Penembakan Warga Sipil di Tembagapura Kembali Tampar Negara, Aktivis: Papua Bukan Medan Perang!

Avatar photo

Tribun Nusantara

, 08 Mei 2026

facebook share twitter share line share telegram share wa copy

Penembakan Warga Sipil di Tembagapura Kembali Tampar Negara, Aktivis: Papua Bukan Medan Perang!

Penembakan Warga Sipil di Tembagapura Kembali Tampar Negara, Aktivis: Papua Bukan Medan Perang!

TIMIKA, Tribunnusantara-web.id Aktivis kemanusiaan Deby Santoso mengecam keras penembakan terhadap warga sipil di Tembagapura yang kembali menambah daftar panjang korban konflik berdarah di Papua.08/05/2026

Menurut Deby, insiden tersebut bukan sekadar tragedi kemanusiaan biasa, melainkan bukti nyata bahwa negara masih gagal menghadirkan rasa aman bagi rakyat sipil di tanah Papua.

“Papua ini wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, bukan medan perang yang setiap saat rakyat sipil harus hidup dalam ketakutan,” tegas Deby.

Ia menilai pendekatan keamanan yang selama ini diterapkan justru terus melahirkan luka baru, trauma baru, dan pengungsian baru di tengah masyarakat.                    

Karena itu, Deby mendesak pemerintah pusat dan aparat penegak hukum berhenti menggunakan pola penanganan konflik yang dinilai represif dan tidak menyentuh akar persoalan.

Deby meminta aparat mengusut tuntas kasus penembakan tersebut secara transparan, terukur, dan adil tanpa ada upaya menutup-nutupi fakta di lapangan.                                

Ia juga menyoroti nasib warga yang mengungsi akibat konflik namun kerap luput dari perhatian negara.

“Jangan hanya sibuk bicara stabilitas keamanan, sementara rakyat kecil terus menjadi korban.            

Negara wajib hadir melindungi warga, bukan membiarkan rakyat hidup dalam bayang-bayang peluru,” katanya keras.

Ia juga memperingatkan bahwa kekerasan demi kekerasan di Papua hanya akan memperdalam ketidakpercayaan masyarakat terhadap negara jika tidak dibarengi pendekatan kemanusiaan dan pembangunan yang nyata.

Menurut Deby, tugas negara hari ini bukan sekadar mengirim aparat bersenjata, tetapi bagaimana membawa orang Papua dan seluruh masyarakat yang hidup di Papua agar memahami, merasakan, dan mencintai Indonesia melalui keadilan, pembangunan, pendidikan, kesehatan, serta pemberdayaan ekonomi yang merata.

“Jangan berharap rakyat percaya pada negara kalau yang mereka lihat hanya konflik, darah, dan ketakutan. Papua butuh keadilan dan kemanusiaan, bukan sekadar operasi keamanan,” pungkasnya.

(*****)