Pemuda Muhammadiyah Apresiasi Langkah Cepat Gubernur Maluku Redam Konflik Danar

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 29 Maret 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Pemuda Muhammadiyah Apresiasi Langkah Cepat Gubernur Maluku Redam Konflik Danar

Langgur, TribunNusantara.web.id | Aroma kayu terbakar dan sisa-sisa ketegangan masih terasa di Ohoi Danar, Kabupaten Maluku Tenggara, ketika Gubernur Maluku menapakkan kaki di lokasi yang beberapa waktu sebelumnya menjadi titik bentrokan warga. Kehadiran orang nomor satu di provinsi itu dinilai sebagai pesan tegas: negara hadir saat masyarakat dilanda kegamangan.

Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PD PM) Kabupaten Maluku Tenggara, Rahmat H. Reliubun, menyampaikan apresiasi atas langkah cepat tersebut. Menurut dia, keputusan gubernur untuk turun langsung ke lapangan bukan sekadar agenda simbolik, melainkan bagian dari upaya meredam ketegangan yang sempat mengeras di tingkat akar rumput.

“Kami memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Bapak Gubernur Maluku yang telah menunjukkan kepemimpinan yang responsif. Langkah turun lapangan ini bukan sekadar seremonial, tapi merupakan bentuk dukungan psikologis bagi warga Danar yang terdampak bentrokan. Kehadiran beliau adalah sinyal kuat bahwa perdamaian adalah prioritas utama kita semua,” ujar Rahmat di Langgur, Ahad, 29 Maret 2026.

Bentrokan yang terjadi sebelumnya sempat memicu kekhawatiran meluasnya konflik antarkelompok. Dalam situasi semacam itu, kata Rahmat, kehadiran pucuk pimpinan daerah memiliki makna strategis. Ia menyebutnya sebagai “jemput bola” yang efektif untuk mendinginkan suasana dan membangun kembali rasa percaya masyarakat.

Pemuda Muhammadiyah menilai, dialog terbuka yang dilakukan gubernur bersama tokoh adat, tokoh agama, dan perwakilan pemuda menjadi langkah awal yang tepat untuk menggali akar persoalan. Pendekatan persuasif dinilai lebih relevan dalam konteks masyarakat Maluku Tenggara yang kuat dengan ikatan adat dan nilai kekerabatan.

“Masalah sosial di daerah seperti ini tidak cukup diselesaikan dengan pendekatan keamanan semata. Perlu ruang dialog yang jujur dan terbuka agar tidak ada prasangka yang tersisa,” kata Rahmat.

Meski mengapresiasi respons cepat pemerintah provinsi, Pemuda Muhammadiyah juga menekankan pentingnya langkah lanjutan agar stabilitas tidak hanya bersifat sementara. Mereka mendorong pemerintah segera melakukan pendataan kerugian materiil dan menyalurkan bantuan rehabilitasi serta rekonstruksi secara tepat sasaran.

Di sisi lain, organisasi kepemudaan itu meminta aparat penegak hukum tetap menjalankan proses hukum secara adil dan transparan terhadap pihak-pihak yang terbukti memicu konflik. Penegakan hukum, menurut Rahmat, menjadi fondasi penting untuk mencegah siklus balas dendam di kemudian hari.

Tak kalah penting, Pemuda Muhammadiyah mengusulkan pembentukan forum dialog rutin antar-pemuda desa. Forum ini diharapkan menjadi ruang temu lintas komunitas untuk memperkuat semangat persaudaraan yang berakar pada nilai-nilai lokal, termasuk falsafah Larvul Ngabal yang selama ini menjadi pedoman hidup masyarakat Kei.

“Perdamaian bukan hanya soal berhentinya bentrokan, tetapi bagaimana kita merawat hubungan sosial setelahnya. Generasi muda harus berada di garda terdepan untuk memastikan konflik seperti ini tidak terulang,” ujar Rahmat.

Di tengah upaya pemulihan, harapan akan stabilitas permanen kini bertumpu pada konsistensi semua pihak: pemerintah, aparat, tokoh adat, dan masyarakat. Di Danar, luka mungkin belum sepenuhnya sembuh, tetapi sinyal rekonsiliasi mulai menemukan jalannya.