Pemuda Alama “Semprot” Pemerintahan JOEL: Jangan Jadikan Janji Pemekaran Kampung Sebatas Obat Bius Politik
Pemuda Alama “Semprot” Pemerintahan JOEL: Jangan Jadikan Janji Pemekaran Kampung Sebatas Obat Bius Politik
TIMIKA, PAPUA TENGAH Tribunnusantara-web.id — Bara kekecewaan mulai menyala dari wilayah pedalaman Mimika. Tokoh-tokoh muda Distrik Alama kini angkat suara dengan nada keras, menagih janji pemekaran kampung yang dulu dielu-elukan Pemerintahan JOEL saat berburu dukungan politik rakyat.18/05/2026
Mereka menilai, jargon “membangun dari kampung ke kota” perlahan kehilangan makna jika sampai hari ini masyarakat pedalaman masih dipaksa hidup jauh dari pelayanan pemerintahan, pendidikan, kesehatan, hingga akses pembangunan dasar.
Tokoh Pemuda Alama, Jhon Aim, bersama Alberto Magal, Arry Yupini, Juel Yanampa, dan Andereas Jita, secara terbuka memperingatkan pemerintah agar tidak menjadikan rakyat kecil sekadar tangga politik menuju kekuasaan.
“Jangan datang bawa janji saat kampanye, lalu setelah duduk rakyat pedalaman dilupakan. Kami bukan alat politik musiman. Kami menagih janji itu sekarang juga,” tegas Jhon Aim.
Menurut mereka, pemekaran kampung bukan proyek pencitraan, melainkan kebutuhan mendesak demi memutus rantai keterisolasian masyarakat pedalaman Mimika yang selama ini merasa hanya dijadikan penonton pembangunan.
Mereka menilai pemerintah terlalu sering bicara soal pembangunan, tetapi lamban menghadirkan struktur pemerintahan definitif yang menjadi pintu masuk seluruh pelayanan dasar bagi masyarakat.
“Bagaimana mau bicara Mimika maju kalau rakyat di pedalaman masih jauh dari kantor pemerintah, jauh dari layanan kesehatan, dan jauh dari perhatian negara? Ini ironi besar,” katanya tajam.
Para pemuda juga menyentil keras pemerintah daerah agar tidak terus berlindung di balik alasan administrasi dan birokrasi, sementara masyarakat terus hidup dalam ketidakpastian pelayanan.
Menurut mereka, banyak wilayah di Mimika sebenarnya sudah memenuhi syarat pemekaran, mulai dari jumlah penduduk, luas wilayah, potensi ekonomi, hingga batas tanah adat yang telah disepakati masyarakat.
Namun hingga kini, realisasi yang dijanjikan belum juga terlihat jelas.
“Kalau slogan ‘bangun dari kampung ke kota’ hanya berhenti di baliho, spanduk, dan pidato seremonial, maka itu adalah pengkhianatan terhadap harapan rakyat kecil,” semprot Jhon Aim.
Mereka mendesak Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Kampung (DPMK) Mimika segera turun ke lapangan melakukan verifikasi dan memulai proses pemekaran kampung baru, khususnya di wilayah pedalaman seperti Alama yang dinilai sangat layak dimekarkan.
Para pemuda Alama menegaskan, mereka akan terus mengawal pemerintahan JOEL dan memastikan seluruh janji politik kepada masyarakat tidak berakhir sebagai arsip kampanye tanpa realisasi nyata.
“Rakyat pedalaman sudah terlalu lama diberi harapan. Sekarang waktunya pemerintah membuktikan keberpihakannya, bukan terus menjual mimpi kepada rakyat,” tutup mereka.
"Pemburu Korup"








































Komentar via Facebook