagai Pahlawan Nasional.
Komitmen tersebut mengemuka dalam pertemuan tindak lanjut yang dirangkaikan dengan penyerahan salinan arsip sejarah Bon Setitit di Ruang Diskusi Perpustakaan Umum Daerah Kota Tual, Selasa (21/7/2026).
Kegiatan ini menjadi lebih dari sekadar evaluasi pasca-bedah buku. Forum tersebut berkembang menjadi ruang konsolidasi berbagai pemangku kepentingan untuk memastikan sejarah Kei tidak berhenti sebagai cerita masa lalu, melainkan menjadi fondasi pendidikan, literasi, dan pembangunan karakter generasi muda.
Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tual Rudi A. Bugis, SE., M.Si, Sekretaris Dinas Ratnasari Tamher, S.Sos., M.Si, penulis buku Capt. Stephanus G. Setitit, jajaran Dinas Perpustakaan dan Kearsipan, pegiat literasi Maryadat, serta mahasiswa KKN UGM Tualang Tual yang menjadi panitia pelaksana bedah buku.
Sejarah Harus Hidup, Bukan Sekadar Disimpan
Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kota Tual, Rudi A. Bugis, menegaskan bahwa menjaga sejarah merupakan tanggung jawab bersama, bukan hanya pemerintah.
Menurutnya, arsip dan karya literasi memiliki nilai strategis sebagai sumber pengetahuan yang mampu memperkuat identitas daerah sekaligus menanamkan semangat kebangsaan kepada generasi penerus.
"Sejarah harus dijaga dan diwariskan. Arsip serta literasi menjadi jembatan agar generasi muda memahami perjuangan para pendahulunya," tegas Rudi.
Ia menilai pelestarian sejarah hanya akan berhasil apabila pemerintah, akademisi, pegiat literasi, komunitas, dan masyarakat bergerak dalam satu kolaborasi.
Mengangkat Kembali Jejak Putra Kei dalam Sejarah Indonesia
Dalam kesempatan tersebut, Capt. Stephanus G. Setitit menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Kota Tual atas dukungan terhadap upaya pelestarian sejarah melalui kegiatan bedah buku.
Menurutnya, buku Bon Setitit: Dari Kei untuk Konferensi Meja Bundar bukan sekadar biografi seorang tokoh, tetapi merupakan upaya mengangkat kembali kontribusi putra Kei dalam perjalanan sejarah Indonesia.
"Buku ini bukan hanya tentang perjalanan seorang tokoh, tetapi menjadi bagian dari upaya menggali kembali sejarah Kei dan kontribusi putra daerah dalam perjalanan bangsa Indonesia," ujarnya.
Ia berharap karya tersebut dapat menjadi referensi sejarah yang menginspirasi generasi muda untuk mengenal akar sejarah daerahnya.
Bon Setitit, Tokoh Kei di Balik Diplomasi Kemerdekaan Indonesia
Nama Drs. Bonaventura Setitit bukanlah sosok biasa dalam perjalanan sejarah nasional.
Lahir di Kepulauan Kei pada 19 Mei 1919, Bon Setitit menempuh pendidikan pemerintahan di OSVIA Makassar sebelum melanjutkan pendidikan di Brisbane, Australia, pada masa Perang Dunia II.
Pengalaman internasional tersebut membentuk cara pandangnya terhadap pentingnya pendidikan, pemerintahan, dan nasionalisme.
Pada tahun 1947, ketika menjabat sebagai Controleur di Saumlaki, Bon Setitit bersama sejumlah tokoh mendeklarasikan Mosi Rakyat Kei, sebagai bentuk dukungan terhadap cita-cita kemerdekaan Indonesia.
Ia juga dikenal berani mengibarkan Sang Merah Putih pada masa ketika mempertahankan identitas kebangsaan masih penuh risiko.
Puncak kiprahnya terjadi saat dipercaya bertugas pada Sekretariat Jenderal Konferensi Meja Bundar (KMB) di Den Haag, Belanda.
Dalam forum diplomasi yang menjadi tonggak pengakuan kedaulatan Indonesia itu, Bon Setitit berperan menyusun notula dan risalah resmi persidangan, menjadikannya bagian penting dari proses diplomasi bangsa.
Usai KMB, ia melanjutkan pengabdian di Kementerian Dalam Negeri Republik Indonesia, khususnya dalam bidang pemerintahan dan desentralisasi.
Jejak hidupnya membuktikan bahwa perjuangan membangun bangsa tidak hanya dilakukan di medan perang, tetapi juga melalui diplomasi, pendidikan, ilmu pengetahuan, dan pengabdian kepada negara.
Hibah Buku Perkuat Literasi dan Arsip Daerah
Sebagai bentuk dukungan terhadap penguatan literasi sejarah, Capt. Stephanus G. Setitit menyerahkan hibah kepada Pemerintah Kota Tual berupa:
20 eksemplar buku "Bon Setitit: Dari Kei untuk Konferensi Meja Bundar";
2 eksemplar buku "Sebiji dari Tenggara"; dan
buku "Menembus Langit Bersama Garuda".
Penyerahan hibah ditandai dengan penandatanganan berita acara oleh Capt. Stephanus G. Setitit bersama Kepala Bidang Layanan Perpustakaan Alifuan Amir, S.Kom., M.AP.
Selain itu, buku Menembus Langit Bersama Garuda juga diserahkan secara langsung kepada Wali Kota Tual H. Akhmad Yani Renuat, S.Sos., M.Si., M.H. di Pendopo Yarler.
Dalam forum tersebut juga mengemuka rekomendasi untuk mendorong pengusulan Bon Setitit sebagai Pahlawan Nasional, sebagai bentuk penghargaan atas jasa dan kontribusinya dalam sejarah Indonesia.
Membangun Mimpi Besar Generasi Kei
Usai seluruh agenda resmi, Capt. Stephanus G. Setitit melanjutkan diskusi bersama Sekretaris Dinas Perpustakaan Ratnasari Tamher dan Kepala Bidang Konflik dan Kewaspadaan Nasional Badan Kesbangpol Kota Tual, Salim Nuhuyanan.
Dalam suasana penuh keakraban, Capt. Setitit berbagi pengalaman sekaligus memotivasi generasi muda Kei agar berani memiliki cita-cita besar.
Ia mengusulkan lahirnya program pembinaan calon pilot bagi anak-anak Kei, dimulai dari penguatan bahasa Inggris, kedisiplinan, pengenalan dunia penerbangan, hingga pembinaan karakter.
"Semua berawal dari proses belajar. Jangan langsung berpikir menerbangkan pesawat. Bekali dulu diri dengan disiplin, kemampuan bahasa Inggris, dan semangat belajar. Saya yakin anak-anak Kei mampu bersaing," pesannya.
Selain dunia penerbangan, ia juga mendorong generasi muda mencintai dunia literasi.
Menurutnya, menulis bukan sekadar merangkai kata, tetapi membutuhkan riset, kejujuran, serta tanggung jawab terhadap setiap informasi yang disampaikan.
Ia mengaku terharu melihat antusiasme masyarakat Kota Tual terhadap Bedah Buku Bon Setitit.
"Sebagai penulis, kebahagiaan terbesar adalah ketika karya kita dibaca, diterima, dan memberi manfaat bagi banyak orang. Sambutan masyarakat Tual menjadi motivasi bagi saya untuk terus berkarya," ungkapnya.
Menutup kunjungannya di Kota Tual, Capt. Stephanus G. Setitit berpamitan untuk kembali ke Yogyakarta.
Namun, ia meninggalkan harapan besar agar dari bumi Kei lahir semakin banyak generasi muda yang mampu mengharumkan nama daerah di tingkat nasional maupun internasional.
"Saya berharap bisa kembali lagi ke Tual. Semoga dari daerah ini lahir lebih banyak pilot, penulis, peneliti, dan generasi muda yang mampu mengharumkan nama Kei di tingkat nasional maupun internasional."
Kegiatan Bedah Buku Bon Setitit kini tidak lagi dimaknai sebagai seremoni literasi semata. Lebih dari itu, kegiatan tersebut telah berkembang menjadi gerakan bersama untuk menyelamatkan arsip sejarah, memperkuat budaya literasi, menjaga identitas masyarakat Kei, serta membuka jalan bagi pengakuan atas jasa putra daerah yang telah memberikan kontribusi nyata bagi perjalanan bangsa Indonesia.
Editor: Bruce Elang








































Komentar via Facebook